Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Jalan Tengah Bukan Jalan Pintas

Jalan Tengah Bukan Jalan Pintas

Ada saja yang kita saksikan setiap hari dalam kehidupan ini sesuatu yang seseorang terpaksa membuat pilihan. Diantara pilihan itu tentu kadang kita harus mengorbankan perasaan yang kita miliki karena dua duanya menurut kita merupakan sesuatu yang penting. Nah diantara dua pilihan itulah kita dituntut untuk mengambil jalan tengah atau jalan pintas.

 

Tradisi seseorang menentukan makna sebuah pilihan.  Dijepang ada sebuah tradisi ” harakiri ” bagi siapapun yang sudah melakukan perbuatan yang merugikan diri atau orang lain,  atau dia tidak mampu mengemban suatu amanah. Ketika orang jepang merasakan suasana diatas maka dia akan melakukan bunuh diri. Suatu perasaan malu akibat merasa diri bersalah. Bagi saya ” harakiri ” merupakan sebuah jalan tengah untuk menyelamatkan diri dan keluarga akibat perasaan bersalah si pelaku harakiri.

 

Berbeda lagi dengan kasus bunuh diri seseorang akibat dia melakukan sebuah kesalahan,  lalu dia takut mempertanggung jawabkan. Atau pada kasus seseorang tidak kuat merasakan  beban hidup yang berkepanjangan,  lalu dia melakukan hal hal yang bisa mencelakakan dirinya. Bunuh diri merupakan jalan pintas atas ketidak mampauan menghadapi suasana perasaan  dirinya .

 

” Harakiri ” dan ” Bunuh diri ” merupakan dua perbuatan  yang substansinya sama,  namun latar belakang yang menyebabkan terjadinya  perbuatan itu berasal suatu rasa yang berbeda. Pendidikan dan budaya seseorang menentukan kadar perbedaan sebuah penyebab kejadian.

 

Pernahkah  anda mendengar ” Kisah berbalut asmara ” Ken Dedes dan Ken Arok?.  Pembunuhan atas Tunggul Ametung merupakan jalan pintas agar Ken Arok bisa mempersunting KenDedes. Berbeda lagi dengan ” Kisah Perang Bubat “, Ketika prabu siliwangi dengan segala kekuatannya berangkat membawa seserahan sang putri Dyah Pitaloka kepada kerajaan majapahit untuk  diperistri sang Raja, perjalanan  menuju Majapahit dalam rangka menikahkan putrinya  dengan Sang Raja yang kemudian berakhir dengan peperangan,  merupakan jalan tengah untuk menghindari peperangan yang menimbulkan banyak kerugian dan korban. Meski pada akhirnya sang putripun harus merelakan  dirinya menjemput  kematian sebagai sebuah pilihan

 

Nah kawan… Meniti hidup itu berarti kita sedang meniti sebuah perjalanan. Seringkali ketika berjalan  perasaan  kita bisa muncul sebuah penilaian  terhadap sesuatu yang kita lihat.  Ketika kita memcoba memasuki persoalan yang kita lihat,  maka kita suka tidak suka dituntut  untuk  ikut terlibat memecahkan  persoalan itu. Keterlibatan kita dalam  hal mencari solusi kadang dituntut  untuk mencari jalan tengah atau jalan pintas.

 

Jalan tengah adalah sebuah strategi  dimana kita harus menempatkan  diri pada posisi yang tepat,  sehingga dalam jalan tengah akan terbangun sebuah perasaan ” I am ok,  You are ok “.  Sebaliknya jalan  pintas adalah sebuah perasaan bagaimana kita harus memenangkan pertarungan,  pola yang terbangun dalam jalan pintas biasanya adalah ” I am ok,  you are not ok ” atau ” I am not ok,  you are ok “.

 

Karakter yang dibangunpun dalam dua pilihan diatas juga berbeda,  pada ” jalan tengah ” terkandung nilai bijak,  tidak merugikan satu sama lain,  santun dan dalam bahasa jawa bisa diartikan  sebagai ” menang tanpa ngasorake ” dan ” nglurug tanpo bondo “. Sehingga pada jalan tengah, sebaliknya pada pilihan  ” jalan pintas  ” seringkali terbangun keinginan  secepatnya menyelesaikan masalah,  ada ketidak sabaran serta adanya rasa kecewa karena ada yang merasa dikalahkan.

 

Nah …pada akhirnya  ” Jalan Pintas  ” dan ” Jalan tengah  ” merupakan sebuah cara bagaiman kita bisa mengatasi sebuah persoalan. Berne dalam  transaksional analysis mengatakan komunikasi tidak hanya sekedar kita bertukar informasi,  tapi komunikasi itu adalah sebuah transaksi. Nah didalam semangat transaksi sejatinya kalau diatur dalam norma maka ada ketentuan ketentuan yang harus dianut. Ibaratnya dalam sebuah transaksi perdagangan barang,  nabi menyebutkan syarat halal sebuah trabsaksi dilakukan,  yaitu :  harus jujur dan tidak merugikan orang lain,  terutama pembeli.

 

Anda sebagai pendidik juga kadangkala bisa melakukan  sesuatu yang  disebut dengan jalan tengah atau jalan pintas. Dikelas tentu kemampuan siswa kita berbeda satu sama lain. Seringkali kita mengalami hambatan membimbing murid kita menuju ketercapaian hasil belajar. Sebagai seorang professional, bila anda menggunakan strategi pembelajaran  yang melayani semua dan menyenangkan serta menentukan target capaian yang berbeda satu sama lain,  maka anda sedang memilih jalan tengah.  Sebaliknya  ketika anda mengalami hambatan proses  pembelajaran,  lalu anda membantu mengerjakan tugas muridnya  atau anda memberi pekerjaan rumah agar dalam pengerjaan tugasnya siswa bisa dibantu orang tuanya,  maka anda sedang menjalankan  ” jalan pintas ” atas profesi anda.

 

Masalah terbaru yang saat ini ada,  tentang perubahan nama jalan  di Surabaya,  yang  juga sekarang  menimbulkan pro dan kontra dalam  masyarakat.  Alasan Gubernur mengapa perlu dibuat nama jalan baru dijalan Dinoyo dengan nama  jalan sunda dan jalan Gunung Sari dengan nama  jalan Prabu Siliwangi. Alasan Gubernur adalah rekonsiliasi,  menghapuskan  dendam  lama akibat sejarah masa lalu perang bubat. Sebaliknya warga ada yang menolak,  karena mereka  beralasan bahwa nama bama ini mempunyai  sejarah yang tidak bisa dipisahkan,  belum lagi dampak administrasi dari perubahan itu. Nah kalau semangat kita mencari jalan tengah,  maka kita akan duduk bersama mencari solusi atas dua hal yang terjadi berlawanan tersebut.  Semangatnya tentu membangun sebuah pola transaksi yang ” I am ok dan You are ok “. Kalau semangat kita adalah menang atau kalah,  maka pilihan kita adalah ” Jalan Pintas ” dan tentu ada yang harus dikalahkan.

 

Semoga Allah memberkahi kita dengan hati yang lapang serta sikap bijak dan jujur dalam bertindak.

 

” Ya Allah  tujukilah kami  jalan Mu yang lurus,  Jalan orang  orang yang Engkau ridhoi,  bukan jalan orang orang yang Engkau sesatkan ” ( Q. S Al Faateha  ).

 

 

Penulis : Isa Ansori

 

Pegiat pendidikan yang memanusiakan,  Sekretaris Lembaga  Perlindungan  Anak Jatim dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top