Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Asessor Yuk… Belajar Dari Juru Foto dan Penjual Sate

Asessor Yuk… Belajar Dari Juru Foto dan Penjual Sate

Saya hari ini berada dalam sebuah majelis yang bertajuk ” resertifikasi asessor “. Majelis ini memberikan bekal agar dalam melakukan layanan, asessor mempunyai kompetensi yang memadai. Kompetensi itu menyangkut pengetahuan dan pemahaman bagaimana membuat penilaian berdasarkan fakta fakta yang dilihat dan memberikan dorongan agar ada perbaikan terhadap hal hal yang dianggap kurang. Sehingga saya membayangkan profesi ini merupakan perpaduan profesi juru foto dan penjual sate.

Juru foto merupakan profesi menyajikan berdasarkan fakta fakta dari sudut pandang yang dia lihat. Sehingga fakta yang ada bisa saja kelihatan lebih baik dari yang sebenarnya atau juga lebih jelek atau juga sesuai dengan fakta yang ada.

Seorang juru foto bisa saja menjadikan sesuatu yang dia potret menjadi lebih baik atau lebih jelek berdasarkan sudut pandang yang dia pilih. Atau juga dia bisa memotret sebuah object apa adanya. Asessor juga seperti itu, dia bisa memotret sebuah lembaga sekolah apa adanya sesuai dengan fakta, atau juga dia bisa melebihkan sesuatu melebihi apa yang terlihat, bergantung dari sudut pandang dan perasaan seperti apa ketika dia melakukan visitasi.

Tukang sate merupakan sebuah profesi bagaimana dia melayani para pembelinya dengan cara membuat olahan bumbu dan sate lalu dibakar dan setelah matang diberikan kepada pembelinya. Dia akan mengipasi api agar tetap menyala dan menjaga sate agar matang dengan baik. Asessor juga begitu dia harus ” mengipasi ” semangat sekolah agar tetap menyala, meski masih banyak kekeurangan. Tugas asessor memprofokasi sekolah agar tetap optimis dan bersemangat melayani masyarakat, harapannya agar sekolah semakin matang dalam melayani pendidikan kepada masyarakat.

Asessor dalam benak saya merupakan perpaduan antara juru foto dan tukang sate. Mengapa? Asessor harus mampu menangkap realitas sekolah dan memotretnya. Dalam memotret seorang asessor bisa saja melihat sebagai sebuah kesempatan untuk memprofokasi sekolah agar menyajikan layanan pendidikan yang matang.

Layanan pendidikan yang matang itu dalam standar nasional pendidikan kita tertuang didalam ketentuan yang disebut dengan 8 Standar Nasional Pendidikan. Layanan pendidikan disebut matang kalau dalam pelaksanaannya memenuhi ketentuan standar yang sudah ditentukan.

Nah tugas kita sebagai asessor bagaimana menjadikan sekolah dan guru bisa menjadikan layanannya menjadi matang dan tentu nikmat ketika dirasakan. Semoga saja, sebagai asessor kita bisa lebih banyak belajar dari profesi juru foto dan penjual sate serta sekaligus bisa meramunya menjadi sajian terbaik untuk masyarakat.

Assalammualaikum wr wb, selamat berkarya dan berbuat baik untuk pendidikan anak anak kita.

Surabaya, 20 Juli 2018

M. Isa Ansori

Penulis dan peserta resertifikasi asessor Jatim, staff pengajar fisip ilmu komunikasi untag 1945 Surabaya

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top