Anda berada di :
Rumah > Pendidikan > Keterdidikan dan Kegelapan Jiwa

Keterdidikan dan Kegelapan Jiwa

Jum’at, 3 Agustus 2018, bertempat di aula Dinas Kesehatan Tuban, saya mendapatkan kesempatan mendampingi sahabat sahabat dokter yang bertugas sebagai kepala kepala Puskesmas di kecamatan. Para dokter itu membuktikan pengabdiannya melayani kesehatan warga desa. Jangan bayangkan keberadaan puskesmas didesa sebagaimana anda yang tinggal di kota kota besar. Puskesmas di Tuban sangat berjarak satu dengan yang lainnya. Saya kira hal yang sama juga terjadi dibeberapa daerah kabupaten yang lainnya.

Hal yang peling mengagumkan adalah meski posisi mereka adalah paramedis dan jabatan mereka rata rata adalah kepala Puskesmas, tapi semangat mereka untuk maju dan belajar sangatlah luar biasa. Mereka tak segan untuk berbagi pengalaman kebaikan dalam layanan kesehatan didesa, bahkan mereka sanggup bertahan dan terlibat dalam diskusi mencari jalan keluar bagi layanan kesehatan yang baik.

Pengabdian yang mereka lakukan sangatlah tulus dan bahkan bagi mereka jabatan yang mereka emban sekarang ini bukanlah sesuatu yang mereka harapkan, mereka katakan jabatan sebagai kepala puskesmas bagi mereka adalah jabatan yang salah pilih orang. Dialog saya dengan mereka menyiratkan sebuah pesan bahwa mereka hanya pingin berbagi dan melayani.

Sebagai pendamping, saya bertugas membantu mereka menemukan potensi yang dianggap berbeda sebagai bekal untuk melakukan ” self branding ” terhadap profesi yang sedang mereka jalani. Saya tidak bisa membayangkan bahwa saya berhadapan dengan orang orang hebat yang tentu kemampuan mereka melebihi apa yang saya pahami. Sayapun memutuskan dalam sesi saya, bahwa saya ingin banyak belajar dari mereka.

Namun dugaan saya sangat keliru, ternyata dengan kesadaran keterdidikan yang mereka miliki, semangat mereka untuk menyerap pemahaman pemahaman yang saya siapkan tentang ” self branding ” sangat luar biasa. Semangat luar biasa para dokter itupun menyemangati saya untuk lebih banyak mengeksplorasi apa yang mereka miliki dan membantu merangkainya menjadi sesuatu yang berbeda. Energi para dokter menjadi energi positif bagi saya untuk kemudian melebur menyatu dalam spirit belajar bersama.

Saya teringat kemudian pada sabda kanjeng Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa manusia itu semuanya dilahirkan dalam keadaan ” fitrah ” , hanya lingkungan atau orang tuanya yang kemudian menjadikan mereka itu menjadi majusi maupun nasrani. Saya memahaminya sebagai lingkunganmu, dengan siapa anda bergaul menentukan seperti apa jalan pikiran dan perilaku yang anda tampilkan. Ini juga yang kemudian bisa memberi gambaran awal tentang dengan siapa kita berhadapan. Kalau orang suka mencurigai seseorang dengan menduga seseorang telah berbuat curang, bisa diduga bahwa orang tersebut adalah pelaku kecurangan, sehingga dia terpengaruh dengan jalan lakunya sendiri. Dalam banyak hal perilaku yang ditampilkan adalah pengaruh pengalaman masa lalunya yang tersimpan rapi dialam bawah sadarnya.

Keterbelakangan membuka jiwa menyebabkan kondisi jiwa menjadi gelap, tak mampu menerima pendar cahaya. Kegelapan menjadi jubah kesombongannya. Lakunya menjadi liar dan semakin terlihat kebodohannya. Betapa banyak kita lihat garak laku yang seolah paling hebat tapi nyatanya tak mampu berbuat ketika dihadapkan pada kejadian sebenarnya. Teriakannya paling lantang tapi ketika dimanahi menjembatani sebuah masalah tak berdaya.

Hidup itu ibaratnya seperti kita bermain puzzle. Terikat oleh sebuah aturan yang baku antara satu dengan yang lainnya. Untuk bisa menjadi sempurna kita butuh orang lain. Sehingga kita tak bisa melepaskan diri dari keterikatan dengan orang lain. Jadi hanya yang berpikiran bodohlah yang selalu memelihara kecurigaan dan kebencian terhadap orang lain.

Akhirnya sayapun bersyukur ketika saya dipertemukan dengan orang orang hebat disekitar saya yang mengajari saya menjalin keterikatan dengan merajut energi positif yang berserakan diantara kita. Pertemuan saya dengan mereka yang membuka diri dengan orang orang hebat sekarang ini memberi kekuatan untuk saling merajut pertemanan dengan kekuatan bijak dan terencana.

Semoga kita semua bisa dihindarkan dari kebodohan dan kegelapan jiwa, semoga juga jiwa kita diberi kekuatan menjalankan kebaikan dan kenjujuran, sehingga kita dibebaskan dari pikiran tak baik.

” Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ” (QS. Al-Baqarah[2]:257)

“ Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab[33]:43)

Assalamualaikum wr wb, selamat pagi, selamat berbagi kebaikan, semoga jiwa kita dimerdekakan dari kegelapan dan mampu memendar energi positif… Aamien.

Surabaya, 4 Agustus 2018

M. Isa Ansori

Pegiat sosial dan perubahan perilaku, pengajar di Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 dan STT Malang

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top