Anda berada di :
Rumah > Komunitas > Santri Ponpes Al-Muniroh Ngaji dan Bagi Takjil Ditengah Laut Untuk Nelayan

Santri Ponpes Al-Muniroh Ngaji dan Bagi Takjil Ditengah Laut Untuk Nelayan

Gresik – Menanti datangnya beduq mahgrib dibulan rhamadan, atau lebih familier dengan istilah “Ngabuburit” bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Dengan jalan – jalan santai, ditempat – tempat wisata, mall – mall, pujasera atau di pusat jajanan adalah hal yang sudah lumrah dilakukan oleh semua orang.


Namun bagi santri Pondok Pesantren Al-Muniroh Ujungpangkah kabuipaten Gresik ini, melakukan hal yang berbeda dengan. Ngabuburit di laut, sambil ngaji dan berbagi Takjil untuk berbuka bagi nelayan yang mencari ikan. (10/6/2017)
Selepas sholat Ashar mereka berangkat, dengan dua bua perahu sekitar 20 santri Pondok Al-Muniroh ini mengawali kegiatan dengan berdoa sebelum menaiki perahu yang akan membawa mereka ke tengah laut. Perahu lantas menyusuri sungai bengawan solo yang bermuara di laut jawa.


Sepanjang perjalanan para santri di dua perahu itu mengaji, membaca sholawatan dan membaca kitab kuning secara bergantian, hingga perahu sampai pada muara sungai bengawan solo. Di muara tersebut kedua perahu berhenti sambil menunggui menjelang beduq mahgrib tiba dan membagikan Nasi Kotak dan air mineral untuk mereka para nelayan yang pulang dari tengah laut.


Pembagian Takjil dan Nasi kotak ini dilakukukan karena setiap hari terlihat para nelayan pulangnya lewat waktu mahgrib sehingga kemungkinan kecil mereka bisa menikmati berbuka dengan Nasi.
Ustad Kurdi Muhammad pengurus Pondok Pesantren Al-Muniroh yang memimpin kegiatan tersebut mengatakan, bahwa hari ini dia ingin memberikan pembelajaran melalui sarana dan metode yang berbeda.
“ini merupakan sarana pembelajaran langsung bagi para santri, yaitu santri lebih dekat dengan alam. Dan belajar memaknai kehidupan lewat laut, betapa Allah Maha segalanya dengan semua ciptaan yang ada, termasuk dilaut.” Terang Ustad Kurdi.

Dia menambahkan, Di beberapa hadist dan riwayat banyak disebut tentang lautan dan dunia ini tujuh puluh persen terdiri dari lautan. Laut adalah tempat yang indah, namun lautan juga sebagai simbul kehidupan dan simbul kematian. Orang yang mati itu seperti orang yang tenggelam didalam lautan dan mengharap doa dari sanak keluarganya untuk menyelamatkan dia tenggelam dari lautan.


“ disamping Ngabuburit , dan Ngaji kitab kuning kita juga memberikan takjil dan nasi kepada nelayang yang pulang maupun yang mau berangkat sekedar untuk berbuka puasa” imbuh Kurdi.
Setelah membagi – bagi Takjil dan Nasi kepada para nelayan, mereka para santri melakukan sholat mahgrib diatas perahu secara bergiliran. Sembari santri yang lain menikmati hidangan berbuka puasa seadanya diatas perahu. Setelah selesai sholat perahu kembali menyusuri sungai bengawan solo untuk pulang ke Pondok Pesantren Al-Muniroh. (shol)

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top