Anda berada di :
Rumah > Hukum > Balang “Jumroh” Untuk Penghancur Rumah Bung Tomo

Balang “Jumroh” Untuk Penghancur Rumah Bung Tomo

Surabaya – Tak kunjung jelasnya persoalan penghancuran Rumah radio Bung Tomo Jalan Mawar 10 sampai hari ini, mendorong Komunitas Bambu Runcing Surabaya ( KBRS ) untuk melakukan aksi peringatan lagi. Aksi itu dimaksudkan untuk mengingatkan para pihak yang terlibat penanganan penghancuran rumah radio tersebut agar serius dan tidak main – main.
Aksi yang bertajuk “ Balang Jumroh “ dilaksanakan pada hari ini Jum’at, 13 januari 2017, pukul 13.00 – 16.00. Aksi ini akan dimulai dari lokasi Rumah Radio Bung Tomo, Jalan Mawar 10, bangunan yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan keputusan walikota Surabaya No 188.45/004/402.2.04/1998, setelah itu bergeser ke PT Jayanata sebagai pihak pembeli bangunan cagar budaya tersebut yang kemudian terjadi penghancuran, lalu menuju ke gedung DPRD Surabaya dan terakhir ke rumah dinas walikota Surabaya.
Aksi tersebut diikuti oleh 100 orang dari berbagai elemen masyarakat Surabaya yang peduli terhadap nilai – nilai kepahlawanan.
Di mulai dengan berdoa didepan Rumah Radio Bung Tomo yang akan dipimpin oleh ustadz Zainal, Tokoh agama dari Kenjeran Surabaya. Setelah berdoa memohon keselamatan dan memohon agar para pihak yang terlibat penghancuran serta penyidikan agar menyadari bahwa mereka diberi kesadaran dan hidayah agar menyadari kesalahannya dan tidak main – main terhadap warisan nilai nilai kepahlawanan bangunan ini.


Setelah berdoa, dilanjutkan dengan melakukan ritual Balang Jumroh di tiga tempat lanjutan. Dalam ritual itu akan dipimpin oleh Hasanudin Sakera dengan urutan aksi kegiatan berdoa di depan Jayanata, lalu menabur tanah makam Bung Tomo disekitar area Jayanata, pembakaran dupa, tabur bunga, beras kuning, pecah kendi sebagai simbol kematian, serta diakhiri dengan doa pengingat agar mereka menyadari kesalahannya. Hal yang sama akan dilakukan di Gedung DPRD serta rumah dinas walikota Surabaya.
Wawan willy sebagai sebagai koordinator aksi menyampaikan “aksi ini bukan aksi yang main – main, kami serius akan mengawal terus kasus penghancuran rumah radio Bung Tomo” Katanya.
Masih Kata Wawan penggunaan tanah makam Bung Tomo dalam aksi ini menunjukkan bahwa kami menagih janji keseriusan pemerintah Kota Surabaya yang waktu itu mendatangi ibu Sulistina sebelum beliau wafat, saat itu walikota Risma berjanji akan mengembalikan bangunan tersebut. Kami berharap aksi ini akan mengingatkan semua pihak yenag terlibat untuk segera memberi kepastian tentang Rumah radio Bung Tomo. Kami mendesak Jayanata, DPRD Surabaya dan Walikota Surabaya untuk meminta maaf atas tragedi penghancuran Rumah ini. Kami juga mendesak kepada kepolisian dan PPNS Surabaya agar segera mempublikasikan hasil penyidikannya, jangan ada yang bermain – main terhadap kasus ini.
Sementara Yanto banteng, dari masyarakat peduli cagar Budaya yang juga berprofesi sebagai tukang becak, menghimbau Kepada seluruh warga Surabaya, agar bersama – sama bergandeng tangan untuk menyelamatkan simbol kepahlawanan arek – arek Suroboyo, kalau bukan kita sebagai arek Suroboyo,
“siapa lagi yang akan kita harapkan untuk menjaga nilai – nilai kepahlawanan ini, agar ke depan tidak ada lagi penghnacuran warisan budaya yang bernilai sejarah dan nasionalisme “ Kata Yanto dengan penuh semangat.

Dalam aksi yang dilakukan tersebut, Sempat terjadi insiden didepan rumah dinas walikota, dimana mana massa yang sedianya mau ke jalan sedap malam, jalan ditutup oleh linmas dan satpol PP. Massa bergeser ke depan rumah kediaman di walikota mustajab yang merupakan arus utama.
Saat aksi, Yanto Banteng menaiki pagar rumah kediaman sambil berorasi dan meneriakkan pekik merdeka dan kembalikan Rumah Radio Bung Tomo. Irvan, Kasatpol PP, meminta yanto untuk turun, namun permintaan itu tidak dihiraukan, sehingga sempat bersitegang dan saling dorong. Saat
Wawan sebagai koordinator aksi mengatakan, “biarlah kami yang mengatur massa, silahkan polisi dan satpol PP mundur. Kami tidak anarkhis, biarkan massa kami yang mengatur” teriak Wawan
Akhirnya massa bergeser ke Jalan sedap malam dan di Kantor Pemkot, sambil melempar tanah makam bung tomo, beras kuning, bakar kemenyan, lempar koin dan bubba kematian (ril/Isa)

 

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top