Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Merawat Jiwa Berqurban

Merawat Jiwa Berqurban

Sejenak kita merasakan keheningan dan kekhusyukan saudara kita yang sedang berwukuf di Arafah, mereka semua larut dalam sebuah keharuan jiwa bersama Sang Pencipta. Hamparan kain putih terselempang mengajak pikiran membayang kelak semua manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan.

Kekhusyukan padang Arafah membuncah seolah kilatan cahaya akan sebuah parade di padang Mahsyar, nampak segolongan manusia berbaris dengan membawa catatannya masing masing. Kalimat takbir dan tahmid serta tahlilpun bergema diantara keriuhan barisan manusia,

Labbaik Allahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innal hamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikala

Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu.

Tentu tak terbayangkan betapa besar pengorbanan mereka untuk bisa memenuhi panggilan Tuhan Sang Pencipta, mereka berdatangan dari berbagai penjuru negeri tak mengenal lelah dan henti, hanya terbersit sebuah keinginan memenuhi panggilan Sang Ilahi. Mengapa mereka bisa seperti itu?

Tauladan besar dalam merawat jiwa berkorban tak lain adalah sang pembawa risalah kenabian dan bapak para nabi, Nabi Ibrahim alaihi salam. Betapa luar biasanya pengorbanan Nabi Ibrahim dalam memenuhi panggilan Allah.

Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim sebagaimana ditulis oleh Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Saiful Millah yang dimuat didalam Republika.co.id, Dalam karya sufi diceritakan, setelah Nabi Ibrahim bermimpi bahwa ia harus menyembelih anak satu-satunya, Ismail, dan setelah diyakini kalau mimpinya itu adalah perintah Allah, maka Ibrahim pun menyampaikan pesan yang diperolehnya itu kepada anaknya sekaligus meminta pendapatnya. Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan-Nya, jawab Ismail pasrah. Lebih jauh Ismail mengatakan, kalau ayah mau menyembelihku, maka kuatkanlah ikatan itu supaya darhaku nanti tidak muncrat sehingga bisa mengurangi pahalaku. Tetapi ayah, aku pun tidak menjamin bahwa aku tidak akan merasa gelisah bila dilaksanakan.

Oleh karenanya, tajamkan pisau itu supaya dapat memotong aku sekaligus. Dan bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkanlah aku. Aku khawatir, bila ayah melihat wajahku akan menjadi lemah sehingga akan menghalangi maksud ayah menjalankan perintah Allah. Bahkan jika perlu, bawalah kelak bajuku yang berlumur darah itu kepada ibu (Siti Hajar) barangkali bisa menjadi hiburan.

Anakku, kata Ibrahim merespons kepasrahan total anaknya. Sikapmu itu sungguh merupakan bantuan besar untuk menjalankan perintah Allah. Maka, diikatkan kuat-kuat tangan Ismail itu, lalu Ismail pun dibaringkan untuk disembelih.

Namun, Mahabesar Allah. Ketika keduanya telah benar-benar dalam keadaan pasrah dan berserah diri secara total, ketika itu pula Tuhan memanggil Ibrahim : Wahai Ibrahim !, engkau telah melaksanakan mimpi itu, dan (dengan kekuasaan-Nya), anak bernama Nabi Ismail itu kemudian ditebus-Nya dengan seekor domba sebagai balasan atas ketaatan Ibrahim. Demikian kisah dramatik mengenai proses penyembelihan dan penebusan yang secara singkat diceriterakan Tuhan dalam Alqur’an surah Ash-shaffat mulai dari ayat 100 sampai 109.

Terkandung makana penting di balik kisah itu adalah, bahwa kurban itu adalah manifestasi dari ketauhidan seseorang yang diwuujudkan dalam bentuk pengakuan tulus bahwa tidak ada ilah selain Allah yang Mahaagung, Allah yang merupakan satu-satunya sumber kehidupan, satu-satunya sumber moralitas, bahkan satu-satunya sumber eksistensi itu sendiri.

Tidak sampai di situ, ibadah kurban juga merupakan simbol penyerahan diri secara total seorang hamba kepada Tuhannya. Tidak ada alasan bagi seorang manusia untuk tidak tunduk dan patuh terhadap apa saja yang diperintahkan-Nya, mengorbankan anaknya sekalipun.

Itulah modal aqidah yang kemudian mengkristal dalam keteguhan sikap Nabi Ibrahim sebagaimana diabadikan Tuhan dalam Alaquran Surah Al-An’am Ayat 162: ”Sesungguhnya shalatku, perjuanganku, hidup dan matiku dipersembahkan hanya kepada Allah Tuhan semesta alam”.

Terkandung makna penting lain yang ada di balik ritual ibadah kurban sebagaimana dipraktikan Nabi Ibrahim itu adalah perintah kepada manusia beriman untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagai manifestasi dari komitmen tauhid dan ketakwaanya.

Peristiwa penebusan Ismail dengan seekor domba dalam prosesi kurban, adalah simbol yang mesti dibaca bahwa Tuhan itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal sekligus menolak keras segala bentuk tindakan kekerasan yang melanggar hak asasi manusia.

Jangan lupa, hewan dalam ibadah kurban itu, juga hanyalah simbol duniawi. Makna simbolik – metaforis dibalik itu adalah perintah tegas Tuhan kepada manusia beriman untuk membuang-jauh-jauh sifat-sifat kebinatangan syang sering mewujud dalam sikap egois, narsis, termasuk sikap serakah atau rakus demi kecintaannya kepada Tuhan.

Masih dalam konteks kemanusiaan, kurban juga mesti kita baca sebagai fenomena ibadah sekaligus fenomena sejarah yang meniscayakan arti pentingnya kepedulian sosial sekaligus menolak keras segala bentuk dan praktik ketidakadilan. “Lalu makanlah dari sebagian dagingnya, dan beri makanlah (dari sebagian yang lainnya) orang fakir yang sengsara”, tegas Allah dalam Alqur’an Surah Al-Hajj ayat 28. Maka, tidak keliru kalau Imam al-Gozali menegaskan bahwa makna luhur ibadah kurban itu adalah terdistribusikannya nilai-nilai kemanusiaan.

Masih banyak pesan penting lain yang mesti dibaca dari ritual ibadah kurban sebagaimana dipraktikan Nabi Ibrahim itu. Namun, dengan itu saja cukup untuk mengeaskan bahwa terkandung makna di balik praktik ibadah kurban itu adalah panggilan bagi setiap orang beriman untuk mewujudkan apa yang disebut dengan praktik keberagamaan transformatif, praktik keberagamaan yang senantiasa menempatkan aspek ilahiah dengan aspek kemanusiaan sebagai bagian tak terpisahkan dalam menjalankan keberagamaanya.

Singkatnya, jika melalui Idul Fitri, Islam mengajarkan kepada kita tentang bagaimana manusia berinsaf diri akan takdir penciptaannya sebagai manusia yang fitrah, maka Idul Adha menjadi sebuah peristiwa yang mengajak manusia untuk berinsaf diri sebagai makhluk sosial dan bertanggung jawab terhadap realitas kemanusiaan yang ada disekelilingnya.

Di situlah pula relavansinya bagi kita umat Islam untuk bisa memelihara semangat kemanusiaan ibadah kurban itu. Lebih-lebih, banyak dari persoalan kemanusiaan yang ada di negeri kita saat ini, sebut seperti masalah kemiskinan, pengangguran, kebodohan, ketidakadilan sampai kepada maraknya tindak kekerasan yang belakangan sudah hadir menjadi hantu kemanusiaan yang begitu menakutkan itu, sesungguhnya merupakan persoalan kita, persoalan umat islam.

Nah harus disadari membangun bangsa yang besar seperti Indonesia ini tidaklah mungkin bisa dilakukan sendiri tanpa bersinergi, sehingga mengaku benar sendiri, merasa paling bisa dan paling berjuang serta tak mampu menghormati sejatinya pengingkaran dari semangat qurban yang dilakukan.

Assalamualaikum wr wb, selamat menjalankan ibadah Qurban, semoga Allah memberkahi, aamien.

Surabaya, 21 Agustus 2018

M. Isa Ansori

Penulis dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top