Anda berada di :
Rumah > Komunitas > Dongkrak PAD Sektor Pariwisata, DPRD Bersama KWG Gresik Gelar Diskusi Dengan Disbubpar Kota Bandung

Dongkrak PAD Sektor Pariwisata, DPRD Bersama KWG Gresik Gelar Diskusi Dengan Disbubpar Kota Bandung

photo : Dari kiri, Ari Astutik (Kasi Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata Kota Bandung), Sri Susiagawati (Kadis Disbuppar Kota Bandung), H. Abdul Hamid (Ketua DPRD Gresik), Muh. Safi'am (Wakil Ketua DPRD Gresik). Saat melakukan Diskusi tantang Pengolahan sektor pariwisata

Gresik Cahayapena – Dilatarbelakangi dari inginnya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gresik  dari sektor pariwisata, DPRD Gresik bersama dengan Komunitas Wartawan Gresik (KWG) lakukan studi banding ke Kota Bandung. Studi banding kali ini, bertujuan untuk mempelajari kiat suksesnya Kota Bandung dalam menata kelola sektor pariwisata sebagai sumber PAD. Dari data yang diketahui, penyumbang 30 persen APBD Kota Bandung adalah dari sektor pariwisata, nilainya hampir 1 triliun lebih. Sedangkan di Kabupaten Gresik hanya sekitar 2 milyar, itupun didapat dari sektor wisata relegi.

 

Kunjungan studi banding ini, yang diikuti oleh Ketua DPRD Gresik H. Abdul Hamid Wakil Ketua DPRD Gresik Moh. Syafi’am, Ketua Komisi II Solihuddin, KWG dan sejumlah pimpinan anggota komisi lainnya, saat itu ditemui oleh Kepala Seksi Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbubpar) Kota Bandung Sri Susiagawati dan Seksi Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata Kota Bandung Ari Astutik. Pertemuan sendiri bertempat digedung Bandung Creative Hub (BCH), Jl. Laswi nomer 5, Kacapiring, Batununggal Kota Bandung, Jum’at (09/03/18).

 

Dalam pemaparannya Sri Susiagawati menyatakan, pariwisata di Kota Bandung bisa tertata dengan baik karena Kota Bandung sebelumnya sudah membuat Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (Riparda) dan Peraturan Daerah (Perda) nomor 7 tahun 2012,tentang penyelenggaraan pariwisata dan budaya. Selain itu, ada beberapa aspek yang harus dicermati dalam menggerakkan sektor pariwisata yakni produk wisata 3H (Aksesibilitas, Amenitas, Atraksi), keterlibatan masyarakat, factor lingkungan dan kewilayahan serta ivestasi.

“ Secara umum beberapa aspek itu harus dilakuakan jika ingin mengelola sektor kepariwisataan. Akan tetapi harus diperkuat dengan keterlibatan masyarakat , stekholder terkait serta harus disuport oleh swasta dan perguruan tinggi “ paparnya.

“ Tetapi yang paling utama dan pertama harus dilakukan adalah penyadaran masyarakat sekitar dilokasi destinasi wisata. Karena ketika distinasi pariwisata itu harus didukung masyarakat, harus punya dampak positif bagi masyarakat itu sendiri, apakah mereka bisa dapat pekerjaan. Setidaknya ada multi player efek didalamnya” tambah Sri Susiagawati.

 

Photo : Penyerahan Marchandise batik Gajah Mungkur khas Gresik oleh Sekjen KWG dan DPRD Gresik kepada Disbubpar Kota Bandung
Photo : Penyerahan Marchandise batik Gajah Mungkur khas Gresik oleh Sekjen KWG dan DPRD Gresik kepada Disbubpar Kota Bandung

 

Dalam pelaksanaannya, pemerintah Kota Bandung saat melakukan pembangunan objek pariwisata tidak terlalu mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bandung lakukan sejumlah trik untuk mengembangkan dan mengelola objek wisata. Diantaranya, dengan meminta bantuan dari pemerintah pusat dan berkerjasama dengan pihak ketiga (swasta) dengan system Build Operate Transfer (BOT). Sedangkan untuk bantuan Pemerintah Pusat sendiri, dalam memberikan bantuan pengelolahan wisata daerah ada sejumlah kreteria yang harus dipenuhi. Salah satunya, Pemerintah Daerah harus memiliki Riparda.

 

“ Untuk pembangunan fisik dengan Sistem BOT, pihak ketiga yang akan membangun dan mengelola sesuai nota kesepahaman (MOU). Setelah itu asset bisa menjadi milik Pemerintah. Tidak hanya itu  suksesnya pengelolahan pariwisata di Bandung juga tak lepas dari sinergitas dan kekompakan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. “  terangnya.

 

Sementara itu ketua DPRD Gresik H. Abdul Hamid menyatakan, studi banding ke Bandung dengan materi pengolahan objek wisata sebagai sumber PAD, karena Kota Bandung di nilai sukses dalam pengolahan objek wisata, dengan melihat penerimaan PAD dari sektor pariwisata sangatlah besar. Sementara di Kabupaten Gresik, penyumbang PAD didapat hanya dari dua wisata relegi yakni ziarah wali Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim . Padahal masih banyak sektor wisata pesisir yang belum tergarap dan bisa mendatangkan PAD dari sektor Pariwisata.

“ Objek wisata di Bandung kebanyakan berupa pegunungan , sementara Gresik adalah pesisir. Namun, dari segi  pendapatan sama dengan pendapatan pada sektor wisata di Bandung. Makanya, kami perlu belajar ke Bandung , sehingga dapat menambah PAD Gresik dari sektor wisata “ ungkapnya.

Hamid menambahkan saat ini, Pemkab Gresik berupaya mengembangkan sejumlah wisata alam dan bahari. Diantaranya, wisata alam dan bahari di pulau Bawean, bukit Surowiti di kecamatan Panceng dan pantai Delegan . Selain itu, Pemkab Gresik juga berupaya memanfaatkan eks tambang PT. Semen Indonesia sebagai objek wisata .

“ kami juga tengah berupaya untuk memanfaatkan pabrik Semen Gresik yang sudah tutup sebagai wisata industry “ pungkasnya. (Y1t/Adv)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top