Anda berada di :
Rumah > Peristiwa > Gempa

Gempa

Rasaku tersentak, menyeruak memantul syak dan gelisahku beranjak. Lombok tak berdaya sementara di Jakarta berpesta. Jakarta menebar angkara, Gempa demokrasi di Jakarta menebar kemana mana, Lombok menjadi imbasnya, alam bermuram durja dan menyapa manusia dengan senyum dan geraknya.

Sayup aku melaksa dengan senandung yang didendang bernada pilu, mengapa alam menyapa dan mengapa alam marah? Sekejap setelah itu kocoba menerawang dalam kubangan buku buku yang berkisah tentang semesta. Lembar lembar halaman aku buka dan bertemulah dalam satu firman Allah yang terpahat dalam surat Ar Ruum : 41 – 42 :

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

42. Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”

Betapa banyak kisah tentang kesudahan orang orang terdahulu akibat dari perbuatan yang dilakukan. Saat itulah aku tercenung dengan kisah dihancurkannnya Fir’aun dan Qarun akibat kenagkuhannya. Kuasanya digunakan untuk melemahkan lawan politiknya, hartanya digunakan untuk memperdayai rakyatnya. Kuasa Fir’aun dan kekayaan Qarun.

Getar miris mulai terasa dalam bayang fikir ke Ilahian yang saya bangun, bukankah hidup itu bagaikan kita bermain puzzle? Kalau ingin tertib, maka kita harus mengikuti aturan main yang ada, kalau kita bermain diluar aturan yang ada, bisa dipastikan ada sistim yang dirusak. Nah jangan jangan dalam permainan kita berdemokrasi ini ada yang rusak? Sehingga sistim demokrasi yang kita jalankan adalah demokrasi yang sudah rusak dan cenderung merusak.

Maka sejatinya ditengah kerusakan sistim sosial dan kemampuan kita bernegara, dibutuhkan keberanian dan kerelaan jiwa menjadi penjaga alam bernegara kita. Nah ketika sistem demokrasi kita sudah semakin mengeras dan ambisi kekuasaan yanga ada, maka kita perlu kita ingatkan bahwa kita butuh pemimpin, tidak butuh penguasa.

Seorang pemimpin ditakdirkan hadir untuk berkhidmad pada negara, sementara penguasa hadir untuk merampas dan menguasai dengan cara cara yang tak patut. Aroma kekerasan yang menyeruak dalam berdemokrasi kita sejatinya ancaman bagi kemertabatan dan keutuhan membangun bangsa.

Akhirnya menghadirkan sebuah alternatif pemimpin melalui persinggahan kebudayaan merupakan keniscayaan. Melalui kebudayaan akan mengasah kehalusan laku kita dalam bernegara dan berpolitik serta berdemokrasi. Sore ini dengan tajuk merayakan kembali menjadi Indonesia dan merenda aksara Nusantara merupakan upaya Keluarga besar rakyat jawa timur menyemai sinergi antar semua anak bangsa… Dirgahayu Indonesiaku

Assalammualaikum wr wb, selamat berkarya dan berbagi kebaikan

Surabaya, 6 Agustus 2018

M. Isa Ansori

Pegiat sosial dan penulis

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top