Anda berada di :
Rumah > Pendidikan > Sekolah Tanpa Pendidikan

Sekolah Tanpa Pendidikan

Oleh : Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)

AKU menyaksi sambil terpaku tanpa mampu beranjak hingga terkesan sangat berjarak. Antara sebuah cita yang agung dengan sekolah sebagai pilihan memuliakan diri, tempo hari diwarnai laku nyolong soal UNBK yang “bersenggama” dengan lembaga bimbingan belajar dalam pangkuan seorang Kepala Sekolah di Kota Surabaya. Begitulah kabar yang tersiar. Miris, perih menyayat dengan luka menganga yang membuat hati nan wajah siapa saja ndomblong tak mengira.

Situasinya semakin menggedor dalam dentum nestapa di kala negeri ini dibanjiri Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bertindak liar, bahkan brutal menyisir semua profesi. Kuli bangunan dan dagang narkoba dikontrol oleh TKA yang ujung ceritanya, seperti diberitakan banyak media melibatkan WN China. Tiongkok nama yang diperkenankan dalam bahasa yang mesti dipanggungkan.

Potret itu terhelat dalam kelambu hardiknas, 2 Mei 2018. Sebuah hari yang merupakan momentum penting untuk bercermin diri dengan menggali kembali dasar falsafati sekolah sebagai ajang pendidikan, bukan pemanggul oplosan, apalagi tabiat ngemplang uang negara yang dipertontonkan para kepala daerah yang terkena OTT KPK.

Apa yang telah diraih oleh kita semua dalam menyelenggarakan pendidikan di negeri ini? Apakah anak-anak didik telah menjadi insan yang semakin mulia akhlaknya, ataukah sekadar kerumunan manusia yang cerdas tetapi culas dalam bertindak? Hal ini dapat ditilik secara kasunyatan dari pernak-pernik kehidupan siapapun, mulai dari sosok kepala negara sampai dengan tabiat kepala keluarga. Di jantung bangku sekolah, pencurian soal ujian dapat dihelat dengan sengaja melalui rekayasa teknologi tepat guna. Pun pelakunya melibatkan petinggi sekolah negeri. Ini menampar muka para pensekolah yang tidak menghadirkan pendidikan yang bervisi penuh marwah: memartabatkan manusia dengan akhlaknya, bukan dengan kepandaian ngakalinya.

Dari penyelenggaraan UNBK setiap tahun yang terus menggelora dengan ritual sedemikian protokoler sungguh sangat menyita banyak energi. Laporan pemerintah selalu mengungkapkan peningkatan kualitas dan prestasi anak-anak didik yang semakin membaik. Unas memang menjadi kosmetika wajah dunia pendidikan kita yang terkadang tampil dengan benar-benar muram semuram-muramnya.Kejujuran sangat jauh dari sisi idealita. Kejujuran tidak lagi yang istimewa dengan produk pendidikan dengan pola ujian nasional yang menghebohkan tempo hari itu. Publik terasa mendapat suguhan ”sinetron UNBK” dalam episode yang paling ”korak” (konyol dan norak”).

Alur cerita UNBK nyolong soal tidak ada dalam skenario ”sutradara pendidikan” pada mulanya. UNBK nyelonong tanpa kendali dan ada di luar jangkaun ”titik obit” yang tercantum dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang Sisdiknas ini tidak mengamanatkan adanya UNBK yang ”ngentit soal”dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Ujian demikian oleh para pemerhati pendidikan pun pada segmennya dipahami sebagai ”langkah liar” yang dibenarkan oleh pranata rendahan untuk tidak mengatakan murahan. Apalagi UNBK di metropolitan Kota Pahlawan dibarengi pula sekolah yang ”ngutil soal”. Itu adalah kejahatan.

UNBK pastilah menyisakan berbagai potret kunyel (lusuh) pelaksanaan pendidikan nasional. Padahal; UNBK harusnya benar-benar menyuguhkan ”the new paradigm” untuk mencerdaskan dan membebaskan anak negeri dari logika strukturalis yang mengembangkan humanisme. Dalam penyelenggaraan UNBK kebanyakan sekolahan sibuk merebut angka kelulusan sebagai prestasi yang prestisius. Para petinggi pendidikan punya keyakinan kalau tingginya persentase peserta akan lulus dan di daerah-daerah lain marak ”panitia gelap” penyebar jawaban kilat.

Lho kalau sudah ditetapkan atau ditarget kelulusannya peserta UNBK, kenapa pakai ujian segala? Beri saja nilai tanpa perlu ujian dengan cara penilaian model manajemen jariyah. Atau dengan patokan yang diancangkan itu pada akhirnya banyak pihak berupaya untuk mengamankan pikiran pelaku sekolah itu dengan jalan berlomba-lomba ”menghalalkan segala macam cara” untuk meluluskan anak didik. Jadi ”pat gulipat ujian” menjadi boleh dan harus dilakukan sebagai bentuk mengamankan putusan pimpinan. .

Apa yang kemudian terpamerkan sebagaimana tahun-tahun lalu? Ada sekolah yang membentuk semacam ”Tim Sukses” untuk menjadikan peserta ujian lulus mulus. Para guru didik sibuk menjadi ”operator seluler” untuk sebar sms jawaban atau para pendidik ada yang ”mencuri-curi” lembar jawaban. Pendidik inipun pada galibnya diterima sebagai pahlawan (pahlawan tanpa tanda dusta). Maka banyak berita media tentang bocoran lembar jawaban yang merebak ke arena publik. Dalam situasi demikianlah terbukti bahwa anak didik dicekoki dan guru suka-suka menyuapi dengan ”bubur jawaban”. Kenapa ini terjadi? Adakah hal ini tercipta karena memang sekolah kita memang bukan pendidikan, dan pendidiknya ada yang bermental pendusta dan bukan kejujuran sebagai porosnya?

Adakah ini simbol lahirnya bangsa penduta? Potret kemudian yang terpampang adalah anak cengeng yang suka mengadu ke orang tua pongah yang sok kuasa. Pendidikan diintervensi “senjata kepangkatan” dan guru pun terpekur oleh realitas palsu yang merasa hina kalau anak didiknya tidak lulus ujian. Guru yang memperjuangkan nasib anak-anak didiknya pun tidak imun dari “serangan maut” dari siapapun yang menyekolahkan anaknya.

Lebih dari itu, ujian seakan menandakan bahwa perjalanan peradaban bangsa sedang dalam bahaya dengan kepungan para pencuri. Jadi adakah kita dibuat ragu oleh ”pencuri soal” dengan kelulusan yang membanggakan? Jangan-jangan yang model Tim Sukses dan pencuri soal atau jawaban itu adalah kelaziman? Langkah pencekokan ini jelas tidak ndidik, dalam tulisan saya yang lain kubahasakannyekik, sebab nyekoki merupakan daya kreasi yang tidak cerdas tetapi culas dan anak didik pada akhirnya sedang tergiring sekarat karena tercekik pendidik ”korak”. Pendidikan yang berpose sebagai ajang penyekokan pada ujungnya hanyalah mengesahkan forum penipuan. Biarkanlah anak didik memanen prestasinya sendiri dengan kejujuran dan bukan bersandar pada belas kasihan.

Untuk pendidikan dengan “sekolah kehidupan” marilah menyimak agenda Tuhan. Allah swt telah memberikan garis pergerakan “mengkurikulumkan” agama seperti Islam melalui manusia agung yang bernama Muhammad SAW? Apa target utamanya? Ternyata kehadiran Nabi Muhammad SAW ini diorientasikan sebagai teladan paripurna, “aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Dengan manusia yang berakhlak mulia, niscaya terbangun masyarakat dan negara yang berkarakter penuh kehormatan.Sudahkah pendidikan yang digelar dunia persekolahan selama ini telah menggapai secara tepat pesan tertinggi dari kehadiran sosok paling mulia tersebut? Sudahkah kita selama ini terpanggil untuk membangun manusia-manusia Indonesia yang berakhlak mulia.

Para pendidik mustinya sudah paham tentang risalah ini, meski terkesan diabaikan dengan ungkapan politik yang gagap nalar dengan menyatakan agama tidak hadir dalam urusan negara. Ingatlah bahwa setiap pejabat ataupun guru, dosen, widyaiswara, sampai kepala desa atau kelurahan, sewaktu memulai kariernya senantiasa disumpah dengan menyebat “Nama Allah”, bukan menyebut nama undang-undang, bukan menyebut nama negara, bukan menyebut nama jabatan, bahkan bukan menyebut nama NKRI ataupun Bhinneka Tunggal Ika, tetapi “dengan menyebut nama Allah, saya bersumpah” (sebagai guru … termasuk Kepala Sekolah). Kalaulah demikian berarti seluruh piranti keagamaan, termasuk pesan mengkonstruksi penyempurnaan akhlak adalah titian spektakuler yang semestinya diemban oleh para pendidik.

Kenapa di dunia pendidikan semisal ujian nasional ada kecurangan, kenapa di negara ini banyak kejadian nista: ada pejabat korupsi, dan kenapa penipuan, kekerasan, pembegalan, kemaksiatan, kemungkaran, dan warung-warung pangkon bisa terjadi di suatu wilayah yang punya lembaga pendidikan? Tindakan KDRT, pencabulan, penjualan anak, pemerkosaan, penistaan, pelacuran, pelecehan seksual, pembangkangan, serta perilaku yang tidak baik lainnya bisa terekspresikan di masyarakat, ngoplos dan nenggak menimun beralkolol sempurna nyaris 99 persen. Bukankah ini dilakoni oleh orang-orang yang pernah mengenyam sekolahan, menududuki bangku sekolah atau kursi kuliah.

Artinya, ada fenomena demikian itu yang merupakan produk dari pendidikan sekolah yang selama ini hanya menjadikan anak didik seperti mesin pembelajaran. Sibuk dengan kurikulum yang mengunggulkan kepintaran tanpa kemantapan iman, dan agama diajarkan tetapi tidak diamalkan, bahkan agama dipisahkan dari semua ilmu karena agama dijadikan mata ajaran tersendiri. Mestinya agama itu diajarkan dalam setiap bidang ilmu, karena agama (Islam) itu menyumberkan ilmu-ilmu. Saya menyaksi ada proses pendidikan yang kering dari makna tauhid. Pelajaran agama terlalu lama disendirikan sebagai mata pelajaran, bukan sebagai mata pendidikan yang semua mata pelajaran bersendikan agama. Akibatnya tauhid umat rapuh dan pencoleng-pencoleng negara meraja lela.

Adakah anak-anak semakin santun berperilaku? Adakah anak-anak kita semakin empati dengan derita orang lain? Adakah anak-anak kita tambah rajin beribadah atau sibuk dengan tugas sekolah untuk dibopong menjadi wirausaha yang sekuler tanpa memperhitungkan “intervensi” Illahiyahnya? Kita lupa tentang pendidikan tetapi fasih pengajaran model sistem sekolahan. Jadi kalau sekarang akhlak semakin merosot itu menandakan bahwa pendidikan kita memang keropos dalam membangun karakter dan jiwa bangsa dengan menomorsatukan ukuran sekolah dengan nilai-nilai angka, bukan nilai-nilai kemuliaan, nilai-nilai kesopanan, nilai-nilai kesantunan, nilai-nilai kejujuran. Hardiknas yang diperingati setiap tahun itu harus menggoreskan kinerja saling berintrospeksi.

Akhirnya, adakah laku Ki Hajar Dewantara dengan motto pendidikan yang luas: “Ing ngarso sung tulodo (menjadi teladan), ing madyo mangun karso (menjadi penuntun), dan tut wuri handayani (menjadi fasilitor) telah diejawantah oleh kita semua. Berteladanlah kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw yang siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Pendidikan itu memuliakan akhlak, apabila tidak berarti negara belum mengahadirkan kesejatian makna pendidikan, sekadar persekolahan. Itu pertanda lonceng “kekerdilan” peradaban sedang dibunyikan.

 

 

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top