Anda berada di :
Rumah > Pendidikan > ‘Sekolah’ Ideologi Kebangsaan ala Purwakarta

‘Sekolah’ Ideologi Kebangsaan ala Purwakarta

Purwakarta – Inovasi dalam bidang pendidikan kembali diluncurkan Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Kali ini, Bupati Dedi Mulyadi yang tengah menjalani masa jabatan untuk periode yang kedua itu merumuskan Sekolah Ideologi Kebangsaan di wilayah yang ia pimpin.

Menurut Bupati Purwakarta, pengajaran berupa internalisasi doktrin kebangsaan yang sudah dimuat dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn akan dimodifikasi dengan mendatangkan pengajar khusus yang terdiri dari unsur perwira TNI/Polri, PNS serta ulama yang dinilai memiliki wawasan kebangsaan yang luas.

Metodologi yang diterapkan dalam aktivitas belajar tersebut dikatakan Dedi akan dibuat menarik dan aplikatif, sehingga menimbulkan kesan menyenangkan bagi pelajar.

“Sistemnya dibuat spesifik, misalnya diskusi interaktif, kita berikan stimulan wacana melalui konten animasi berisi fenomena yang melekat dengan kehidupan siswa sehari-hari,” ucap Bupati Dedi, beberapa hari lalu.

Dedi mencontohkan, dalam membahas pokok bahasan Cinta Tanah Air misalnya, pelajar tidak lagi dituntut memahami bahasan tersebut secara kognisi melainkan didorong untuk mengaplikasikannya langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut dia, merawat alam dan lingkungan sekitar sekolah maupun sekitar tempat tinggal pelajar merupakan bentuk cinta Tanah Air yang sebenarnya.

“Kalau pelajar sejak dini diajarkan mencintai alam dan lingkungan maka disana akan lahir ketahanan lingkungan yang kuat. Secara perilaku sosial, pelajar pun harus diarahkan untuk menginternalisasi nilai-nilai toleransi, bagaimana cara menghargai teman yang memiliki pendapat yang berbeda, bagaimana cara menghargai teman yang memiliki perbedaan keyakinan,” ujar Dedi.

“Ini kita dorong secara terus-menerus, sehingga muncul kekuatan kita sebagai bangsa,” Dedi menambahkan.

Program terobosan ini dilatarbelakangi oleh minimnya penanaman ideologi kebangsaan sejak dini di Indonesia. Implikasinya menurut Dedi, generasi muda tidak lagi memahami bahkan banyak di antaranya tidak lagi hafal ideologi Pancasila, baik secara tekstual maupun penerapannya secara kontekstual.

“Hari ini kita lemah di keduanya (tekstual dan kontekstual). Secara teori lemah, dalam aspek aplikasinya apalagi, agar kita tidak kehilangan generasi maka ajaran Pancasila harus kembali dihidupkan di kedua hal itu,” ujar dia.

Civitas academica Universitas Indonesia pun diakui Dedi akan dilibatkan dalam perumusan sistem dan metodologi pengajarannya di seluruh sekolah di Kabupaten Purwakarta.

Sebelumnya, program Sekolah Ideologi sudah efektif dijalankan di Kabupaten Purwakarta setiap hari Senin selama dua jam pelajaran. Mulai tahun 2017 programnya berubah menjadi Sekolah Ideologi Kebangsaan yang akan diterapkan dengan sistem dan metodologi yang lebih aplikatif.

 

 

 

 

 

 

Sumber : liputan6.com

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top