Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Orang Marah ; Enaknya Diapakan?

Orang Marah ; Enaknya Diapakan?

Penulis : Teguh Wahyu Utomo

Cahaya pena – Orang yang kuat itu bukanlah yang jagoan berantem, tetapi yang dapat mengendalikan diri ketika marah. Maka, sangat bagus kalau Anda bisa mengendalikan diri sendiri dari rasa marah.

Tapi, bagaimana jika Anda harus menghadapi orang lain yang sedang marah? Bukankah sangat mungkin Anda berhadapan dengan orang yang sedang marah dan menantang-nantang?

Yang perlu dipahami lebih dulu adalah orang mengalami dan mengekspresikan kemarahan dalam banyak cara berbeda. Ada yang memendam perasaan marah dengan cara cemberut atau menarik diri. Ada yang berteriak, menjerit, menyumpah, atau memaki orang lain. Bahkan ada yang mengamuk dan agresif. Cara untuk menanggapi ekspresi kemarahan juga berbeda.

Berikut ini cara menghadapi orang yang marah meledak-ledak, agresif, menghina, atau bahkan mengancam.

  1. Jika kemarahan itu bisa dibenarkan, tanyai diri sendiri Kadang-kadang kemarahan itu masuk akal sehingga sangat bijaksana jika Anda mempertimbangkan perasaan orang lain dalam interaksi itu. Anda harus bertanya pada diri sendiri mengapa orang itu marah, apa yang Anda telah lakukan sehingga terjadi kemarahan, dan adakah sesuatu yang Anda dapat atau harus dilakukan untuk mengatasi situasi. Yang penting dicatat adalah seseorang dibenarkan untuk marah, namun cara mengungkapkan kemarahan harus dengan cara yang benar. Jika Anda menumpahkan minuman pada seseorang, bisa diterima jika ia marah pada Anda. Apa yang tidak dibenarkan dan tidak dapat diterima adalah jika ia menyatakan kemarahan dengan cara berlebihan, misalnya menghardik Anda, memaki Anda, memuluk Anda atau agresif secara fisik.
  2. Tetap tenang (setidaknya di penampilan luar) Salah satu hal penting ketika menghadapi seseorang yang marah adalah tetap tenang. Kendalikan diri agar jangan turut berteriak, turut mengumpat, atau meninggikan nada suara. Anda dalam hati mungkin tidak merasa tenang dalam situasi itu, tetapi masih bisa bertindak dengan tenang. Dengan berbicara lebih perlahan dan langsung, dan menjaga nada suara tetap tenang dan lembut, maka Anda cenderung bisa memperbaiki situasi. Orang cenderung mencocokkan masing-masing volume, kecepatan, dan nada suara secara umum. Kalau orang marah dengan nada suara tinggi dihadapi dengan nada tinggi, maka kemarahan bisa makin meledak jadi perkelahian fisik. Jika dihadapi dengan suara lebih rendah dan lembut, itu mendorong orang yang marah untuk menurunkan nada suara mereka.
  3. Hindari menyerang karakter Cara yang dijamin bisa meningkatkan situasi marah adalah Anda menyerang karakter orang yang marah itu. Mengata-ngatai dia, menghina dia, misalnya dengan mengatakan, “Kamu itu biasa begitu!” atau, “Huh! Dasar pemarah!” maka sangat mungkin membuat kondisi makin memburuk. Maka, cobalah fokus pada perilaku tertentu atau perasaan tertentu pada saat kejadian. Jangan berteriak, “Kenapa sih kau selalu berteriak padaku kalau marah?” Lebih baik katakan dengan tenang, “Maaf, jangan berteriak padaku.” Jangan menghardik, “Kau ini sungguh tidak sabaran.” Lebih baik katakan, “Bisakah lebih bersabar?” Mungkin kalimat itu tak banyak berbeda, namun Anda telah berusaha memperhalus bahasa karena tidak ingin orang lain merasa diserang. Realita mungkin tidak sesederhana itu, sehingga Anda harus cepat menilai situasi dan memilih kalimat dengan tepat. Membalas dengan kalimat keras belum pasti memperbaiki kondisi. Lebih baik memilih kalimat dan bahasa yang tidak menyerang.
  4. Tahu kapan melepaskan diri Saat berhadapan dengan orang yang terlalu marah, akan datang suatu titik ketika Anda harus melepaskan diri dari situasi itu. Ada banyak alasan mengapa hal itu sangat perlu dilakukan: menjaga keamanan diri sendiri, dan, yang lebih umum, karena situasinya tidak mungkin menghasilkan resolusi positif. Orang mungkin begitu marah sehingga percakapan yang wajar dan sehat tidak dapat ia terima pada kondisi itu. Jika ini terjadi, Anda lebih baik mengatakan, “Kita bicarakan nanti saja kalau kita sudah lebih tenang.” Atau, jika yang marah itu orang asing dan Anda tidak akan pernah bertemu lagi, katakan saja, “Maaf kalau saya bikin kau marah,” lalu pergi saja dan tinggalkan dia.
  5. Jaga keamanan diri Akhirnya, tetapi pada dasarnya, ketika berhadapan dengan orang yang marah, Anda harus memastikan diri Anda aman. Tentu, ada orang yang bisa marah tanpa harus bertindak agresif. Orang yang marah tidak selalu suka kekerasan. Namun, kita juga harus menyadari fakta psikologis. Ketika sedang marah, orang bisa saja merasakan dorongan internal untuk menyerang secara fisik. Setelah melampiaskan amarah dengan fisik, biasanya ada peredaan ketegangan sehingga amarahnya tersalurkan habis hingga mereda.

Maka, jika Anda tidak merasa aman, segera menjauh dari orang itu. Jaga jarak dan waktu. Jika terpaksa harus berinteraksi dengan orang yang marahnya membuat Anda terancam, maka pastikan Anda tidak datang sendirian.

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top