Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Menjaga Harga Diri

Menjaga Harga Diri

Oleh : Yusron Aminulloh

Cahaya pena – Salah satu “barang mahal” di negeri ini sekarang adalah, harga diri. Karena minimnya “barang” ini, maka harga diri menjadi mahal. Sedangkan “barang” yang sekarang lagi murah bahkan dijual obral adalah “rasa malu”. Orang tidak lagi malu melakukan tindakan salah, tindakan tidak patut, bahkan langkah naif yang mempermalukan kemanusiaan seseorang.

Demi uang, banyak orang menjual harga dirinya. Baik dengan cara menipu dirinya sendiri, menutupi kebenaran atau pun mendholimi banyak orang. Banyak orang, tanpa malu menerima gaji besar, tetapi yang dikerjakan kecil, kalau tidak boleh disebut hanya “main-main”.

Banyak orang demi harta mau melakukan apa saja, termasuk menjual atas nama Tuhan. Atas nama rakyat bahkan dengan lantang menyuarakan atas nama kebenaran. Banyak orang merasa, puncak kehidupan adalah kekayaan, kekuasaan dan kedudukan. Padahal apa yang disebut puncak itu bisa berbalik menjadi titik nadir kebalikannya, kalau seseorang tidak mampu menjaga kekayaan, kekuasaan dan kedudukannya.

Orang kaya karena tidak bersyukur, bisa menjadi kufur. Ia tidak lagi mampu mengendalikan kekayaannya, namun sebaliknya, dikendalikan oleh kekayaannya. Kelebihan dan rezeki melimpah bukan untuk modal mendekat padaNya, namun sebaliknya justru untuk menggali lubung kuburnya sendiri.

Orang punya kekuasaan kalau tidak mampu menjalankan kepemimpinannya, ia akan menjadi dholim dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menindas yang dipimpin. Namun sebaliknya, kalau mampu menggunakan power kekuasaan itu untuk kesejahteraan yang dipimpinnya, hidupnya akan mulia.

Suatu hari, Penyair asal Madura D..Zawawi Imron punya pengalaman yang sangat menarik berkaitan dengan kekayaan dan kekuasaan ini. Sebagai penyair, ia diundang ke sebuah kota di propinsi yang jauh dari rumahnya di Madura. Ia bersama sejumlah penyair kenamaan seperti Taufik Ismail, dkk datang untuk sebuah acara kebudayaan.

Tiba-tiba, sehabis acara, ia didatangi beberapa orang dengan pakaian necis dan bermobil mewah.

“Pak Zawawi, pimpinan kami asal Madura sama dengan bapak, ingin bertemu. Mohon diizinkan, kami mengundang bapak untuk mampir ke rumah beliau,” tuturnya.

“Pimpinan saya orang rantau yang sukses,” tambahnya.

Kebetulan, panitia yang mengundangnya juga mengenal siapa bapak yang undang Zawawi ke rumahnya. “Beliau orang terkaya di sini. Penguasa SPBU di pulau ini. Saya siap antar pak Zawawi ke sana,” tuturnya. Sampailah Zawawi di rumah orang terkaya di pulau itu.

“Selamat datang di rumah saya. Saya asli Sumenep, cuma sudah puluhan tahun di sini,” tutur Pak Haji kaya ini.“Alhamdulillah, saya bisa sampai sini,” jawab Zawawi.

“Saya baca koran tadi pagi. Kok bisa bapak dimuat koran ?. Saya yang kaya dan menguasai pulau ini saja gak pernah dimuat koran,” papar Pak Haji ini.

Zawawi kaget dengan pertanyaan sederhana yang susah dijawab ini. “Ya karena ngisi acara, dikenal sama wartawan, yang dimuat beritanya pak Haji.” Jawab Zawawi seenaknya.

“Bapak kok bisa kenal wartawan? Kan bapak tinggal di Sumenep, jauh sekali bisa sampai di pulau ini,” lagi-lagi Pak Haji bertanya dengan penuh keheranan. “Sampeyan kerja sebagai apa dan berapa gajinya sehingga bisa ke sini.”

Zawawi mulai melihat gelagat aneh pertanyaan pak Haji ini, Rupanya juragan pom bensin ini “tidak terima” kalau Zawawi dikenal orang dan dimuat di koran, padahal Zawawi orang biasa, tidak kaya. Atas feeling itulah, kemudian Zawawi mulai sedikit menata hati dan menyiapkan diri untuk sedikit sombong.

“Ya banyaklah gaji saya”, papar Zawawi sambil menyebut sebuah angka tertentu. “Dan semua ticket pesawat dan akomodasi sudah ditanggung panitia,” tambah Zawawi sambil menunggu reaksi pak Haji.

Penjelasan Zawawi ternyata belum cukup. Pak Haji tetap tidak terima. Meski dia orang kaya raya, logika Madura tetap digunakan, ia merasa tidak boleh ada orang Madura lain yang lebih hebat dari dia.

Suasana sudah tidak kondusif. Zawawi merasa dipojokkan dengan sikap Pak Haji. Maka, ia pun cepat mau pamitan pulang.

“Saya sudah memenuhi undangan bapak. Saya sudah mendengar semua cerita bapak dan menjawab pertanyaan bapak. Saatnya saya pamit,” tegas Zawawi.

“Lho kenapa ? bapak marah sama saya ? Saya salah bicara ya ?”

“Oh gak, bapak gak ada yang salah,” jawab Zawawi.

“Kalau begitu kita makan dulu,”

“Maaf pak, saya harus makan sama teman-teman dari Jakarta. Gak enak kalau saya makan sendiri.”

Pak Haji tambah gelisah. Maka ia masuk ke kamar sebentar terus kembali dengan membawa sebuah amplop.

“Ini sekedar untuk oleh-oleh,” tegas Pak Haji sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang.

“Waduh maaf pak. Saya tidak bisa menerima, karena saya tidak bekerja untuk bapak. Ajaran agama kita kan mengajarkan kita tidak boleh menerima imbalan kalau kita tidak bekerja dan berkeringat. Saya tidak bekerja apa-apa untuk bapak. Jadi mohon maaf saya gak bisa menerima.”

Tentu saja Pak Haji tambah gelisah. Maklum, sebagai orang kaya, dia tidak pernah memberi uang orang yang ditolaknya. Segala cara dilakukan agar Zawawi mau menerima dan tidak menolak. Sementara Zawawi merasa tidak nyaman.

“Tolonglah diterima pak. Meski Bapak keluar dari pagar rumah saya, uang itu bapak buang atau diberikan kepada orang, tolongnya diterima.”

Zawawi merasa iba, bahkan melihat wajah Pak haji ini seperti menangis. Ia pun kemudian menerima bingkisan itu, bukan karena mau menerima, tetapi karena ia tak mampu melihat kesedihan di wajah pak Haji tatkala penolakan ia lakukan.

Makna dari kisah sederhana ini adalah, betapa kekayaan tidak selamanya memenangkan “peperangan” terhadap harga diri. Uang bisa kalah hanya oleh keteguhan. Dan keteguhan bisa melampui kekayaan. ****

 

Penulis adalah Master Trainer MEP, Provokator Literasi

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top