Anda berada di :
Rumah > Pendidikan > MENDIDIK ANAK DI ERA DIGITAL

MENDIDIK ANAK DI ERA DIGITAL

Pendidikan merupakan investasi yang pertama dan utama bagi keluarga. Mengapa demikian, sejak anak terlahir dari dalam kandungan ibu, secara faktual orang tua mulai mendidiknya melalui bagaimana agar anak mampu hidup. Seorang ibu memberikan air susunya kepada anaknya, dari perlakuan inilah anak ketika merasa lapar selalu meminta air susu tersebut dengan cara menangis. Pendidikan bagi anak terus dilakukan oleh keluarga melalui berbagai cara dan sering orang tua menggunakan Hidden Curriculumn yang dimilikinya, sampai anak mencapai usia belajar secara formal.

Berbeda perlakuan ketika anak belajar di pendidikan formal, di pendidikan formal satu pengasuh yang biasa disebut pendidik berbekal keterampilan mendidik dan mengajar sesuai dengan tingkatan kebutuhan usia anak. Walaupun para pendidik sudah dibekali dengan keilmuan mendidik dan mengajar secara profesional tetap memiliki keterbatasan.

Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 35 ayat (2) mengamatkan bahwa beban kerja guru mengajar sekurang-kurangnya 24 jam dan sebanyak-banyaknya 40 jam tatap muka per minggu. Didukung oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 18 Tahun 2007 Tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan mengamanatkan bahwa guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik, nomor registrasi, dan telah memenuhi beban kerja mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok. Peraturan-peraturan di atas yang membatasi pendidik bertemu dengan peserta didik yang diasuhnya, ditambah lagi jumalh peserta didik yang diasuh sejumlah minimal 28 sampai dengan 32 anak (Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 2013, Standar Nasional Pendidikan).

Seorang pendidik yang mengampu 32 anak dalam satu kelas, dan tentunya tidak hanya mengajar hanya satu kelas tersebut bila mengacu pada peraturan-peraturan pendidikan di atas. Apabila seorang pendidik dibebani minimal 24 jam per minggu dengan beban belajar 2 jam pelajaran, maka jumlah anak yang menjadi tanggungjawabnya untuk didik adalah 24:2=12 kelas. Artinya terdapat 32 anak x 12 kelas, dengan kata lain pendidik yang mendidik dengan proporsi minimal saja harus mengasuh 384 anak dengan berbagai karakteristik, kecerdasan serta bakat minat yang berbeda.

Unicef dan Kemenkominfo, 2014 melansir studi di Indonesia menyebutkan setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, di mana 80% responden menggunakan internet untuk mencari data dan informasi, 70% untuk bertemu teman online melalui platform media sosial, 65% untuk musik, dan 39% untuk situs video. 24% berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal dan 25% memberitahukan alamat dan nomor telepon mereka. 52% menemukan konten pornografi melalui iklan atau situs yang tidak mencurigakan dan 14% mengakui telah mengakses situs porno secara sukarela. Hanya 42% responden yang menyadari risiko ditindas secara online dan 13% di antaranya telah menjadi korban.

Merespon latar belakang di atas maka SMP Negeri 1 Sidoarjo menyelenggarakan pendidikan keluarga dengan beberapa program yang dikemas dalam program Rekreasi Edukasi yang meliputi: Kelas Insirasi, Kelas Orang Tua, Kelas Kita Bersama, dan Pentas Akhir Tahun atau Unjuk Kerja Siswa. Program ini bertujuan untuk membangun kemitraan antara sekolah, orang tua dan masyarakat yang disebut dengan Tri Sentra Pendidikan. Diawal tahun pelajaran orang tua diundang ke sekolah untuk mendapatkan sosialisasi program-program sekolah selama satu tahun pelajaran. Selanjutnya, berkenalan dengan wali kelas, berbincang-bincang tentang anak-anak yang diasuh di kelas tersebut sehingga orang tua bisa berkomunikasi dengan wali kelas untuk memantau putera-puterinya.

Pada saat ini orang tua di undang sekolah untuk mendapatkan informasi tentang pengasuhan positif anak di era digital. Mengingat hal ini sangat penting saat ini  dan tak bisa dipungkiri bahwa banyak manfaat dan sisi positif dari teknologi digital ini, antara lain: membantu proses belajar, membangun kreativitas, mempermudah komunikasi, mendorong pertumbuhan usaha, memfasilitasi layanan publik, bahkan dengan mudah dan cepat dapat menghimpun beragam gerakan sosial. Disisi negatif era digital pun tak kalah banyaknya, antara lain: bisa menurunnya prestasi belajar karena penggunaan yang berlebihan, membatasi aktivitas fisik yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, perkembangan keterampilan sosial dan bahasa anak yang terhambat karena sudah dikenalkan dengan gadget dini, perkembangan otak tidak maksimal karena stimulasi perkembangan tidak balance, masalah kesehatan mata, seharusnya screen time dibatasi maksimal 2 jam per hari, jumlah waktu tidur dan kualitas tidur yang kurang akibat isi dari tontonan, tidak ada privacy, memungkinkan pengambilan data pribadi, predator anak, cyber bullying, dan masalah pornografi, kekerasan, atau penanaman nilai negatif.

Untuk mengantisipasi semua masalah di atas, maka sekolah perlu kerjasama dengan orang tua dan masyarakat. Tri Sentra Pendidikan sebagai jawaban dan segera perlu direalisasi dan dibudayakan. (Aris Setiyawan)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top