Anda berada di :
Rumah > Nasional > Membangun Siklus Pembelajaran Pada Anak

Membangun Siklus Pembelajaran Pada Anak

Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa setiap orang mempunyai masa dalam pertumbuhan, dimulai dari usia dialam kandungan, lahir, tumbuh menjadi anak, remaja dan kemudian menjadi dewasa. Dalam setiap fase perkembangan tersebut tentu ada penekanan – penekanan dalam proses memberi menanamkan pesan perkembangan. Erick Berne menyebutnya menjadi tiga fase, yaitu fase anak, dewasa dan orang tua.

Pada pembagian fase – fase ini, Erick Berne banyak menekankan pada karakter perkembangan manusia dalam hal berkomunikasi dan belajar. Beliau menggambarkan masing – masing fase pada karakter yang dimiliki. Misalkan pada fase anak digambarkan sebagai karakter yang egois, minta diperhatikan, mau menang sendiri, manja , dan lain – lain yang menggambarkan karakter anak. Begitu juga pada fase dewasa serta orang tua. Digambarkan sesuai dengan karakter masing – masing .

Pesan penting dari apa yang dilakukan oleh Erick Berne ini adalah bagaimana sebuah pesan agar bisa diterima oleh lawan bicara kita. Pembicara dituntut untuk bisa cepat beradaptasi dalam dinamika psikologi dalam berkomunikasi. Sehingga pesan yang disampaikan bisa diterima oleh lawan  bicaranya. Hal ini menjadi penting ketika itu berlangsung dalam sebuah proses pembelajaran.

Kajian lain yang berkaitan dengan pembelajaran dan sikulus tumbuh kembang anak dilakukan oleh Steiner. Dia percaya bahwa setiap anak memiliki tiga lapis yang muncul dalam tiga tahap perkembangan. Tiga lapis itu digambarkan sebagai ruh, jiwa dan raga. Serta tahap perkembangan itu digambarkan dalam sikulus tujuh tahunan. Dalam paparannya, Steiner mengatakan bahwa tujuh tahun pertama perkembangan anak harus difokuskan pada pengembangan kapasitas fisik anak ( Pendidikan untuk tangan ).

Dalam fase ini diharapkan proses pembelajaran lebih menekankan pada perkembangan fisik anak, sehingga proses tumbuh kembangnya menjadi kuat. Misalkan pada fase ini proses pembelajaran dilakukan dengan lebih banyak melakukan gerak aktifitas fisik. Tujuh tahun kedua, perkembangan anak difokuskan pada mengolah kehidupan emosional anak ( Pendidikan untuk hati ).

Dalam proses pendidikan fase ini, nampaknya fokus pengembangan karakter menjadi sangat penting. Sehingga diharapkan pada fase ini, proses pembelajaran dilakukan dengan model  “ autentic learning “ . Pembelajaran dengan fakta, contoh perbuatan serta pembelajaran – pembelajaran lain yang bersifat contoh pengembangan karakter. Tujuh tahun ketiga difokuskan pada pengembanagan kehidupan intelektual anak ( Pendidikan untuk otak ).

Pada fase ini fouksnya adalah pengembangan kerja otak sebagai penunjang ketrampilan intelektualnya. Misalkan dengan melakukan studi kasus lalu kemudian dilanjutkan diskusi pandangan anak terhadap sebuah kasus. Dengan cara tersebut, maka otak akan mengalami perkembangannya melalui beberapa rangsangan masalah.

Diharapkan dengan semakin banyak rangsangan masalah tersebut, daya kerja otak akan semakin kaya informasi, sehingga dalam istilah perkembangan otak disebut dengan jembatan sinaps otak akan semakin kuat. Rancang bangun unik Steiner yang memebrikan perhatian khusus pada kebutuhan perkembangan disetiap anak ini, memebrikan pesan kepada kita semua bagaimana menyusun kurikulum pembelajaran yang sesuai.

Misalkan jam belajar anak – anak di sekolah bisa disusun seperti jam awal sekolah diarancang untuk perkembangan otak yang menunjang daya intelektual anak. Jam pertengahan  dibuat sebagai jam pembelajaran yang menekankan pada proses pembelajaran hati ( penguatan emosional anak ), misalkan dengan pembelajaran kesenian, agama yang bersifat tauladan dengan cerita – cerita inspiratif atau pembelajaran lain yang bersifat penguatan emosional anak. Pada jam terakhir, diharapkan penekanannya pada perkembangan fisik anak atau sebagai pembelajaran yang diperuntukkan bagi tangan ( Kegiatan fisik dan praktek ).

Apa yang tergambar didalam dua kajian diatas, sesungguhnya mengingatkan kita, pada pesan yang tertuang didalam Al Qur’an, bahwa dalam setiap proses pembelajaran, maka setiap pembelajar harus memehami konteks pesan yang disampaikan menggunakan  “ bahasa kaumnya “. Sehingga dinamika adaptasi dan komunikasi dalam penyampaian bisa menyesuaikan sesuai dengan situasi penerima pesan.

Selanjutnya juga digambarkan adanya pesan siklus tujuh tahunan dalam cerita Nabi Yusuf Alaihi salam. Nah pesan penting dalam proses pembelajaran adalah bagaimana seorang guru, orang tua atau siapapun yang berhubungan dengan mendidik masyarakat , mampu memahami situasi lawan bicaranya, sehingga mereka bisa menyesuaikan model pembelajaran, bahasa yang dipilih serta contoh yang bisa dengan mudah dicerna oleh lawan bicaranya. (isa)

 

Penulis : Isa Ansori

Pengajar Psikologi Komunikasi STT Malang dan Anggota Dewan Pedidikan Jatim

Email : isa.ansori2512@gmail.com

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top