Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Membangun Perilaku Positif Pada Anak

Membangun Perilaku Positif Pada Anak

Penguatan positif adalah sebuah kejadian ketika dilakukan maka akan berdampak pada sebuah peningkatan frekuensi perubahan perilaku. Penguatan positif  ( Positive Reinforcement ) menyatakan bahwa jika seseorang disituasi tertentu melakukan sesuatu yang diikuti langsung oleh sebuah penguatan positif, maka ia akan cenderung melakukan hal yang sama disaat berikutnya ia menjumpai situasi yang sama. Hal ini sudah ditegaskan dalam pandangan Pavlov dalam teori conditioning nya .

Penguatan positif seringkali disebut sebagai reward, sebagaimana yang kita pahami bahwa reward diberikan dengan harapan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang bisa menginspirasi orang lain dalam melakukan perbuatan positif yang sama, atau ada peningkatan perilaku positif pada diri anak. Pada pribadi anak penguatan positif berbeda dengan memanjakan anak. Karena didalam memanjakan tidak ada tuntutan lanjutan yang dinginkan bagi penerima, yang kemudian berdampak pada tidak adanya perubahan perilaku.

Dalam mendidik anak diharapkan terjadinya perubahan perilaku dan peningkatan nilai – nilai positif yang harus dilakukan oleh anak. Sehingga tahapan – tahapan pencapaian perilaku yang diinginkan harus disusun perencanaannya. Penyusunan rencana perubahan perilaku seringkali kita sebut sebagai menciptakan kebiasaan positif pada diri anak. Sebagai contoh, kalau kita ingin anak kita rajin sholat, maka penguatan positif yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah, memberikan “ hadiah “ kepada anak dalam bentuk apapun tak terkecuali pujian, bahwa apa yang dilakukan anak itu layak diapresiasi, misalkan dengan ucapan terima kasih sudah sholat tepat waktu, tersenyum dan kasih tanda jempol sebagai apresiasi bahwa apa yang dilakukan oleh anak adalah sesuatu yang luar biasa.

Pembiasaan mengapresiasi perilaku positif anak, tentu akan berdampak pada si anak akan selalu menjaga dirinya untuk tidak melakukan hal – hal yang berdampak pada hilangnya apresiasi. Selain itu juga , mengapresiasi perilaku positif akan membiasakan anak untuk bisa mengapresiasi perbuatan orang lain bila dirasa bermanfaat bagi dirinya.

Menciptakan sutuasi dalam mewujudkan  kebiasaan positif agaknya menjadi sesuatu yang penting dilakukan oleh kita semua, baik itu dirumah maupun disekolah. Jangan sampai apa yang dilakukan oleh dua kutub rumah dan sekolah saling bertolak belakang, sehingga akan menimbulkan kesan tidak berartinya perilaku positif yang dilakukan, sebagai contoh, kalau dirumah anak dibiasakan makan makanan yang bersih dan sehat, kemudian justru sebaliknya, maka kebiasaan dirumah akan menjadi sirna, karena anak akan melihat pembandingnya, meskipun tidak sehat dan bersih juga tidak apa apa. Atau kalau disekolah dibiasakan anak melakukan sholat duha, lalu dirumah tidak, maka juga akan muncul kesan yang percuma bagi si anak melakukan atau tidak , tidaklah menjadi sesuatu yang penting.  Oleh karenanya harmonisasi  kepentingan terbaik anak, harus dirancang oleh orang tua dan sekolah dalam bentuk kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran.

Sudah selayaknya kerjasama yang kuat antara rumah dan sekolah diwujudkan dalam bentuk pembuatan program bersama atau melaksanakan kegiatan yang melibatkan para orang tua bersama sekolah. Sekolah tidak boleh lagi merasa paling penting dan paling tahu dalam membangun perilaku positif anak. Sekolah sudah seharusnya mencari informasi kepada orang tua anak, hal apa saja yang positif yang sudah dilakukan anak, dan hal apa saja yang belum. Sehingga sekolah tahu persis apa yang harus dilakukan dalam pengembangan perilaku positif anak, begitu juga orang tua berkewajiban menciptakan situasi positif dirumah sebagaimana yang dilakukan di sekolah. Semoga bermanfaat !!!

 

 

 

  1. Isa Ansori, Drs, M.Psi

Pengajar Psikologi Komunikasi Pada STT RRI Malang dan Trainer Pembelajaran Partisipatif Hotline Pendidikan Jawa Timu

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top