Anda berada di :
Rumah > Metro Jatim > Bencana di Palu, SD di Gresik Diajak untuk Tanggap bencana

Bencana di Palu, SD di Gresik Diajak untuk Tanggap bencana

Gresik – Indonesia berkabung! Gempa yang disertai gelombang tsunami kembali melanda bagian wilayah Indonesia. Jumat, 28 September lalu, bencana dahsyat tersebut mengguncang wilayah kota Palu dan Donggala.

Gempa berkekuatan 7,4 skala richter yang disusul dengan tsunami itu mampu memporak-porandakan kota dan daerah yang terletak di provinsi Sulawesi Tengah tersebut. Tak ayal banyak yang menjadi korban. Untuk sementara dilaporkan, lebih dari 1.400 orang meninggal dan 2.500 luka berat.

Bencana terjadi bisa dimana dan kapan saja. Datangnya bencana seringkali membuat panik warga. Hal ini wajar. Namun tidak bisa dipungkiri, justru kepanikan semacam ini kadangkala malah menimbulkan banyaknya korban jiwa.

Untuk mengenalkan siswa sejak dini bagaimana tindakan tepat saat terjadi bencana, dengan dipandu oleh salah satu anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah atau KOKAM, SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Gresik, melakukan kegiatan deteksi dan simulasi bencana gempa dan tsunami.

“Bersyukur kita tidak terkena musibah, namun dengan tidak melupakan banyaknya korban yang berjatuhan menjadi salah satu bukti bahwa tindakan penyelamatan diri itu adalah penting” kata Any Susanto, di sela-sela panduannya.

Sambil menjelaskan bagaimana cara deteksi gempa dan tsunami, ia memperagakan bagaimana cara terbaik untuk menyelamatkan diri saat terjadinya bencana tersebut. Beberapa perlengkapan seperti meja, papan, bantal, dibawanya untuk memberi gambaran jelas kepada siswa.

Any menjelaskan, bahwa salah satu cara paling tepat untuk meyelamatkan diri saat terjadi gempa adalah dengan menghindari benda atau bangunan yang berpotensi roboh.

Jika memang terpaksa harus berada di dalam gedung, maka cara paling tepat untuk menyelamatkan diri adalah dengan menggunakan teknik segitiga kehidupan milik Doug Copp, yaitu dengan memanfaatkan ruang kosong yang biasanya tersisa di samping benda-benda yang lunak seperti sofa, kasur, maupun tumpukan kertas.

Selang sekitar 20 menit pengarahan, siswa kembali ke dalam ruang kelas dengan ditemani guru masing-masing. Belum sempat duduk lama di bangku, tiba-tiba terdengar sirine dan bunyi-bunyian seperti kentongan.

Siswa yang terheran dan gaduh, akhirnya ditenangkan oleh guru yang mengatakan bahwa itu adalah salah bunyi-bunyian penanda bahwa sedang terjadi bencana. Mengetahui hal itu, siswa dan guru segera bergegas keluar dengan membawa benda yang dirasa bisa melindungi diri mereka seperti tas untuk melindungi kepala dari reruntuhan.

Mereka mensimulasikan upaya penyelamatan diri sebagaimana yang telah diajarkan.
Kegiatan yang berlangsung sekitar 30 menit ini sepertinya memberikan kesan yang cukup mendalam bagi siswa. Salah seorang siswa kelas 2 Ali tampak terkesima.

“Nanti aku mau ajari mama pakai tas dan bantal”, kata Cendekia Brilianta P. Soeto Widjaya dengan berapi-api sambil membopong tasnya.

“Cara penyelamatan diri dalam simulasi ini hanyalah ikhtiar, dan semua tentu kembali sesuai kehendakNya. Tapi adalah tugas kami untuk menegaskan kepada anak didik kami bahwa salah satu anugerah dari Allah adalah kehidupan. Dan melalui ini, kami ingin mereka untuk bisa menghargai (kehidupan) itu.” tutur Kholiq Idris, S.Pd, kepala sekolah.

Selain kegiatan simulasi, kegiatan donasi juga dilakukan oleh warga sekolah yang terletak di ujung selatan Gresik ini. Donasi yang digalang selama 5 hari ini untuk sementara telah terkumpul sebesar Rp. 7.294.500 dan akan disalurkan melalui Lazizmu Kabupaten Gresik.

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top