Anda berada di :
Rumah > Metro Jatim > KASAL Izinkan Taksi Online Beroperasi di Bandara Juanda

KASAL Izinkan Taksi Online Beroperasi di Bandara Juanda

Surabaya – KASAL Laksamana TNI Ade Supandi mengizinkan taksi online beroperasi di Bandara Juanda Surabaya. Tidak saja menurunkan penumpang, tapi juga menaikkan penumpang di bandara ini.
Selama ini, bandara sipil yang berada di lahan kekuasaan TNI AL itu, taksi online hanya bisa menurunkan penumpang. Setelahnya mereka tak bisa mengambil atau menaikkan penumpang dari bandara internaisonal ini.

“Prinsipnya apa pun kendaraan boleh beroperasi di Bandara Juanda. Sejauh jelas jenis kendaraan hingga jelas sopir dan penumpangnya, termasuk taksi online,” kata KASAL Ade Supandi di Surabaya, Rabu (25/10/2017).

KASAL menuturkan bahwa taksi online adalah salah satu pilihan dalam melayani penumpang di bandara. Namun keberadaan taksi online yang berada di Bandara Juanda harus terkontrol.

Menurut KASAL Ade, jaminan keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama. Jangan sampai kendaraan umum yang keluar masuk bandara tidak diketahui identitasnya. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanan penerbangan akan berdampak serius.

“Silakan beroperasi di bandara asal keberadaannya terpantau jelas,” jelas KASAL usai peresmian Balai Prajurit RM Mudjono Poerbonegoro Puspenerbal di kawasan Bandara Juanda Surabaya.

KASAL menuturkan bahwa adalah hak penumpang memilih jenis kendaraan yang mereka inginkan. Salah satunya diakui bahwa taksi online menjadi pilihan.
Namun saat ini Bandara Juanda belum mengizinkan kendaraan umum berbasis aplikasi ini mengambil penumpang.
Saat didesak apakah akan ada instruksi khusus ke Puspenerbal selaku pemegang otoritas Bandara Juanda sebagai bandara sipil di lahan TNI AL. Misalnya mendorong untuk percepatan beroperasinya taksi online.
KASAL Ade menyebut bahwa semua akan dikembalikan pada aturan pemerintah. Siapa pun harus tunduk padan aturan pemerintah.
“Soal aturan dan regulasi itu kewenangan pemerintah. Semua diserahkan pada aturan Kemenhub soal taksi online,” tandas Ade.

Ade juga menyebutkan bahwa jika taksi online tidak diizinkan beroperasi di Bandara Juanda akan menimbulkan penafsiran diskriminatif.
“Kesan monopoli ini jangan sampai ada,” kata Ade.

Saat ini tengah dinantikan pemberlakuan revisi Permenhub 26 Tahun 2017, terkait taksi online. Awal November besok akan diberlakukan dan kini terus disosialisasikan.

Dalam Permenhub itu juga mengatur pembatasan kuota hingga areal operasional taksi berbasis aplikasi ini. Namun, menyangkut dua hal itu semua diserahkan pada gubernur masing-masing.
Saat ini Gubernur Jatim Soekarwo dalam Pergub sudah mengatur dua hal itu. Di Jatim hanya akan diizinkan taksi online sebanyak 4.444 unit kendaraan. Kemudian areal operasional juga dibatasi.

Ada lima titik larangan atau areal yang tidak boleh dijadikan operasional taksi online. Hanya boleh menurunkan penumpang di areal itu tapi tidak boleh menaikkan penumpang di areal itu.

Kelima titik itu adalah Bandara Juanda, Stasiun Surabaya, Terminal Purabaya Bungurasih, Pelabuhan Surabaya, dan rumah sakit.
Ketua DPD Asosiasi Driver Online (ADO) Jatim David Walalangi memprotes larangan menaikkan penumpang di Bandara Juanda. Sebab itu adalah bagian dari kebutuhan penumpang akan angkutan umum yang murah dan terbuka. (tribunnews.com)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top