Anda berada di :
Rumah > Komunitas > 18 Hari Serikat Pekerja FSPMI PT. Smelting Mogok Kerja

18 Hari Serikat Pekerja FSPMI PT. Smelting Mogok Kerja

Gresik, – Mengawal perundingan pembahasan PKB (Perjanjian Kerja Bersama) ke VIII yang sebelumnya telah disepakati dan seharusnya berlaku di tahun 2017, serikat pekerja PT. Smelting yang tergabung dalam FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia) melakukan aksi mogok kerja. Aksi tersebut sudah berjalan selama 18 hari.

Ketua PUK (Pimpinan Unit Kerja) FSPMI Gresik, Zainal Arifin (45) mengatakan, aksi mogok kerja tersebut bukan tanpa alasan, dibawah naungannya, para buruh menganggap bahwa aksi tersebut merupakan langkah akhir akibat dari gagalnya perundingan kedua belah pihak yang sudah dilakukan sejak 28 November 2016 dan berakhir tanggal 6 Januari 2017 sesuai Tata Tertib Perundingan PKB pasal 4 ayat (1).

“Namun hingga tanggal berakhirnya perundingan tersebut, dari semua pasal atas draft yang diajukan Manajemen, banyak sekali pasal yg merugikan pihak pekerja dan serikat, sehingga sampai dg waktu yg ditentukan perundingan berakhir deadlock,” kata Zainal, Minggu (05/02/17).

Menurut Zainal, hal ini bukan kali pertama serikat pekerja FSPMI PT Smelting Gresik melakukan mogok kerja. FSPMI mengungkapkan bahwa pihak management sudah empat kali melakukan pelanggaran terhadap isi PKB. Dia mencontohkan pelanggaran PKB yang dimaksud semisal diskriminasi gaji dan tunjangan antar level pekerja.

“Conothnya, level I sampai dengan level IV, yaitu operator sampai Senior Engineer dengan level V dan VI, yaitu level Asmen dan Manager, yang timpang dan tidak sesuai rumusan gaji yang tertera di PKB sebelumnya. Dimana level I s sampai IV kenaikannya di angka ratusan ribu sementara level V dan VI kenaikannya menyentuh puluhan juta,” ujarnya.

Zainal menuturkan, management perusahaan asal Jepang yang mengolah tembaga asal Freeport ini juga pernah melakukan tindakan diskriminasi dengan menambah gaji pekerja di seksi security sebesar Rp. 2 juta. Sedangkan penambahan gaji tersebut tidak di atur di dalam Perjanjian Kerja Bersama ke 6 (PKB-6) tahun 2013 lalu.

 

“Kami melihat ada upaya-upaya management melakukan union busting (pemberangusan serikat) dan aksi bersih-bersih dengan melakukan PHK kepada seluruh anggota serikat yang ikut mogok kerja  sebanyak 309 orang, dan menganggap mogok yang kami lakukan tidak sah. Padahal sah tidaknya kegiatan tersebut ada di keputusan pengadilan hubungan industrial” tuturnya.

Selain itu Zaenal juga menambahkan, ada beberapa anggota FSPMI yang sedang cuti umroh atau yang sedang dirawat di rumah sakit juga mendapatkan surat PHK, sehingga hal tersebut dianggap sudah keterlaluan. Parahnya lagi, karyawan yang ikut aksi mogok juga diblacklist oleh sejumlah Rumah Sakit yang ditunjuk perusahaan.

“Sehingga mereka tidak bisa berobat tanpa adanya surat pemberitahuan management kepada pengurus serikat atau karyawan yang bersangkutan bahwa fasilitas kesehatan mereka sudah dinonaktifkan,” imbuh Zainal.

Atas hal tersebut, Zainal mengingatkan, arogansi management PT. Smelting sudah keterlaluan. Dirinya mengecam bahwa aksi mogok tersebut akan terus dilakukan bersama anggota-anggota yang lain mulai level operator sampai level engineer hingga tercapai kesepakatan (*)

 

 

 

 

 

Sumber : http://www.faktametropolis.com

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top