Anda berada di :
Rumah > Hukum > Polisi : Siswi SD di Semarang Bukan Korban Perkosaan, Tapi Suka Sama Suka

Polisi : Siswi SD di Semarang Bukan Korban Perkosaan, Tapi Suka Sama Suka

anak-sd
foto ilustrasi

Semarang  – Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin, menyatakan tidak menemukan unsur-unsur pemerkosaan atas peristiwa yang dialami siswi SD di Penggaron berinisial SR (12). Hasil penyidikan sementara polisi malah mengungkap persetubuhan SR dengan beberapa pemuda itu atas dasar suka sama suka.

“Yang dilakukan suka sama suka dengan bujuk rayu. Tidak ada (paksaan). Kalau pemerkosaan kan pasti (unsur) dipaksa. Ini tidak ada,” kata Burhanudin di Semarang, Jawa Tengah. (31/5/2016).

Burhanudin mengakui, persetubuhan mereka dilakukan berulang. SR kata Burhanudin, berhasil digauli karena termakan bujuk rayu. “Hasil pemeriksaan yang bersangkutan tidak menggunakan miras tapi bujuk rayu supaya mau mengikuti keinginan para tersangka. Namanya perempuan pada dasarnya senang yang indah-indah,” ujar Burhanudin.

Meski begitu, kata Burhanudin, Polisi telah mengamankan delapan pemuda di Pedurungan, Semarang, yang diduga pernah menggagahi SR. Dari pemeriksaan, dua dari delapan pemuda yang ditangkap membantah pernah menggagahi SR.

“Yang mengakui baru enam orang. Yang lain sedang kita kembangkan. Bukan pemerkosaan seperti yang rekan-rekan tulis. Itu persetubuhan yang dikakukan oleh anak di bawah umur,” ujar Burhanudin.

Seperti diketahui, SR (12), diduga menjadi korban pemerkosaan oleh 21 orang. Korban dilaporkan mengalami trauma berat dan saat ini diungsikan di sebuah ‘rumah perlindungan’ di Semarang.

Dari beberapa informasi di lapangan, kasus pemerkosaan yang dialami SR bukan terjadi hanya sekali. Dugaan perkosaan terhadap SR pertama kali terjadi 7 Mei di sebuah gubuk persawahan pukul 00.00 WIB oleh tujuh orang pemuda.

Yang kedua pada 12 Mei, SR digilir oleh 12 pemuda di dekat Depo Pasir. Yang ketiga pada 14 Mei, SR diperkosa oleh dua pemuda di tempat pembuatan gubuk batu bata. Para pelaku yang memperkosa SR diduga orang-orang yang berbeda.

Menurut Burhanudin, SR merupakan bocah dari keluarga yang sudah tidak utuh. Gara-gara kurang mendapat perhatian keluarga, Burhanudin menyatakan SR tumbuh menjadi bocah yang bebas dalam bergaul.

“Dua itu dari keluarga broken home. Bapak-ibu pisah. Anaknya sendiri di rumah. bapaknya kerja serabutan. Jadi (SR) pulangnya enggak menentu. Pulang pun orang tua tidak mengetahui,” tegas Burhanudin.

 

 

 

 

(Sumber : okezone.com)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top