Anda berada di :
Rumah > Kesehatan > Begini Cara Penanganan Stroke yang Tepat

Begini Cara Penanganan Stroke yang Tepat

Jakarta – Stroke merupakan keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan medis secara cepat dan tepat. Ini adalah kondisi di mana terdapat gangguan neurologis akibat tersumbatnya pembuluh darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik) yang berada di otak.

Otak merupakan salah satu organ vital di dalam tubuh yang berfungsi mengatur kelangsungan fungsi berbagai organ lain di tubuh. Ketika otak mengalami masalah, maka otomatis berdampak langsung pada organ-organ lainnya.

Stroke biasanya dapat ditandai dengan beberapa gejala meliputi:

  • Kelemahan pada wajah, tangan atau kaki pada satu sisi tubuh
  • Kehilangan fungsi penglihatan
  • Kehilangan kemampuan koordinasi tubuh
  • Kehilangan fungsi sensorik
  • Sakit kepala secara tiba-tiba
  • Mual dan muntah
  • Penurunan kesadaran hingga kehilangan kesadaran

Stroke termasuk salah satu kondisi gawat darurat medis yang sering terjadi dan mengancam nyawa. Oleh karena itu, stroke harus segera dideteksi dan ditangani dengan tepat.

Seseorang yang mengalami serangan stroke harus segera diberi pertolongan medis di rumah sakit. Hal ini perlu dilakukan agar mencegah kerusakan otak berlanjut dan meningkatkan peluang untuk pulih pada penderita.

Golden period atau periode emas penanganan awal stroke adalah tiga jam sejak stroke mulai menyerang. Penanganan segera yang dilakukan dalam periode tiga jam tersebut dapat sangat memengaruhi kualitas kesehatan penderita ke depannya.

Jika terdapat gejala-gejala di atas, maka sebaiknya segera memeriksakan diri ke rumah sakit. Cara mudah untuk mengenali gejala stroke pada orang yang terduga stroke adalah dengan mengetahui beberapa langkah deteksi awal yang dikenal sebagai FAST.

 

Deteksi FAST

  • F atau face (wajah). Perintahkan orang tersebut untuk tersenyum. Apakah ada satu sisi wajah yang tertinggal dari sisi lainnya? Atau coba minta ia untuk mengernyitkan dahi. Apa wajah terlihat tidak simetris? Jika ya, maka orang tersebut kemungkinan mengalami serangan stroke.
  • A atau arms (tangan). Perintahkan orang tersebut untuk mengangkat kedua tangan. Apakah ada tanda kesulitan untuk mengangkat salah satu atau kedua tangannya? Jika ya, kemungkinan itu merupakan gejala stroke.
  • S atau speech (perkataan). Perintahkan orang tersebut untuk berbicara. Apakah cara bicaranya terdengar kurang jelas atau seperti pelo? Apakah ada kesulitan dalam memahami yang Anda katakan? Jika ya, bisa jadi orang tersebut mengalami gejala stroke.
  • T atau time (waktu). Jika seseorang memiliki gejala-gejala di atas, maka ia mungkin sedang mengalami serangan stroke. Mengingat periode emas yang dimiliki saat serangan stroke, maka Anda perlu mencatat waktu sejak gejala muncul pada orang tersebut. Hal ini dapat menolong dokter dalam memberikan terapi.

Setelah gejala-gejala di atas ditemukan, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk menyatakan seseorang benar-benar mengalami stroke. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan darah, computerized tomography (CT) scan, magnetic resonance imaging (MRI), ultrasonography (USG) arteri karotis, cerebral angiography, dan echocardiogram.

 

Penanganan stroke berdasarkan jenisnya

Penanganan stroke bergantung dari jenis stroke yang dialami, apakah itu merupakan stroke iskemik atau stroke hemoragik.

Stroke iskemik

Pada stroke iskemik, dokter harus segera membuat aliran darah ke otak kembali lancar. Dokter akan memberikan obat yang dapat memecah sumbatan di aliran darah, yang dikenal dengan intravenous tissue plasminogen activator (tPA). Obat ini biasanya disuntikan melalui pembuluh vena di lengan, dan bekerja dengan mengencerkan bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak pada keadaan stroke.

Selain itu, pada beberapa kasus dokter juga bisa mengatasi penyumbatan dengan langsung memasukkan obat ke area penyumbatan dengan bantuan selang (kateter). Kateter ini dimasukan melalui pembuluh darah di lipatan paha dan terus sampai ke area pembuluh darah yang tersumbat. Prosedur ini dikenal dengan istilah intra-arterial thrombolysis.

Pada kasus stroke dengan bekuan darah yang besar, dokter juga bisa memasukan alat yang dapat membuka jalan di pembuluh darah yang tersumbat (stent). Namun, biasanya prosedur ini tetap dikombinasikan dengan tPA.

Stroke hemoragik

Pada kondisi stroke hemoragik, penting untuk mengontrol perdarahan yang terjadi dan menurunkan tekanan di dalam otak. Beberapa kasus stroke hemoragik yang mengalami perdarahan luas, perlu dilakukan operasi. Namun, sebelum melakukan operasi, dokter juga perlu mempertimbangkan efek terapi dan efek samping dari operasi itu sendiri, tergantung dari keparahan stroke yang dialaminya.

Pemberian beberapa obat juga dapat dilakukan seperti obat pengencer darah, obat penurun tekanan di dalam otak, obat penurun tekanan darah, hingga obat pencegah kejang. Pada beberapa kasus, transfusi darah perlu dilakukan untuk mencegah efek pengenceran darah.

Jika perdarahan di dalam otak sudah berhenti, biasanya penanganannya bersifat suportif. Tubuh secara alami dapat menyerap darah dari hasil perdarahan di otak. Namun, bila perdarahan yang terjadi memang menyebabkan perdarahan yang hebat, maka tetap perlu dilakukan operasi untuk mengeluarkan darah tersebut dan mengurangi tekanan di dalam otak.

Pada kasus stroke hemoragik yang berhubungan dengan kelainan pembuluh darah di otak, seperti arterivenous malformation (AVM), maka perlu dilakukan operasi perbaikan pembuluh darah, yang lagi-lagi tergantung dari tingkat keparahannya.

Stroke merupakan keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan medis secara cepat dan tepat. Ya, penanganan stroke memang berlomba dengan waktu. Oleh karena itu, bila Anda mengetahui ada seseorang yang mengalami gejala stroke, segera panggil ambulans agar mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. (RN/ RH)

 

 

Sumber berita : Klikdokter.com

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top