Anda berada di :
Rumah > Hukum > KPK Dalami Hubungan Edy Nasution dan Sekretaris MA Nurhadi,Telusuri Aliran Dana

KPK Dalami Hubungan Edy Nasution dan Sekretaris MA Nurhadi,Telusuri Aliran Dana

Sekretaris MA Nurhadi
Sekretaris MA,Nurhadi (foto int)

Jakarta – Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dicegah KPK dan masih berstatus sebagai saksi. Pencegahan ke luar negeri dilakukan berkaitan dengan kasus dugaan suap yang membelit panitera sekretaris Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) Edy Nasution.

Edy ditangkap setelah menerima duit dari pihak berperkara yang disampaikan oleh Doddy Aryanto Supeno. Selepas itu, KPK turut menggeledah sejumlah lokasi termasuk rumah dan kantor Nurhadi.

Duit pecahan dolar Amerika Serikat pun disita KPK dari Nurhadi. Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menyebut hubungan antara Nurhadi dengan Edy masih terus dicari oleh penyidik KPK.

“Itu masih diselidiki, di penyidikan saya tidak bisa mengungkapkan apa perannya Nurhadi.  Siapa itu Pak Edy Nasution dan kaitannya dengan Pak Nurhadi masih terus didalami,” kata Alex, Selasa (26/4/2016).

Dalam pengembangan kasus, KPK memang sering melakukan penelusuran asal muasal duit atau follow the money sehingga bisa diketahui peran-peran pihak yang bersangkutan.

“Semuanya akan kita kembangkan ke sana kan tapi uangnya apakah ada hubungannya antara uang yang diterima Edy itu dengan uang yang diterima di rumahnya Pak Nurhadi terus kita kembangkan,” ujar Alex.

“Bisa saja kan tidak ada hubungannya misalnya masing-masing main sendiri di bawah dan di atas, kita tidak ngerti itu, itulah yang akan kita dalami,” ucap Alex menegaskan.

Dalam kasus ini, dua orang tersangka pun telah ditetapkan oleh KPK yaitu panitera sekretaris PN Jakpus Edy Nasution serta seorang pengusaha sekaligus perantara bernama Doddy Aryanto Supeno. Keduanya ditangkap seusai melakukan transaksi sebesar Rp 50 juta yang merupakan sebagian kecil dari duit yang dijanjikan.

Edy pun disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001, juncto Pasal 64 KUHP, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1.

Sementara itu, Doddy disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001, juncto Pasal 64 KUHP, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1.
(dtk.com)

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top