Anda berada di :
Rumah > Hukum > Kesbangpol Gresik Lakukan Pendataan Dan Upaya Prefentif Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme

Kesbangpol Gresik Lakukan Pendataan Dan Upaya Prefentif Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme

Gresik –  Belakangan banyak bermunculan kelompok – kelompok tertentu dengan paham – paham yang tidak sesuai dengan ajaran agama maupun adat ketimuran yang meresahkan masyarakat. Untuk menghindari dan menangkal masuknya faham – faham tersebut. Pemkab gresik melakukan sosialisasi terhadap hal tersebut.

Melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Gresik, penanggulangan gerakan radikalisme dan teririsme  maka Kesbangpol Melakukan Sosialisasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial dalam Menghadapi Pergerakan Organisasi Radikal di Aula Putri Mijil Pendopo Bupati Gresik, Selasa (25/4) pagi.

Kepala Kesbangpol Gresik, Choirul Anam menerangkan kegiatan dilakukan  selama dua hari ini mengundang semua elemen masyarakat. Mulai Tokoh Masyarakat, NU, Muhammadiyah, MUI, Asosiasi Kepala Desa hingga LSM.

“Kami sengaja ajak semua elemen masyarakat dalam kegiatan ini, sehingga bisa bersama-sama melakukan pencegahan terhadap gerakan radikal dan terorisme,” kata Choirul Anam.

Lebih lanjut, mantan Camat Ujungpangkah ini mengaku hingga sekarang lebih dari seratus organisasi yang sudah terdata di Kesbangpol Kabupaten Gresik.

“Semua yang terdata kami buatkan grup WhatsApp agar mudah berkordinasi jika ada gerakan yang mencurigakan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kanit 3 Subdit 1 Ditintelkam Polda Jatim, Kompol H. Bahrun Nasikin mengatakan jumlah anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) baik inti, pendukung maupun simpatisan yang berada di wilayah Indonesia ada sekitar 1.085 orang.

“Di Jawa Timur ada 199 orang yang terlibat ISIS. Semua aktivitasnya dipantau dan dimonitor oleh anggota Polri,” ujar Kompol H. Bahrun Nasikin dalam paparannya.

Ada tiga cara, lanjut Kompol H. Bahrun Nasikin, yang dilakukan untuk mencegah dan mengurangi gerakan radikal serta terorisme, yakni Preemtif, preventif dan penegakan hukum.

“Pencegahan bisa melalui pendidikan atau menghapus website yang menyebarkan faham radikal. Upaya terakhir dilakukan penangkapan. Sejak 2000 s/d 2016 sebanyak 1.165 orang ditangkap dalam kasus terorisme,” sambung Kompol H. Bahrun Nasikin kepada ratusan peserta yang hadir.

Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT Jatim), Ahmad P. Syarwani menjelaskan bahwa gerakan radikal dan Terorisme memiliki kecenderungan anti NKRI dan anti Pancasila.

“Tak ada cara lain, Pencegahan dan penanggulangan radikal terorisme membutuhkan suatu kerjasama secara menyeluruh. Selain kualitas dan kuantitas aparat yang telah dibentuk pemerintah, upaya pencegahan juga harus melibatkan masyarakat agar gerakan radikal dan terorisme mudah diatasi,” kata Ahmad P. Syarwani (shol)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top