Anda berada di :
Rumah > Featured > Tulisan Afi Nihaya Faradisa Jadi Viral Di Medsos, Status Siswa SMA Banyuwangi ini Selalu Menggetarkan Publik

Tulisan Afi Nihaya Faradisa Jadi Viral Di Medsos, Status Siswa SMA Banyuwangi ini Selalu Menggetarkan Publik

afi-nihaya-faradisa
Afi Nihaya Faradisa

Banyuwangi – Siapakah Afi Nihaya Faradisa ? Di facebook dia menyebut siswa SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi. Anak muda yang status dan tulisannya selalu menarik perhatian public. Bahkan, ia menginspirasi banyak senior senior di dunia pendidikan.
“Anak muda yang luar biasa. Sampai pagi ini, Kamis (1/12), tulisan di FB itu sudah 2.302 kali dibagikan dan 345 komentar. Sangat inspiratif, “ tegas Sulistyanto Soejoso, pakar pendidikan asal Surabaya. Bahkan, Sulis menyebut tulisan anak muda sering menjadi Viral di medsos.

Tulisannya dibawah ini, dishare banyak orang. Bahkan sudah dibaca ribuan orang. Tentu layak kita cermati.

Berikut tulisan Afi :
Saya adalah admin di salah satu grup pembongkar hoax terbesar di Indonesia yang tidak bisa saya sebutkan apa nama grupnya. Sekarang jaman di mana arus informasi tidak bisa dibendung lagi, maka berita-berita dan isu hoax adalah senjata pamungkas bagi mereka yang tidak memiliki daya tarik lain untuk merebut opini publik.
Dalam membongkar hoax, saya dan admin-admin lain acapkali menemui suara sumbang: kalian tidak netral!
Padahal, saya yakin orang-orang waras akan setuju jika hoax tetaplah hoax. Kebohongan tetaplah kebohongan. Bangkai adalah bangkai walaupun sudah disemprot eau de perfume.
Tidak ada bedanya antara hoax dari orang beragama dan orang ateis sekalipun. Sama-sama perlu dicari tahu kebenarannya.
Membongkar hoax dari oknum agama A bukan berarti anti agama A. Membongkar hoax dari oknum pro-toleransi bukan berarti militan dan intoleran.
Membongkar hoax tentang Ahok bukan berarti pro Anies dan anti cina Kristen. Membongkar hoax terhadap Anies bukan berarti pro Ahok dan anti Islam. Sesederhana itu.
.
Nah, saya paham betul bahwa di balik isu berbau hoax, ada yang sengaja menggulirkan dan membesarkannya demi tujuan yang macam-macam. Percaya tidak percaya, semuanya disengaja. Kerja mereka rapi sekaligus masif sekali.
Mereka akan terus berjaya ketika kebencian dan sentimen-sentimen pribadi kita bisa dimanfaatkan oleh kepentingan mereka yang ingin menyebarkan hoax. Bukankah jari-jari kita selalu gatal ingin share berita/postingan yang sesuai dengan selera dan tendensi pribadi tanpa peduli apakah itu hoax atau asli?
.
Isu harga rokok naik, isu rush money, isu palu arit di uang BI, dan isu-isu semacam itu tidak membesar begitu saja. Ada yang menyengaja di baliknya.
.
Rush money gagal? Tidak. Karena ‘mengguncang’ keuangan Indonesia memang bukan tujuan mereka. Gertakan, kekhawatiran, serta rusuhnya kitalah yang mereka cari sebenarnya. Mereka tahu bahwa rush money hanyalah isu ampas yang bakal ditertawakan orang yang paham perbankan.
.
Tidak begitu penting apakah Bank Indonesia telah berkonspirasi untuk menaruh logo PKI di uang seratus ribuan. Tujuan mereka hanya ingin memperlebar kesenjangan rasa percaya antara rakyat dan pihak otoritas negara. Caranya, dihembuskanlah isu logo baru sebagai kebangkitan kembali penyakit orde baru. Konyol sekali, Jenderal!
.
Ayo, mulailah untuk melihat ‘gambar’ yang lebih besar. Let’s see the bigger picture.
.
Hoax itu baaaanyak macamnya. Yakni segala sesuatu yang memenuhi unsur mengada-ada, memalsukan, memelintir, atau menambah-nambahi.
Menganalisa apakah sebuah postingan itu hoax caranya sangat mudah. Asal kita mau mikir sedikiiiiit saja, setelah itu cari fakta-fakta konkrit sebelum ikut menyebarkannya. Bukankah dalam Islam ada perintah tabayyun (mencari tahu) dan larangan bertaqiya?
.
Mudah, kawan. Skeptislah, ini jaman dimana informasi dan klaim luar biasa bisa datang dari akun, blog, maupun situs berita abal-abal. Pokoknya mau mencari tahu bahwa tidak semua botol hijau itu bir. Tidak semua yang merah dan melengkung di tengah itu PKI. Tidak semua orang yang foto bersama berarti ada kerjasama. Tidak semua gambar berdarah-darah itu beneran korban penindasan negara tetangga.
.
Dengan ikut-ikutan menyebarkan hoax, mungkin saja Anda bisa lolos dari jeratan hukum UU ITE.
Tapi bisakah Anda lolos dari jerat hukuman Tuhan? (yus)
 

 

Dari berbagai sumber/Mep.

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top