Anda berada di :
Rumah > Featured > Nenek 59 Tahun Nekad Ngontel Dari Rembang Jateng ke Kupang NTT

Nenek 59 Tahun Nekad Ngontel Dari Rembang Jateng ke Kupang NTT

ngontel2
Endang Hartiningsih (59) mengayuh sepeda onthelnya dari Rembang – NTT

ngontel1

Gresik – Lanjut Usia (Lansia) tidak menyurutkan tekad wanita tua ini untuk mengayuh sepeda ontelnya menyusuri  jalanan pantura. Berbekal sepeda ontel yang dimiliki dengan membawa peralatan pompa dan alat tambal ban, Endang Hartiningsih (59) ini sudah sampai wilayah Panceng Gresik Jawa timur setelah dua hari berangkat dari Rembang, Rabu (1/6/2016)

Keberangkatan Endang dilepas dihalaman pendopo kabupaten Rembang 30 mei 2016. Dalam rangka memperingati Hari Lansia Nasional yang jatuh pada 29 Mei 2016. Tekadnya kali ini ingin menaklukkan sepanjang jalan Rembang  Jawa Tengah  menuju Kupang Nusa Tenggara Timur dengan ngontel sendirian.

“ saya ingin membuktikan kemampuan diusia lanjut ini masih bisa menaklukkan Rembang – NTT dengan membawa misi mempromosikan daerah Wisata Kabupaten Rembang “ katanya disela –sela istirahat untuk minum.

Saat pelepasan dia ditemani oleh dua orang komunitas sepeda ontel namun hanya sampai di perbatasan Lasem. Stelah itu dia melanjutkan perjalanannya sendiri. Dan hanya berbekal uang  450 ribu rupiah tanpa ada sponsor maupun bantuan dari pemda setempat.

Kegiatan ini bukan pertama kalinya. Namun ini merupakan perjalanan ketiga setelah pada September 2013 menyusuri jalan Rembang – Jakarta ditempuh dalam waktu 6 hari. Tahun 2015 juga melakukan perjalanan Rembang – Bali yang ditempuh selama 8 hari.

Nenek 11 Cucu dari empat anaknya ini mengaku istirahat hanya dilakukan di polsek yang di lalui. Terkadang ada polisi yang begitu memperhatikan, kadang juga di cueki. Tapi dia tidak mempermasalahkan itu, yang penting dia tidak ingin merepotkan siappun. Itu merupakan pesan keluarganya untuk tidak merepotkan orang lain selama perjalanan.

Hal yang paling menyedihkan jika ada kerusakan atau ban yang bocor selama diperjalanan. Namun dia sudah mengantisipasi dengan membawa pompa dan peralatan seadanya. Dan diperbaiki sendiri sebisanya.

Jika hari sudah sore dan matahari sudah mulai surut sekitar pukul lima dia harus berhenti dan beristirahat di kantor polisi terdekat. Untuk melanjutkan perjalanan esok harinya.

“kalo istirahat tidur ya di kantor polisi yang saya lewati dan melanjutkan perjalanan esok harinya” ujarnya.

Ada beberapa buku agenda yang dibawa dan juga terdapat dokumen perjalanan dari dinas dan pihak kepolisian . namun yang menarik ada satu lembar surat wasiat yang menyatakan bahwa jika terjadi sesuatu hingga dia meninggal dunia. Dalam wasiat tersebut dia tidak ingin jenasahnya dipulangkan ke Rembang. Tapi ingin dimakamkan dimana dia menghembuskan nafas terakhirnya.

“ini surat wasiat saya, jika terjadi apa – apa hingga saya meninggal saya ingin saya dimakamkan di mana saya meninggal. Tidak perlu dipulangkan ke Rembang. Cukup keluarga saya diberitahu dimana saya dimakamkan”  pungkasnya. (shol)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top