Anda berada di :
Rumah > Featured > Derita Anak Tukang Becak Penderita Hidrosefalus Yang Tidak Mampu Berobat.

Derita Anak Tukang Becak Penderita Hidrosefalus Yang Tidak Mampu Berobat.

Muhammad Arif (11) Penderita Hidrosefalus
Muhammad Arif (11) Penderita Hidrosefalus

Gresik – Kasus penderita Hidrosefalus atau pembesaran kepala akibat terlalu banyak cairan di kepala kembali ditemukan  di Kecamatan Cerme, Gresik.  Muhammad Arif (11) bocah laki laki warga Perumahan  Bumi Apsari  Blok II/16, Desa Ngabetan, Cerme, Gresik harus melawan penderitaan akan penyakitnya sehingga tidak bisa beraktivitas seperti anak pada umumnya.

Tubuhnya kurus kering  dengan kepala membesar dan hanya bisa tidur terlentang  tak seperti bocah seusianya.  Putri pasangan Sujarwo (50) dan Sriati (45) hanya dibiarkan tergeletak begitu saja didalam rumah dan tidak bisa berbuat banyak. Saat ditemui di kediamannya, di dalam rumah hanya ada Sriati, Arif, dan salah seorang putri Sriati.

“Bapaknya masih kerja, mangkal becak motor di perumahan Bunder Gresik kira kira pulang jam 10 malam” Kata Sriati, (4/1/2017)

Saat memasuki halaman rumahnya, terlihat beberapa buah becak mangkrak yang sudah tidak terpakai berada di halaman rumah.  meski di dalam komplek perumahan kondisi rumah terlihat kumuh. Di dalam rumah juga demikian kondisinya, Arif sang penderita Hidrosefalus hanya dibiarkan begitu saja ditidurkan di atas kasur yang terletak di ruang tamu.

“Ini Arifnya tidur disini, kalau tidur didalam kamar tidak mau soalnya tambah nangis karena panas. Kalau makan gak susah, apa saja mau dan kalau mandi kita mandikan diluar rumah, Cuma ga bisa lama lama soalnya Arif suka pusing kalau kelamaan” Kata Sriati dengan raut wajah kesedihan.

Sriati (45) Ibu Arif

Sriati kemudian menceritakan perihal sakit yang di derita putra ketiganya ini bahwa kondisi pembesaran kepala ini sudah sejak awal lahir dan mengetahui adanya kelainan, dokter di rumah sakit langsung menyarankan untuk operasi dengan biaya 50 juta.

“Kondisi Arif ini sudah sejak lahir di rumah sakit. Saat tahu kepalanya besar, kami diminta uang 50 juta untuk operasi Arif, ya kami sekeluarga menolak karena tidak ada biaya segitu sementara ayah Arif Cuma narik becak dengan penghasilan hanya 50rb sehari sedangkan saya hanya ibu rumah tangga, akhirnya kami bawa pulang saja Arif ke rumah” cerita Sriati dengan mata berkaca – kaca seakan menahan tangis.

Setelah dibawa pulang, Arif hanya dirawat begitu saja sama seperti bayi pada umumnya padahal kondisi kepala Arif kian membesar. Beberapa tetangga kemudian menyarankan untuk berobat alternative namun tidak membuahkan hasil.

“Pernah disarankan tetangga ke Alternatif tapi gak ada hasilnya dan saya hanya bisa pasrah dan saya rawat sebisa dan semampunya” terang Sriati.

Sriati mengatakan bahwa beberapa perawat desa terkadang  menjenguk Arif dan memantau perkembangannya namun mereka tidak bisa berbuat banyak dan hanya sekedar memantau perkembangan Arif.

“Beberapa perawat dari Puskesmas sempat kesini tapi ya hanya melihat lihat saja, kalau bantuan dari pemerintah ya hanya setahun sekali itu Cuma mie instan, sembako dan lain lain” Kata Sriati.

Ditanya perihal kepemilikan kartu miskin, BPJS, dan lain lain, Sriati mengaku tidak punya dan tidak pernah di daftarkan. Sriati Cuma bisa berharap agar Arif bisa cepat sembuh dan hidup seperti anak anak pada umumnya. (gbl/red)

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top