Anda berada di :
Rumah > Ekonomi > Ponorogo Bangun Kampung Reog Mirip Universal Studio

Ponorogo Bangun Kampung Reog Mirip Universal Studio

Ponorogo – Keinginan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni untuk membangkitkan ekonomi masyarakat mulai terlihat. Ia membangun kawasan industri, tidak hanya kampung batik. Ipong juga akan membangu kampung reog serta outlet yang memamerkan produk warga Ponorogo.

Untuk membangun kawasan industri itu, Ipong menyiapkan lahan seluas 6 hektar di Jalan Tambakbayan. Total anggaran yang dibutuhkan Rp 70 Miliar dengan rincian Rp 60 Milar dari APBD dan Rp 10 Miliar dari Kementerian Pariwisata. Rencananya, pembangunan yang dimulai sejak awal 2017 lalu ini akan selesai di akhir tahun 2018.

“Bahkan nantinya di kampung reog akan dibangun seperti Universal Studio Singapura,” tuturnya di sela-sela kunjungannya di Desa Ngroging, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Kamis (21/12/2017).

Ia menjelaskan gambarannya, nantinya akan dibangun sentra batik serta seniman reog yang berkumpul dalam satu tempat. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara bisa tahu bagaimana proses pembuatan reog, bagaimana membuat batik dan lain-lain.

“Disini akan ada pula panggung mini yang setiap saat reog bisa tampil bahkan setiap jam tampil di depan wisatawan yang ingin melihat pertunjukkan reog,” jelasnya.

Pasalnya, selama ini ia mendapatkan keluhan dari wisatawan yang datang ke Ponorogo jarang bisa melihat pertunjukkan reog secara langsung. Padahal para wisatawan ini sangat ingin melihat secara langsung.

“Nantinya seniman reog dikumpulkan dibagi harinya atau shiftnya jadi di panggung ini tidak akan kosong,” terangnya.

Tidak hanya panggung reog, disini juga akan dibangun studio mini dengan pemutaran film reog dengan durasi 20 menit dan kapasitas 30-40 orang. Selain itu, juga dilengkapi dengan museum mini yang berisi cerita gambar reog dari tahun ke tahun.

“Semua versi reog mulai dari versi Bantarangin, Ki Ageng Kutu dan obyok semua ditampilkan,” tambahnya.

Tidak hanya menampilkan reog sebagai identitas Ponorogo, disini juga disediakan 307 outlet yang akan menampilkan produk milik masing-masing desa di Ponorogo. Namun baru 157 desa yang mengajukan untuk menempati outlet.

“Sisanya biar menyusul, kan sesuai dengan one village one product,” ujarnya.

Disini nantinya juga akan dibangun gedung pertunjukkan atau gedung kesenian. Nantinya juga aka nada perform musik akustik dengan kualitas yang bangunan yang bagus. “Tidak hanya akustik penampilan kesenian lainnya juga diperbolehkan,” pungkasnya (dtk)

 

 

Sumber : news.detik.com

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top