Anda berada di :
Rumah > Bisnis > Penuhi Kebutuhan Pasar Ekspor Komunitas Lelezat Ajak Masyarakat Budidaya Lele Organik

Penuhi Kebutuhan Pasar Ekspor Komunitas Lelezat Ajak Masyarakat Budidaya Lele Organik

Kusbandi (kaos hitam) memberi pakan pada bibit lele organik yang baru ditebar.

Sidoarjo – Ternyata pasar luar negeri, khususnya Jepang dan Korea Selatan sangat membutuhkan pasokan lele organik dari Indonesia. Hingga saat ini ceruk pasar ini masih terbuka lebar karena tingkat kebutuhannya belum bisa dipenuhi.

Peluang besar ini yang kemudian ditangkap oleh Lelezat, sebuah Komunitas Budidaya Lele Organik yang berlokasi di Desa Kebonagung Kecamatan Sukodono Sidoarjo untuk ikut memenuhi kebutuhan pasar ekspor tersebut.

Ketua Lelezat, Brigjen (Pur) H. Kusbandi, SH menjelaskan pihaknya sudah berkomunikasi dengan empat perusahaan eksportir lele organik. “Tiap eksportir membutuhkan 50 ton per bulan,” katanya saat ditemui disela-sela acara penaburan benih pertama di kolamnya yang berlokasi di RT. 18 RW. 6 Desa Kebonagung, Minggu 17 Desember 2017 kemarin.

Dikatakannya, saat ini pihaknya baru membudidayakan 52 kolam lele yang mampu menghasilkan komoditas perikanan air tawar itu sebanyak 8 ton/bulan. Kolam-kolam berbentuk bundar itu dikelola secara modern plus menggunakan pakan organik dengan masa pemeliharaan 90 hari.

“Jadi kami menaburkan empat ribu benih lele ke setiap kolam. Dan dalam jangka waktu tiga bulan setiap kolam akan menghasilkan 500 kg. Penaburan bibitnya akan kami lakukan secara berkala sehingga sejak 3 bulan pertama kami bisa menghasilkan delapan ton lele organik setiap bulannya,” katanya lagi.

Lebih lanjut Brigjen (Pur) H. Kusbandi, SH mengatakan komunitasnya itu digerakkan bersama 22 pemilik modal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap pemodal menginvestasikan dananya sebesar Rp 11,25 juta. Setiap kali panen para pemilik modal tersebut mendapatkan share keuntungan  sebesar Rp. 2,25 juta.

 Kusbandi (kaos hitam) dan Ny. Agustinus menandatangani nota kesepakatan kerjasama pengelolaan kolam lele organik.
Kusbandi (kaos hitam) dan Ny. Agustinus menandatangani nota kesepakatan kerjasama pengelolaan kolam lele organik.

“Jadi sifatnya passive income. Para pemodal hanya sekali saja menyetorkan dananya. Setelah itu mereka akan mendapatkan setoran keuntungan setiap tiga bulan sekali tanpa harus melakukan apa-apa karena pengelolaan kolam digarap oleh tim yang sudah sangat berpengalaman dalam hal budidaya Lele organik,” imbuhnya.

Para pemilik modal juga tidak perlu memikirkan pemasaran komoditas yang dihasilkan, karena sudah ditangani tim pengelola tadi. “Semuanya sudah pasti terserap. 80% dilempar ke pasar ekspor. Sisanya untuk pasar lokal. Itupun sudah ada pengepul yang mau menerima,” tegasnya.

Guna memenuhi kebutuhan pasar tersebut, pihaknya berencana membuka lagi lokasi kolam pembudidayaan lele di tempat lain. “Lokasinya sudah ada dan telah siap dikelola. Jadi kalau ada yang ingin menanamkan investasinya, silahkan menghubungi kami,” tambahnya.

Brigjen (Pur) H. Kusbandi, SH juga menyatakan kesiapannya membagikan ilmu budidaya lele organik tersebut pada kelompok-kelompok masyarakat lainnya. “Silahkan dikelola sendiri untuk bisa menghasilkan makanan yang sehat, lezat dan halal sepanjang masa. Dan kami juga siap membantu apapun yang dibutuhkan, baik itu terkait pemasaran, penyediaan bibit dan pakan bahkan pengadaan kolamnya,” pungkasnya.

Hal ini dilakukan karena komunitas Lelezat tergerak untuk ikut mensejahterakan masyarakat melalui usaha mandiri di sektor perikanan air tawar yang tak banyak dilirik warga perkotaan meski berpotensi menghasilkan keuntungan yang signifikan asal dikelola secara benar.*(lud)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top