Anda berada di :
Rumah > Bisnis > RUMITNYA MEMBANGUN SEMEN “ASLI” INDONESIA

RUMITNYA MEMBANGUN SEMEN “ASLI” INDONESIA

pabrik-semen

Polemik Rembang semakin menarik saja. Pemberitaan menggelikan muncul dimana-mana. Seketika muncul pemikiran saya untuk membuat tulisan ini. Sebagai rakyat Indonesia yang peduli akan bangsanya, wajar jika saya terketuk hati dan pikirannya ketika melihat polemik Rembang yang tidak berkesudahan.

Jika mendengar polemik rembang, konflik rembang, atau kasus rembang, saya yakin jika pemikiran sebagian besar anda telah tersetting untuk menjadi pendukung dari pihak KONTRA. Tapi jika anda amati secara jernih, tidak memihak, pergi ke rembang untuk bertemu dengan warga desa dan pekerja pabrik, anda akan melihat bagaimana tidak berdayanya pihak-pihak PRO yang juga ingin aspirasinya didengarkan.

Saya bukanlah pendukung fanatik dari Semen Indonesia. Bukan pula seorang penolak. Saya hanya ingin bersikap netral dalam melihat konflik ini. Dan perjalanan saya ke Rembang seminggu yang lalu menunjukkan pada saya fakta yang sangat jauh berbeda dari apa yang sedang di gembar-gemborkan oleh media.

Ketika berkunjung ke pihak PRO, saya berkenalan dengan Pak Ridwan dan Ibu Suharti. Mereka menceritakan bagaimana terbelakangnya kondisi pembangunan di daerah tersebut, tingginya angka kemiskinan, dan belum lagi maraknya terjadi pernikahan dini. Namun mereka merasa beruntung, pendirian pabrik Semen Indonesia menyasar ke Desa mereka. Hingga terjadilah perubahan dalam sosio-ekonomi masyarakat. Munculnya lapangan kerja, adanya diversifikasi mata pencaharian masyarakat, dan masuknya infrastruktur, sangat membantu menaikan tarap kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Mereka berharap agar pembangunan pabrik tetap berjalan.

Dan ketika berkunjung ke pihak KONTRA, saya bertemu dengan Ibu Sutini. Menurutnya, sebagian kecil petani yang menolak keberadaan pabrik semen memang berasal dari Desa Timbrangan dan Desa Tegaldowo. Mereka khawatir tidak bisa melanjutkan profesinya mengolah lahan pertanian dan mewariskan kepada anak cucu. Beliau mengatakan bahwa status kepemilikan tanah petani yang berada di lokasi pembangunan pabrik PT Semen Indonesia dan saat ini diklaim sebagai lahan pertanian yang terancam hilang, ternyata jauh hari sudah dijual oleh masyarakat kepada para broker atau calo tanah.

Sungguh fakta yang mengejutkan!

Meskipun demikian, pihak KONTRA terus meneriakan penolakan. Mereka mencambuk pihak PT Semen Indonesia lewat putusan peradilan, demo penolakan, dan penggalangan dukungan yang disebarkan melalui media massa, jaringan kampus, media sosial, petisi, hingga menyeret tokoh-tokoh agama dan masyarakat dalam setiap testimoninya.

Tapi sangat aneh bagi saya, jarang sekali saya menemukan hal serupa yang menandingi dari PRO SEMEN. Bukankah Semen Indonesia adalah BUMN? Apakah tidak ada yang membela kepentingan negara?

Sementara itu, PT Semen Indonesia yang dijadikan sasaran oleh pihak kontra seakan tidak menyadari bahwa perang besar ada dihadapannya. PT Semen Indonesia sibuk melakukan kegiatan pemberdayaan-pemberdayaan warga desa, memberikan warga edukasi mengenai green industry, hingga menggelontorkan milyaran dana CSR guna menyejahterakan warga.

Manajemen PT Semen Indonesia berjuang keras agar CSR bisa tepat sasaran dan dana benar-benar termanfaatkan secara optimal. Jangan berpikir jika pembagian CSR dapat sehari rampung. Belum lagi mereka juga harus menghadapi aktor-aktor desa yang sedikit “nakal”.

Pemerintah pun seakan terlihat gamang dalam bersikap. Di satu sisi pemerintah berbicara tentang pembangunan infrastruktur, berusaha mengurangi impor, dan menyerukan untuk mencintai produk-produk asli Indonesia. Tapi nyatanya? tidak ada pembelaan bagi Semen Indonesia yang notabene nya asli milik Indonesia. Mereka selalu menggunakan senjata “akan meninjau ulang”.

Satu kesimpulan saya, begitu rumitnya membangun semen “asli” Indonesia. Mungkin banyak yang lupa, bahwa Perusahaan swasta  dan asing menguasai kapasitas produksi semen nasional sebesar 56%. Sementara perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hanya menguasai kapasitas produksi sebesar 44%. Belum lagi pada tahun 2017, akan masuk 10 perusahaan asing yang akan membangun pabrik semen di sejumlah wilayah di Indonesia.

Semen Indonesia akan dihadapkan pada tantangan yang sangat berat untuk bisa bersaing dengan kompetitor swasta dan asing di negeri sendiri. Jika Semen Indonesia kalah, maka yang menang adalah ” Perusahaan Semen Asing”. Mereka tinggal menambahkan kapasitas sambil impor semen dari negaranya, karena dalam aturan Perdagangan pabrik  semen yang sudah mengajukan investasi bisa melakukan impor semen untuk “pengenalan produk”. Maka, selamat menikmati produk asing. Selamat melihat devisa turun.!**

 

 

 

Sumber : untukindonesia.wordpress.com

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top