Anda berada di :
Rumah > Bisnis > Kayu Indonesia Dengan V-Legal Berpeluang Masuk Eropa

Kayu Indonesia Dengan V-Legal Berpeluang Masuk Eropa

kayu indonesia
ilustrasi Program SVLK Kurang Sosialisai Sejumlah pekerja menaikan kayu jati di Benculuk, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (17/11/2015). Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menyebutkan, Penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) oleh kementrian Lingkangan hidup dan Kehutanan terkendala kurangnya sosialisasi pemerintah daerah(ant/int)

Jakarta – Produk kayu Indonesia yang dilengkapi v-legal berpeluang memperluas pasar ke Uni Eropa yang mengharuskan produk kayu impor harus dilengkapi dokumen legalitas.

“Keseriusan Uni Eropa mencegah masuknya kayu ilegal adalah peluang untuk memperluas pasar bagi produk kayu Indonesia yang telah dilengkapi v-legal,” kata Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Agus Justianto kepada wartawan di stand Indonesian Legal Wood pada Indonesia International Furniture Expo 2016 di Jakarta, Minggu.

Dalam siaran persnya, Agus Justianto mengatakan, keseriusan tersebut diyakini akan berdampak positif bagi Indonesia. Pasalnya, Indonesia telah mengembangkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk memastikan seluruh produk kayu berasal dari sumber yang legal.

SVLK menjadi bagian dan diakui berdasarkan perjanjian kemitraan sukarela untuk penegakan hukum, perbaikan tata kelola dan perdagangan sektor kehutanan (FLEGT VPA) antara Indonesia-Uni Eropa yang ditandatangani tahun 2013.

Dokumen legalitas kayu (v-legal) yang diterbitkan berdasarkan SVLK dalam waktu dekat akan disetarakan sebagai lisensi FLEGT sehingga produk kayu Indonesia bisa masuk pasar Eropa tanpa uji tuntas (due dilligence).

Agus Justianto mengajak semua pelaku usaha termasuk furnitur untuk segera mengikuti audit SVLK. Pada stand Indonesia Legal Wood yang didukung “Multistakeholder Forestry Programme III”, ada 15 industri kecil dan menengah (IKM) mebel dan kerajinan yang secara khusus mempromosikan penggunaan kayu legal.

“Mereka telah menerima manfaat dari SVLK berupa peningkatan ekspor. Peluang ini juga bisa diperoleh IKM lain dengan segera melakukan sertifikasi legalitas kayu,” ujar Agus.

Menurut data Sistem Informasi Legalitas Kayu ekspor Indonesia ke Uni Eropa sejak Januari 2013-Desember 2015 mencapai 211,9 juta dolar AS atau sekitar 9,23 persen dari total yang mencapai 22,5 miliar dolar AS.

Pemerintah menargetkan nilai ekspor furnitur dan kerajinan naik menjadi 5 miliar dolar AS pada tahun 2019. Sementara pada tahun 2015 lalu, nilai ekspor mebel Indonesia tercatat 1,3 miliar dolar AS, naik 5,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. (ant/cp)

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Top