Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Vonis Dua Tahun Ahok, Adilkah?

Vonis Dua Tahun Ahok, Adilkah?

Seperti apa yang menjadi pembicaraan bahkan menjadi isu nasional, sosok seorang Basuki Thahaja Purnama. biasa dikenal juga denagan nama Ahok dan permasalahan yang seru tapi sangat rumit serta menarik disimak.

Semua bemula ketika Mantan Gubernur DKI Jakarta itu melakukan kujungan kerja di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, perkataan yang mengutuip dari Al-Qur’an, surat Al-maidah ayat 51 , yang dianggap sudah melecehkan Agama islam.

Dengan adanya peristiwa tersebut khalayak dipaksa untuk membenci sosok seorang ahok dengan berbagai pemberitaan dimedia yang negatif, apalagi degan adanya pergerakan para alim ulama yang dimotori oleh Riziq Syihab mengadakan demo besar-besaran untuk menghukum ahok bahkan dengan hukuman mati, sampai seperti itu efek dari sebuah kalimat yang niatnya sendiri untuk membuka fikiran publik agar tidak terpengaruh kepada orang yang menjadikan suatu ayat dalam kitab suci sebagai senjata untuk kekuasaan politik.

Sungguh kita bisa banyangkan sekali lagi hanya karna suatu kalimat sesorang bisa di penjara selama 2 tahun, bisa juga menguras tenaga dan emosi mayoritas rakyat Indonesia, dan yang paling luar biasa hanya karena sebuah kalimat bisa mempersatukan umat yang asalnya terpencar-pencar bahkan berbeda pendapat antar umat bisa bersatu dan lawanya hanya sosok seorang yang dianggap pendusta.

Waktu terus berlalu sidang demi sidang pun dijalani oleh ahok, dan pada akhirnya ia resmi di vonis selama 2 tahun penjara, seperti dilagsir dari detik news, ahok dinyatakan majelis hakim terbukti melakukan tindak pidana dalam pasal 156a KUHP, yakni secara sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan permusuhan, penyalagunaan atau penodaan terhadap suatu agama.

Meskipun begitu dia adalah serang sosok pemimpin yang tegas sebenarnya dan cocok untuk mengatasi permasalahan yang ada di Jakarta buktiya seperti berhasil membuat transportasi umum lebih nyaman, membuat jakara lebuh rapi, mewujudkan sungai yang bersih dan membasmi pungutan liar, dll.

Tapi masih banyak juga masyarakat yang memaknai niat baik dari seorang mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut dan kebijakan-kebijakanya malah mencekik rakyat.

Contohnya reklamasi yang masih menggatung kasusnya sampai saat ini.
Dia yang dianggap pendusta, pendosa dan seorang yang kafir tidak beragama islam dia patas dibunuh darahnya halal, namun dalam kenyataanya ahok mungkin lebih baik dari pada seseorang yang waktu itu menjadi mentri agama yang terlibat kasus korupsi dana dan kuota haji pada tahun 2011-2013.

Sekarang bisa dibayangkan lebih hina mana dan lebih pendusta mana?.
Aneh bukan, dan yang menjadi pertanyaan besar kenapa pada waktu itu tidak ada protes dari umat padahal itu nyata khasus dana haji dan penyalagunaan kuota haji.

Apakah ada permainan politik kenapa sampai begitu dasyatya masalah yang tidak harus dijadikan masalah tersebut, apakah salah seorang pemimpin yang tujuanya membuka jalan fikiran dan mainset rakyatnya meskipun dengan membawa contoh ayat, tapi dalam kutipan pidato tersebut adalah bukan menyebut “jangan mau dibohongi surat suci” tetapi “jangan mau dibohongi sama orang yang mebawa-bawa surat” denagan demikian ada keganjilan didalam peristiwa ini.

Dari kejaian di atas kemudian menjadi akar dari lunturnya sikap bertoleransi dan kebebasan tidak boleh memilih pemimin dari luar agama lalu di masa yang akan datang akan jelas adanya suatu diskriminasi kepada masyarakat yang minorias (agama lain), kita harus melihat kembali seperti yang ada pada panasila pasal kedua”kemanusiaan yag adil dan beradap” juga arti “bhineka tunggal ika” nilai-nilai tersebutlah yang mulai luntur dalam masyarakat kita.

Terlepas belenggu permasalahan diatas mungkin disisni lebih dipupuk lagi sikap bertoleran apalagi di negeri tercinta ini banyak sekali perbedaan agama, suku, maupun ras, yang bisa saja menjadi konflik yang berkelanjutan, oleh karena itu Apa susahnya menghargai kalau kita menghargai otomatis kita juga di hargai.

Aksi yang dianggap pembelaan terhadap agama ini memang tujuaanya sangat mulia tetapi setelaah khasus ini mulai berangsur-angsur selesai, ada unsur politik didalamnya dan hal ini yang mungkin tidak kita sadari karena memang sangat suliit membaca situasi dalam masalah tersebut.

Penulis : Adyad Ammy Iffansyah
(Prodi Akidah Filsafat Islam – Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top