Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Vandalis Berjubah Demokrasi

Vandalis Berjubah Demokrasi

Lalu lintas media sosial beberpa hari ini banyak hilir mudik slogan demokrasi dengan segala model yang penuh warna. Sejatinya demokrasi dibangun untuk meletakkan posisi dasar rakyat sebagai pemilik kekuasaan, dan oleh karenanya lahirlah sebuah pemeo suara rakyat adalah suara Tuhan.

Demokrasi sejatinya dilahirkan dari sebuah antitesa terhadap sistem yang otoriter ditangan seseorang, sehingga dari demokrasi itu diharapkan akan lahir sebuah sistem ketatanegaraan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Namun sayangnya dalam proses berdemokrasi tidak semua mampu memaknai dasar dasar kemanusiaan yang memanusiakan. Sehingga kadang terjadi praktek demokrasi yang menindas moralitas kemanusiaan. Yang kuat yang menang, tak ubahnya praktek kehidupan tak beradab yang hanya dilakukan oleh binatang.

Mengapa Bisa Terjadi?

Sebagai pemegang kedaulatan, rakyat sangat menentukan warna dan arah demokrasi. Rakyatlah yang mempunyai otoritas memberi warna corak demokrasi. Rakyat yang baik dan beradab akan membawa arah demokrasi menuju demorasi yang berkeadaban, sebaliknya rakyat tak terdidik dengan baik akan cenderung memberi warna demokrasi dengan warna warna yang bercorak kekerasan, suara terbanyak dijadikan alasan untuk menindas orang lain yang dianggap lawan. Demokrasi menjadi jatuh dititik nadir, tanpa keadaban dan jauh dari prinsip prinsip keadilan dan penghormatan kepada hak asasi manusia.

Vandalisme menjadi nafas ketika para preman dan ” uncivilized people ” mendapatkan kesempatan untuk menjalankan kekuasaan. Saya lalu membayangkan hal yang sama ketika melihat sebuah tontonan televisi yang menayangkan ” wild animal “, diperlukan penguasaan demarkasi untuk menyatakan dirinya berkuasa. Penguasaan demarkasi dilakukan dengan cara membuat koloni dengan menyingkirkan koloni yang lain dengan cara cara yang tidak beradab.

Menyadari dan merenungi tentang keadaban dan ketidakberadaban, maka bisa kita lihat sebuah keadaban akan melahirkan model manusia yang beradab. Model manusia seperti lahir dari sebuah proses yang tentu menyandarkan nilai nilai yang dianut pada asas ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Proses penyandaran nilai nilai yang baik hanya akan bisa dilakukan oleh mereka yang baik dan selalu menjalankan nilai nilai kebaikan. Bukankah kebaikan itu ibarat sebuah air yang bersih, maka dia bisa dipakai untuk segala bentuk kebutuhan.

Sedangkan kebiadaban akan melahirkan praktek praktek kekerasan dan penindasan dan perampasan hak asasi. Proses ini lahir dari ketidakmampuan mendidik diri mengendalikan id dan ego, sehingga superego menjadi terhina dan tak berdaya. Proses ini cenderung melahirkan sikap bar bar, menang sendiri, tak mampu mebedakan benar dan salah yang ada perilaku membabi buta demi sesuatu yang dianggap bida memberinya manfaat, karena jauh dari nilai nilai ketuhanan, maka pembelaannya cenderung bersifat materi dan pragmatis. Perilaku kebiadaban seperti ini ibarat air bersih yang dimasuki kotoran, meski air itu berlimpah karena kotoran itu maka, keadaan akan menjadi kotor. Kebiadaban dan praktek culas dalam berdemokrasi akan melahirkan kekotoran sistem.

Apa Yang Bisa Dilakukan?

Dalam hidup akan selalu ada benar dan salah, namun setiap orang yang mampu mengedukasi diri, akan mampu menjadikan dirinya menjadi sebuah energi kebaikan. Tentu saja lingkungan dan sistem yang baik akan memberi suasana yang baik dalam menumbuhkembangkan suasana yang baik.
Oleh karenanya penting bagi kita semua memulai mencipta sebuah koloni yang baik dan menjaga untuk tidak bersentuhan dengan koloni yang tidak baik. Karena ketidakbaikan pasti akan merusak kebaikan yang akan kita jalankan. Ada baiknya kita tegas menjauh dari mereka yang meruntuhkan nilai nilai keadaban.

Biarkanlah ketakberadaban mereka menyatu bersama koloninya sendiri, karena yakininilah koloni ketidakbaikan itu tak akan pernah bisa menyatu bersama, karena diantara mereka sejatinya saling memangsa. Dalam ketidakbaikan koloni tidak ada yang disebut dengan sinergi dan kersama. Yang ada saling memperdayai dan saling memangsa.

Nah praktek kehidupan berdemokrasi kita nampaknya terbelah, satu koloni berhimpun dalam kebaikan dan keadaban, disisi lain hidup koloni tak beradab yang tumbuh dengan kekuatan perilaku preman.

Akhirnya ditengah perilaku demokrasi preman seperti ini ada baiknya praktek praktek mereka yang cenderung berwatak preman kita biarkan, tak perlu kita perhatikan, sehingga praktek preman akan diyakini menjadi kebenaran. Dan tentu akhir dari ketidak mampuan membedakan benar dan salah adalah kehancuran.

” Katakankah bahwa kebenaran telah datang, dan kebenaran itu akan menyirnakan kebathilan, Sesungguhnya kebatilan itu pasti akan hancur dan kalah ”
Kawan… tetaplah tegas dan kuat dalam kebenaran, dan jangan kendor menghadapi ketidak adilan dan sikap preman, bangkitlah dan melawan perilaku preman, janganlah bersikap lemah, Inshaa Allah rakyat bersamamu.

Assalamualaikum wr wb, selamat berkarya dan menabur kebaikan untuk Indonesia

Surabaya, 28 Agustus 2018

M. Isa Ansori

Warga Surabaya dan pegiat pendidikan yang memanusiakan

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top