Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Tidak Selalu Sama Dengan Harapan

Tidak Selalu Sama Dengan Harapan

Pagi sampai siang hari ini, Minggu, 17 Juni 2018, saya dengan beberapa orang yang sama sama punya waktu luang sepakat untuk betrtemu sebelum perjalanan menuju Lapas Kelas 1 Porong Sidoarjo. Dalam pembicaraan ringan ada disorot bahwa seringkali apa yang kita lakukan itu merupakan sesuatu yang baik, tapi kadang belum tentu bisa diterima baik oleh orang lain. Yang lebih memprihatinkan adalah seringkali dikembangkan penilaian pragmatis dan instan untuk menilai hasil kerja seseorang serta susah diajak berdiskusi untuk melihat persoalan secara utuh.

Selama perjalanan saya cuma sesekali memberikan pandangan pandangan mengapa bisa bisa terjadi seperti itu? Menurut hemat saya memang tidak semua apa yang kita harapkan akan selalu sesui dengan kenyataan. Ini kata kunci yang harus kita yakinkan dulu kedalam diri. Banyak contoh dalam hidup ini yang bisa menjungkir balikkan logika.misalkan kita sudah belajar dengan baik, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ketika sesuatu yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, lalu kita rasakan terlalu dalam, hasilnya akan berupa kekecewaan. Berharap agar orang lain bisa memahami tentu membutuhkan energi yang cukup besar dan belum tentu bisa berhasil, hal yang paling mungkin dilakukan adalah merubah cara pandang kita terhadap orang lain.

Menentukan Cara Pandang

Cara pandang akan menjadika sesuatu yang dipandang mempunyai makna sesuai dengan kebutuhan. Ibaratnya dalam pengambilan foto, kalau pengambil foto mampu menentukan sudut pandang yang tepat, hasil foto akan terlihat sangat baik. Berbeda dengan para juru foto amatir, karena cara pengambilan fotonya asal jepret, hasilnyapun kadang apa adanya.

Sebuah hasil foto bisa menjadi baik dan apa adanya karena memang diambil berdasarkan sebuah keahlian. Kalau kita punya keahlian dalam bidang foto, maka kita akan tahu bagaimana menjadikan sebuah objek yang apa adanya menjadi objek yang bernilai luar biasa. Begitu juga sebaliknya, kalau kita tak punya ilmu dan keahlian, maka hasilnya tidak selalu bisa bernilai lebih dibanding object yang sebenarnya. Keahlian dan keilmuan menentukan kemampuan seseorang merubah realitas yang dihadapi.

Berkaitan dengan relasi sosial yang kita jalani, tentu merubah harapan kita terhadap orang lain, merupakan sesuatu yang mudah kita lakukan, karena variabel pengganggunya ada pada kita. Mengontrol diri akan lebih mudah dilakukan daripada melakukan kontrol terhadap variabel pengganggu yang dimiliki orang lain.

Setiap orang pasti dalam menjalani aktifitas butuh rasa bahagia. Nah bagaimana kita menentukan bahagia terhadap diri ketika berhubungan dengan orang lain. Bahagia merupakan sebuah perasaan yang tidak terukur. Agar bisa melakukan langkah langkah menuju bahagia, maka kata bahagia harus kita terjemahkan dalam bentuk hasil hasil yang bisa diukur. Bahagia bisa kita terjemahkan dalam sebuah perilaku yang terukur, misalnya kita bisa disebut bahagia kalau kita bisa memberi bantuan kepada orang lain. Kita disebut bahagia kalau kita bisa membuat orang lain tersenyum, kita bisa disebut bahagia kalau kita bisa beli barang yang kita inginkan dan lain lain. Dengan menentukan ukuran kebahagiaan yang bisa kita lakukan maka kita akan bisa menentukan langkah langkahnya sekaligus capaian capaian yang kita buat. Dengan cara seperti itu maka kita akan menjadi lebih mandiri dan tidak disibukkan dengan penilaian orang lain.

Memulai hidup bahagia ditengah situasi yang serba tidak teratur dan heterogin harus dilakukan. Menunggu perubahan yang dilakukan oleh pihak lain juga sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sehingga tak perlu lagi disibukkan dengan hal hal yang tidak dalam jangkauan kita. Nah dalam banyak hal saya selalu menyarankan perubahan bisa kita mulai dari 3 hal, Mudah, Murah dan Bisa. Murah biayanya, Mudah kita lakukan dan kita bisa menjalankannya.

” Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, Yang memberatkan punggungmu ?, Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu , Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap ” ( Qur’an Surat Alam Nasroh ) .

Assallammualaikum wr wb… Selamat pagi selamat beraktifitas, semoga Allah memberkahi kita dengan hidup yang bahagia dan berkah… Aamien.

Surabaya, 18 Juni 2018

M. Isa Ansori

Staf pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya, Sekretaris Lembaga Perlindungan
Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim.

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top