Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Teologi Pendidikan Sebuah Keniscayaan Di Zaman 4.0

Teologi Pendidikan Sebuah Keniscayaan Di Zaman 4.0

Membincang pendidikan tidak akan pernah ada habisnya,  sebab pendidikan adalah persoalan besar kemanusiaan. Sehingga pendidikan akan selalu dituntut untuk selalu relevan dan menjawab perubahan zaman.

 

Perubahan sosial yang begitu cepat dengan diiringi perkembangan tehnologi yang begitu dahsyat,  akan mendorong terjadinya transformasi budaya semakin deras dan cepat. Tak pelak lagi akan berakibat adanya perkembangan politik yang tak lagi apik, jarak ekonomi akan semakin lebar meringkih,  serta pergeseran nilai nilai kemanusiaan yang tak lagi sepadan dengan harapan.

 

Dalam situasi seperti ini,  pendidikan diharuskan memfokuskan pada arah mencari jalan keluar terhadap situasi yang terjadi. Situasi ini merupakan konsekwensi logis dari kerja kerja pendidikan yang senantiasa toleran terhadap perubahan normative dan cultural yang terjadi. Sehingga pendidikan bisa menjadi jalan pembentukan manusia yang berbudaya dan proses pembudayaan nilai nilai.

 

Teologi Pendidikan

 

Teologi berasal dari bahasa Yunani,  yang berarti ilmu ketuhanan. Dalam tulisan ini tidak akan membincang tentang ketuhanan,  wujud maupun sifatnya,  tetapi lebih bagaimana refleksi kaum beragama merefleksikan ajaran ketuhanan dalam hubungannya dengan alam semesta. Meminjam istilah Muslim Abdurrahman bahwa teologi sebagai  dasar interpretasi keimanan. Sehingga lewat pendekatan teologi ini manusia yang merasakan proses pendidikan bisa mengimplementasikan ilmunya untuk kepentingan hal hal yang menampilkan sifat sifat Tuhan. Misalkan tidak mengambil hak orang lain,  menghormati dan menghargai serta tidak merusak tatanan tatanan yang sudah menjadi takdir Ketuhanan.

 

Pendidikan dimaknai sebagai sebuah proses berbudaya dari sesuatu yang tidak tahu menjadi tahu,  dari tidak mengerti menjadi mengerti,  dari kurang beradab menjadi beradab,  dan seterusnya. Mohammad Natsir menyebutnya sebagai suatu pimpinan jasmani dan ruhani menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan.

 

Sehingga siapapun yang menjalankan proses pendidikan diharapkan akan mampu menjadikan dirinya ” sempurna ” dalam pandangan ketuhanan. Sempurna dimaknai sebagai wujud upaya implementasi ajaran ajaran yang sesuai dengan kodrat kemanusiaan yang diajarkan melalui nilai nilai ketuhanan.

 

Sehingga Teologi Pendidikan bisa dipahami sebagai sebuah upaya pendekatan proses berkebudayaan dan perubahan manusia dari hal hal yang kurang menuju kearah yang lebih mendekati  kesempurnaan nilai nilai yang dijarkan agama.

 

Generasi millenial yang serba dinamis dan pragmatis,  tentu tidak bisa dengan cara cara yang konvensional,  sehingga kita tidak mengalami dengan apa yang disebut sebagai ” Millenial Shock “, Shock yang berkelanjutan,  karena ketidak mampuan kita mengikuti perkembangan yang ada. Perkembangan yang ada harus disikapi dengan pendekatan yang generasi millenial itu merasa nyaman dan menikmati.

 

Pendekatan nilai nilai keimanan dalam proses pendidikan kepada generasi millenial setidaknya dilakukan melalui proses proses kreatif yang membangun kesadaran, memahami kebutuhannya serta masuk dalam ruang zaman yang sedang digelutinya. Sudah tidak layak lagi mendidik anak anak  dengan cara cara konservative yang membosankan.

 

” Anak – anak itu ibarat busur panah,  sekali melesak ia akan menembus ruang pada zamannya ”

 

Sehingga penting bagi kita para orang tua,  guru atau siapapun yang peduli terhadap  persoalan pendidikan dan perubahan sosial serta perilaku berbudaya  untuk mampu memahami dinamika zaman dan perubahan kebutuhan pada anak anak kita sebagai sebuah pendekatan pendidikan,  kalau tidak… Bersiap siaplah  akan digilas oleh perubahan…

 

Jadilah bijak dengan memahami waktu,  kita berada pada zaman yang sudah lewat, anak anak melesat pada zamannya dan terus bergerak. Tetaplah berpijak pada kebutuhan anak untuk menyiapkan mereka menjalani masa masanya.

 

 

Penulis :Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan,  Pengajar di STT Malang,  Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim,  Anggota Dewan Pendidikan Jatim.

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top