Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Sengkuni Diaspora Dalam Balutan Demokrasi Dan Dekrit Presiden

Sengkuni Diaspora Dalam Balutan Demokrasi Dan Dekrit Presiden

Dalam cerita pewayangan digambarkan seorang tokoh bernama Sengkuni. Sengkuni merupakan sosok cerdik dan licik. Dia mampu membius orang lain dengan penampilan dan tutur kata yang terangkai, seolah dialah orang yang paling jujur, paling hebat dan paling berjasa. Kecerdikan dan kelicikan Sengkuni mengajarkan dia untuk mampu menangkap momentum dengan memutar balikkan fakta. Seolah orang lain yang berbuat akan sesuatu yang dituduhkan, padahal sejatinya yang dituduhkan itu adalah kelakuannya sendiri.

Sengkuni adalah performa simbolik dari sebuah penggambaran tentang gede rumongso, alam bawah sadarnya banyak dipenuhi oleh pengalaman pribadi yang untuk menutupinya dibutuhkan pengalihan tertuduh kepada orang lain. Sengkuni merupakan representasi ketidakjujuran, kecurangan dan kelicikan.

Siapakah Sengkuni Itu?

Sebagai sebuah penggambaran watak, maka siapapun kita bisa menjadi sengkuni. Sengkuni menunjukkan sebuah penggambaran situasi yang terjadi disekitar kita. Betapa kita bayangkan, betapa seringnya kita menjadi pemuja demokrasi yang teriak lantang tentang radikalisme dan intoleransi justru kemudian kitalah yang memulai dengan radikalisme dan intoleransi. Betapa sering dalam demokrasi kita menjunjung suara rakyat sebagai suara Tuhan, tetapi justru kita khianati suara rakyat dan kita menjadi tuhan. Kita sering menjelaskan bahwa demokrasi itu menjunjung tinggi perbedaan, tapi kitalah yang kemudian tidak mau orang lain berbeda dengan kita. Nah sengkuni lebih sering berbicara kebalikan dari sesuatu yang dia gambarkan sebagai sebuah kebaikan.

Bangsa ini seolah telah terbelah menjadi dua, padahal kita mengakui adanya demokrasi. Demokrasi mengajarkan kepada kita tertib mematuhi konstitusi, perbedaan diperbolehkan dan dihargai, tapi sayangnya kita tak mampu menyerap ruh perbedaan sebagai sebuah kekayaan bangsa. Kita menjadi pemerkosa demokrasi itu sendiri.

Mengapa kita kemudian menjadi ademokrasi, asosial dan intoleran. Keadaan ademokrasi merupakan sebuah penolakan terhadap menjunjung tinggi suara rakyat, penolakan terhadap kuasa rakyat dalam demokrasi dan perbedaan pendapat merupakan sifat asosial. Sikap egois yang lebih mementingkan kepentingan diri. Sikap ini lebih didasari ketidak mampuan kita menerima perbedaan dan itu merupakan gejala kepanikan.

Suasana takut dan perasaan akan kehilangan merupakan alasan dasar orang menjadi panik. Kepanikan kadang mempengaruhi perilaku seseorang menjadi defensif terhadap orang lain. Sikap defensif ini dilakukan sebagai upaya untuk menutupi watak liciknya lalu memunculkan tindakan agressif untuk melemahkan dan memutarkan balikkan fakta yang sebenarnya, sehingga kelicikannya tertutupi .

Demokrasi menjadi tak bermartabat, demokrasi menjadi siapa yang kuat dialah yang menang, siapa yang berani dialah yang menguasai, wajah demokrasi belepotan watak preman, demokrasi berisi persekusi, demokrasi berwajah vandalis.

Sengkuni Diaspora

Sengkuni Diaspora mengalir dalam jargon dan teriakan demokrasi para perampok kuasa rakyat. Demokrasi ternista, rakyat disemai dengan jargon palsu dan kuasa dusta. Sengkuni adalah kita, ketika kepalsuan dan menghalalkan cara jalan merebut kuasa.

Jalan membangun dengan pilihan demokrasipun semakin terjal, ketakjujuran seolah menjadi biasa, menyebar fitnah seolah merupakan cara, ah Indonesia berduka

Aparat tak kuasa merawat keadilan, kesan pembiaran diabadikan, kasian pak presiden, kerja kerja yang dilakukan digerogoti oleh kita yang mendiasporakan sengkuni dalam diri.

Melawan Dengan Konstitusi

Pilihan demokrasi sudah menjadi kesepakatan. Bagi demokrat sejati maka jalan konstitusi merupakan pilihan, bagi demokrat sejati bersiaplah merebut kuasa dengan nurani yang bersih.

Ketika persekusi merajalela dan pembiaran terjadi, karena diduga menjadi bagian produk konstitusi, maka dekrit presiden adalah pilihan pahit yang harus dijalankan.

” Kalian semua adalah sebaik baik ummat, ketika kalian mampu menebar kebaikan dan melawan kebathilan, Percayalah kalian pasti dimenangkan ”

Assalammualaikum wr wb, selamat pagi, selamat berkarya, semoga kebaikan selalu bersama kita.. Aamien.

Surabaya, 29 Juli 2018

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan dan warga

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top