Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Mengembalikan Sekolah Sebagai Ekosistem Kebudayaan

Mengembalikan Sekolah Sebagai Ekosistem Kebudayaan

Menarik sekali membincang sekolah sebagai sebuah komunitas kecil. Sebuah entitas membangun hubungan bermasyarakat. Ditengah badai kegilaan perilaku yang tak menentu, diperlukan upaya sungguh dari sesuatu yang paling kecil dan mudah untuk dilakukan.

 

Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 menyebutkan bahwa “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Amanat ini mewajibkan negara untuk berperan aktif dalam menjalankan agenda Pemajuan Kebudayaan Nasional. UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan merupakan pengejawantahan dari komitmen tersebut. Pada bagian konsideran, butir a, UU No. 5/2017, disebutkan bahwa, “Negara memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dan menjadikan Kebudayaan sebagai investasi untuk membangun masa depan dan peradaban bangsa demi terwujudnya tujuan nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

 

Sekolah  merupakan bagian kecil dari sebuah tempat untuk mengejewantahkan bangunan kebudayaan. Ekosistem dipahami  sebagai tata interaksi yang saling menunjang antar berbagai makhluk hidup dan unsur tak hidup dalam sebuah lingkungan. Inti yang mencirikan suatu ekosistem adalah pola hubungan antar unsur

yang saling menunjang dan terjadi dalam suatu lingkup teritorial tertentu. Sekolah sebagai sebuah ekosistim tentu saja mengandung beberapa unsur dalam mengembangkan kebudayaan. Unsur unsur itu diantaranya ada lingkungan sekolah,  ada murid,  ada walimurid,  ada guru,  ada pedagang kantin,  dan lain lain. Unsur unsur itu bila berinteraksi membutuhkan sebuah nilai dalam melakukannya.

 

Maraknya kekerasan didunia pendidikan terutama dilingkungan sekolah,  menunjukkan bahwa ada sesuatu yang ” sakit ” dalam pola interaksinya. Sekolah sudah mulai kehilangan ” ruh ” sebagai sebuah tempat membangun ” peradaban ” yang  saling menghormati dan menghargai. Sekolah sudah mulai  kehilangan fungsi membangun tata nilai kehidupan,  sekolah hanya berkutat pada persoalan angka angka dan pengetahuan. Sehingga sekolah seolah hanya menjadi mesin sebuah industri, yang hanya melakukan proses tanpa melihat bagaimana  input dikembangkan,  sehingga hasilnya  hanya yang sesuai dengan standar yang sudah ditentukan. Yang tidak memenuhi standar maka akan dibuang. Sekolah kita akhirnya terkesan hanya untuk orang orang baik dan pintar,  yang tidak baik dan pintar akan dibuang. Padahal sejatinya sekolah adalah tempat  mendidik,  yang menjadikan sesuatu dari tidak tahu menjadi tahu,  dari tidak mengerti menjadi mengerti,  itupun dalam  pengembangannya masih harus menyesuaikan dengan potensi yang dimiliki oleh anak didiknya. Didalam pendidikan tidak ada yang terbuang,  yang ada adalah  semua berkembang  sesuai dengan potensi  yang dimiliki.

 

Apa Yang Harus Dilakukan  ?

 

Mengembalikan sekolah sebagai ekosistim kebudayaan bisa dimulai dari perbaikan sistim pendidikan yang berlaku. Mengembalikan sistim yang ada dengan menjadikam semua yang ada disekolah itu penting berdasar posisi  masing masing. Ketika semua menyadari  bahwa diri mereka penting,  maka masing masing akan bergerak dan berinteraksi dengan nilai penting yang dimiliki. Setiap  orang yang ada disana akan merasa dirinya memiliki kelebihan dan kekurangan. Sehingga  merasa butuh untuk saling melengkapi. Sekolah akan menjadi tempat bertumbuhnya sikap ” respect ” dan ” responsibility “.

 

Dari Mana Memulainya?

 

Dalam segala hal memulai sesuatu,  saya selalu berprinsip memulai dari tiga hal, yaitu mudah,  murah dan bisa. Untuk menjadikan sekolah  menjadi sebuah ekosistem kebudayaan, ada baiknya sekolah  memulai melihat apa yang mudah,  murah dan bisa dilakukan. Tentu saja ketiga pertimbangan itu juga harus melibatkan semua orang yang  menjadi ekosistemnya.

 

Sekolah bisa memulai dari pembiasaan hal hal kecil,  misalkan mewajibkan semua orang yang ada disana mengucapkan  ” terimaksih ” kepada siapapun yang dianggap telah berbuat  sesuatu yang manfaat. Kelihatannya memang sederhana,  tapi kalau setiap orang bisa berterima kasih terhadap orang,  ini akan membangun  sebuah  sikap menghargai dan menghormati. Sekolah bisa mengembangkan hal hal lain sebagai bagian mengembangkan tata nilai kebudayaan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya,  sehingga sikap itu akan berkembang  menjadi kebiasaan perilaku yang  akan dibawah kemana mana oleh muridnya.

 

Nah sejatinya tidak ada yang tidak bisa untuk  tidak kita lakukan,  semuanya bisa kita lakukan,  yang sulit adalah menumbuhkan  kemauan. Marilah kita coba  dari hal hal kecil  yyang mudah,  murah dan bisa. Semoga bermanfaat.

 

” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan        manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar) ”

 

” Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan       orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”  ( Al Qur’an Surat  Ar Ruum : 41 – 42 )

 

Assalamualaikum  wr wb,  selamat  pagi,  selamat  beraktifitas,  semoga kita semua ditakdirkan menjadi mamusia yang selalu bisa berbagi kebaikan… Aammien.

 

Penulis : Isa Ansori

 

Pegiat pendidikan yang  memanusiakan,  Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA  )  Jatim,  Anggota  Dewan Pendidikan Jatim,  Pengajar di STT Malang

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top