Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Mengabdi Atau Ambisi

Mengabdi Atau Ambisi

Hari hari ini jagad politik Indonesia dipenuhi dengan berita pendaftaran calon anggota legislatif dan penetapan calon presiden dan wakilnya. Berita tawuran calon anggota legislatif, protes calon yang tercoret namanya dan wajah lama yang mendominasi pendaftaran juga menggambarkan wajah masa depan Indonesia. Memang ada wajah baru dalam pendaftaran mereka, tapi kesannya wajah wajah baru hanya akan menjadi aksesoris dalam kontestasi perolehan suara.

Saya meyakini itu karena masih banyak wajah baru yang hadir yang kualitas kenegarawanannya masih belum teruji dan bahkan ucapannya juga menggambarkan karakter yang akan dibangun dalam perpolitikan Indonesia. Sebut saja kemarin ada mantan artis cilik Tina Toon, yang bagi saya merupakan statemen ” blunder ” dan ” kemeruh ” yang akan merugikan partai pengusungnya. Kualitas kepemimpinannya belum pernah terbukti, modal sosial kemasyarakatan tak pernah teruji lalu membuat statemen menebarkan permusuhan kepada pemerintahan yang sah dan dipilih secara demokratis. Publik lalu bertanya, apa yang sudah dilakukan oleh Tina Toon terhadap negaranya, pengalaman membangun bangsa dan memimpin masyarakat seperti apa yang dilakukan, sehingga ia bisa menganggap orang lain tak layak. Nah kalau sudah seperti ini bisakah disebut mengabdi ?

Kadang kita lupa bahwa mengabdi adalah sebuah aktivitas yang didasari oleh sikap andap asor, sikap bagaimana mengalahkan orang lain tanpa harus mempermalukan, sikap meski kaya tapi tak menyombongkan diri. Tata nilai budaya kita mesti harus seperti itu, Nusantara itu ya seperti itu, bukan menyombongkan diri dan kelompok, diluar kelompok saya mesti salah. Nusantara itu gotong royong, adil dan berketuhanan, menghargai orang lain apalagi pemimpin, kritik boleh, ” maido ” yang tidak boleh. Perjalanan politik kita dipenuhi dengan ” maido “, menjelekkan dan menjatuhkan sesuatu yang dianggap lemah dari orang lain apalagi yang bukan dari kelompoknya.

Politik Sebagai Pendidikan ” Maido ”

Politik sejatinya adalah seni mempengaruhi orang lain agar berkehendak menjalankan gagasan kita tanpa harus merasa terpaksa. Tapi yang terjadi politik kita hari ini tidak cukup hanya dengan mempengaruhi tapi juga memaksa dan mencela. Sehingga politik kita terdengar sangat gaduh dan saling menjatuhkan.

Politik ” maido ” dan saling menjatuhkan ini mengingatkan kita pada sejarah perebutan kekuasaan pada zaman Singhasari. Dimana dalam perebutan kekuasaannya selalu diwarnai dengan intrik, mencari kambing hitam dan dilakukan dengan cara kotor dan selalu ada korban. Sehingga politik maido sejatinya potret politik yang primitif dan tidak beradab.

Politik ” maido ” adalah potret kegagalan pendidikan politik dan juga kegagalan partai politik dalam mendidik kader dan masyarakat. Sehingga gaduhnya suasana politik kita sejatinya menjadi tanggung jawab partai politik dan partai penguasa yang memerintah.

Partai Harus Menjadi Filter

Partai sebagai pintu pertama pembangunan politik yang kritis dan konstruktif, maka diharapkan partai mampu menjadi penyaring siapa saja layak yang ditugaskan untuk mengurus pemerintahan. Partai harus mempunyai standar bagi tersaringnya calon calon terbaik pemimpin bangsa.

Partai yang baik adalah partai yang mampu melakukan pendidikan berjenjang dan memberikan perlakuan yang khusus kepada mereka yang mumpuni. Sehingga partai akan terlihat sebagai sebuah wadah yang mampu memberikan ruang kepada semua dalam membangun negara dan menampakkan wakil wakil dari kelompok masyarakat.

Semoga saja kita mendapatkan pemimpin baik yang dihasilkan dari proses baik partai.

Asssalammualaikum wr wb, selamat berkarya dan bersumbangsih yang baik.

Surabaya, 19 Juli 2018

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan dan pengajar fisip untag ilmu komunikasi untag 1945 Surabaya dan STT Malang

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top