Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Memaknai Konsep Nir Nilai

Memaknai Konsep Nir Nilai

Saya memaknai konsep sebagai sebuah gagasan yang belum tertulis, karena belum tertulis itulah maka seringkali sebuah konsep terasa menjadi hambar ketika diceritakan. Nah agar tidak terasa hambar, ada baiknya sebuah konsep tertuang dalam tulisan agar terlihat menjadi sebuah sistem ketika akan dijalankan. Dengan begitu akan terlihat arah perjalannnya serta mudah dikontrol ketika terjadi pembiasan dalam pelaksanaanya.

Bukankah sering kita jumpai sebuah gagasan baik yang belum tertulis dan masih berbentuk sebuah konsep abstrak, ketika dijalankan seringkali kemudian terwarnai dengan ambisi ambisi nir nilai yang justru semakin menjauhkan dari tujuan sebenarnya. Mengapa itu bisa terjadi? Ya memang karena manusia tempatnya lemah dan lupa. Situasinya akan menjadi lebih parah ketika manusianya kemudian tak menyadari kelemahan dan kekurangannya, selalu merasa tahu dan merasa benar dengan asumsi dan persepsi yang dikembangkannya.

Mencederai Nalar Kebaikan

Ketika dalam sebuah diskusi bagaimana merumuskan konsep menjadi sistem, kadang orang lebih banyak bersandar pada pengalaman sendiri tanpa dasaran ilmu yang bisa dipertanggung jawabkan. Seolah apa yang dipikirkan dan dialami menjadi sebuah harga mati ” kebenaran ” yang sulit untuk dilakukan perubahan. Akibatnya adalah memaksakan kehendak dan memaksakan asumsi untuk dilaksanakan.

Bagi saya perilaku seperti ini akan mencederai nalar sehat. Karena jelas akan terlihat arah perjalananya menjadi kabur dan kemudian yang dijalankan adalah hal suka suka yang muncul didalam pikirannya.

Saya memaklumi bahwa setiap orang butuh ruang beraktualisasi dan berekspresi, lebih lebih kebutuhan untuk diakui. Nah ketika terjadi pemakluman, saya mencoba membuka kembali buku buku saya tentang teori kebutuhan yang diungkap oleh Maslow. Hal yang paling mendasar mendasari persoalan manusia itu adalah kebutuhan fisiologisnya. Kebutuhan dasar berupa sandang, pangan dan papan. Ketika kebutuhan dasar belum bisa terpuaskan, maka bisa dimungkinkan terjadi ” fiksasi ” sebagaimana urai Freud, dan itu berpotensi terjadi pelampiasan ketika manusia menemukan momentumnya.

Bagaimana Mencegahnya?

Membiasakan diri tertib dan percaya akan kelebihan dan kelemahan setiap manusia, bisa menjadi alarm bahwa kita butuh orang lain. Kebutuhan kita akan apa yang dimiliki orang lain membutuhkan nalar sehat dan kesabaran. Nah dari rasa seperti ini memaksa kita untuk membangun saling percaya dan menekan ambisi dan persepsi, terlebih lagi mencurigai sambil mencari informasi yang tak berdasar tentang sebuah pribadi.

Konsep nir nilai akan tumbuh subur pada pribadi yang tak mampu membangun keprcayaan baik terhadap diri maupun terhadap orang lain yang menjadi patner dalam menjalankan strategi capaian.

Menuliskan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang ditulis adalah cara bagaimana menjalankan sebuah konsep yang berisi nilai. konsep yang sudah tertulis akan menjadi sebuah sistem. dan sebuah sistem yang baik adalah sistem yang terbuka, terukur dalam capaian serta mampu menerima saran sebagai bentuk perubahan kearah yang tepat dan baik.

Dengan menuliskan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang ditulis, setiap kita akan terdorong untuk bisa percaya dan mengubur ambisi dan persepsi diri yang jauh dari nilai nilai sehat kerjasama dan patnership.

Jauh hari dalam membangun konsep nilai dan kepercayaan, Nabi mengingatkan kita dengan ungkapan doa ” Wahai Zat yang membolak balikkan hati, Aku bermohon kepada Mu agar Engkau tetapkan hatiku kepada jalan yang Engkau tentukan “.

Semoga Allah melindungi dan melapangkan hati dan pikiran kita, agar kita bisa menjadi manusia yang sabar dan mampu membuka ruang percaya dalam diri, dan mampu merawat hati dalam membangun kerjasama yang baik.

Assalamualaikum wr wb

Surabaya, 12 Oktober 2018

M. Isa Ansori

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top