Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Kontraksi dan Keguguran Menyongsong Fajar Baru

Kontraksi dan Keguguran Menyongsong Fajar Baru

Pernahkah kita melihat seorang ibu hamil dan mengalami kontraksi? Apa yang beliau rasakan pada saat terjadi konstraksi? Lalu apa yang beliau lakukan untuk meredahkan konstraksi? Saat kontraksi tentu rasa sakit yang dirasakan. Saat kontraksi seperti inu maka yang harus Anda lakukan adalah tenang. Anda tidak boleh panik, bernapaslah pelan dan dalam untuk menyiapkan otot-otot Anda mengeluarkan bayi.

Kontraksi adalah situasi sakit yang dirasa menuju kelahiran seorang bayi. Agar kelahiran bisa berlangsung baik dan selamat, maka harus dipersiapkan adalah dokter dan bidan yang mendampingi kelahiran serta suasana kebatinan sang ibu. Suasana nyaman saling memahami tugas masing masing dan menyiapkan sikap tenang dan siap kepada sang ibu, merupakan jalan untuk melahirkan seorang bayi dengan selamat.

Bila penanganan konstraksi lambat dan suasana kebatinan sang ibu dipenuhi kepanikan, maka bisa jadi akan terjadi konstraksi kuat yang akan berakhir dengan pendaharahan, bahkan bisa jadi berujung pada keguguran.

Lalu sejenak saya merenung dalam ditengah sapuan angin pantai dan kibaran merah putih, terbersit bayangan gonjang ganjing konstraksi melahirkan kepemimpinan. Sorak sorai dukungan meraung ditengah kebisingan persoalan keummatan dan suara rintih emak emak akibat harga melambung tak terbendung. Kepanikan akan mengakibatkan darah tertumpah yang berakibat keguguran.

Syahdu mengumandang ditengah kegaduhan politik, konstraksi kelahiran akan hadirnya pemimpin nasional, para dokter yang berjibaku meregang kelahiran, terpecah keheningan, merintih lirih dan bersamaan dengan itu lahir p dua pasang calon pemimpin yang sedikit meredahkan kontraksi dan kegaduhan. Jokowi – Makruf Amin, sebagai pasangan yang lahir pertama disimbolkan sebagai perpaduan nasionalis relegius, sedangkan pasangan calon pemimpin yang lahir menyusul ditandai dengan kumandang adzan sholat Jum’at yaitu Prabowo – Sandiaga Uno, pasangan yang direkomendasi oleh ijtima ulama dan kalangan nasionalis, pasangan yang dianggap sebagai jembatan emas lahirnya pemimpin nasional muda lanjutan.

Tentu setiap pasangan ada kelebihan dan kekurangannya, nah menjadikan mereka agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, dibutuhkan asupan yang bergizi dan perawat yang baik. Mengutip sebuah kata bijak anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang keras dan kasar akan cenderung bersikap kasar dan keras dan akan membiarkan terjadinya kekerasan. Sedangkan anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang baik dan sopan, lembut serta halus maka akan tumbuh menjadi anak yang baik dan kelak akan bisa memperlakukan orang dengan baik.

Nah kawan kembali kepada kita semua sebagai bagian lingkungan dari dua pasang calon pemimpin nasional diatas, bila para pemimpin itu kita rawat dan kita semai dengan sikap keras dan arogan serta menangnya sendiri, maka kelak akan lahir pemimpin yang arogan, diktator dan tak peduli pada nasib rakyatnya. Sebaliknya sebagai pendukung kita semai dan rawat pasangan pemimpin kita dengan kehalusan budi, peduli, mau menghargai perbedaan, tidak menangnya sendiri, kelak pemimpin yang akan kita lahirkan adalah pemimpin yang cakap, peduli dan bisa menghargai.

Ada baiknya anda semua sebagai pendukung pasangan calon mulai bijak dan berpikir tentang ke Indonesiaan, yaitu masyarakat yang santun, beradab, tidak menangnya sendiri, menghargai perbedaan dan tidak memaksakan kehendak, karena sikap kontroversi seperti itu justru akan melahirkan pemimpin yang diktator, begitu nasehat Gus Dur kepada kita semua.

Selamat merayakan kembali menjadi Indonesia, semoga kita dijauhkan dari sikap egois dan megalomania, merasa benar dan memaksa orang lain agar mengikuti kita.

Assalamualaikum wr wb, selamat pagi, selamat beraktifitas dan berbagi kebaikan

Surabaya, 12 Agustus 2018

M. Isa Ansori

Warga Surabaya dan Penulis

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top