Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Kisah Tentang Kapal Nuh dan Titanic

Kisah Tentang Kapal Nuh dan Titanic

Sejarah peradaban manusia seringkali dilakoni dengan sebuah penyimpangan dan kemudian berakhir dengan kehancuran. Kisah tentang penyimpangan sebuah peradaban pernah ada di zaman Nabi Nuh. Saat itu Nuh dengan segala kesabaran dan kekuatan hatinya mengingatkan kaumnya akan bahaya perilaku mereka melawan nilai nilai kemanusiaan.

Sang istri dan anak yang seharusnya menjadi bagian penyelamat peradaban ternyata tak sejalan dengan pilihan Nabi Nuh. Sang istri dan anak justru menjadi lawan misi kebenaran kenabian Nuh. Kerusakan peradaban semakin tumbuh membesar, menyemai syahwat hubungan sejenis yang melukai peradaban perkembangan kemanusiaan.

Peringatan Nuh tak dihiraukan akan bahaya kehancuran peradaban, mereka terlanjur membutakan mata hati dan menggelapkan nurani. Cahaya peradaban dan kebenaran tak mampu menerangi mata batin dan menyinari nurani. Gelap melingkupi, sehingga tak mampu melihat nokta peringatan dan tak mampu mendengar suara kejernihan hati. Syahwat membuncah, memuaskan pesta menyemai kerendahan martabat kemanusiaan.

Nuh tak lagi punya kuasa untuk memperingatkan, saat itulah Tuhan dengan kekuatan kasih sayangnya mengambil alih peringatan kehancuran peradaban. Sebagian manusia yang masih tersinarkan dengan cahaya Ketuhanan serta habitat hewan yang tak mengerti akan tingkah laku manusia nista, mereka semua diselamatkan oleh Nuh dalam sebuah bahtera peradaban. Tenggelamlah semua yang tak bersama Nuh, bahkan sang istri dan anak menantang Nuh, mereka akan terus berenang dan bertahan dalam peradaban nista yang disebutnya sebagai bagian dari kebutuhan kemanusiaannya. Sang istri dan anaknya lupa bahwa tujuan Tuhan menciptakan manusai adalah bertumbuh dan berkembang, sehingga lahirlah keturunan yang kelak diharapkan mampu menyemai kebaikan peradaban.

Kisah tentang bahtera terjadi juga diawal abad ke 19 dengan kisahnya yang terkenal, tenggelamnya kapal Titanic.

RMS Titanic (juga SS Titanic) merupakan yang kedua dari tiga kapal penumpang super yang bertujuan untuk mengawali perniagaan perjalanan trans-Atlantik. Dimiliki oleh White Star Line dan dibuat di galangan kapal Harland and Wolff, Titanic merupakan kapal uap penumpang terbesar di dunia pada masa peluncurannya.

Pada saat pelayaran pertamanya, Titanic menabrak gunung es pada pukul 23:40 (waktu kapal), Minggu, 14 April 1912, dan tenggelam sekitar dua jam empat puluh menit kemudian pada pukul 2:20 pagi hari Senin.

Bencana tersebut mengakibatkan kematian lebih dari 1.500 orang,dan menjadikannya sebagai bencana laut terburuk semasa zaman dalam sejarah dan sampai kini paling termashyur.

Titanic dilengkapi dengan teknologi paling maju pada masa itu dan orang awam percaya bahwa ia “tidak mungkin tenggelam”. Ia amat mengejutkan bagi orang banyak bahwa walaupun dengan teknologi modern dan awak kapal yang berpengalaman, Titanic masih tenggelam dengan jumlah kematian yang tinggi.

Saat terjadi sebagian penumpang bergelimang dalam pesta memanjakan syahwat dan kepuasan. Aroma wyne dan kemeriahan menjadi penanda kegelapan hati nurani mereka. Pesta memekakkan telinga dan membenamkan makna kehadiran mereka dihamparan luas samudra. Mereka merasa dalam kuasa Titanic yang megah, seolah bencana tak akan mendera.

Bongkahan es yang menebal menjadi penanda akhir kecongkaan kuasa mereka. Sang kapten sebagai alarm penyeru penyelamatan tak lagi dihiraukan. Kegelapan mata batin tak bisa lagi membedakan mana benar dan mana salah, syahwat mereka membuncah membutakan kecintaan mereka. Hanya karang yang mampu membuyarkan keadaran dan nalar cinta butanya. Sayangnya kesadaran itu hadir disaat kehancuran dan maut sedang menjemput.

Kisah kapal mengingatkan menyadarkan kesadaran mata batin kita tentang Indonesia. Ibarat sebuah bahtera, Indonesia adalah kapal besar yang sedang berlayar melampaui pelabuhan pelabuhan menuju pelabuhan kesejahteraan rakyat Indonesia. Nah sayangnya ditengah perjalanan pelayaran, sang penumpang terbelah kecintaan dan arahnya menuju pelabuhan kesejahteraan.

Peringatan akan bahaya mengancam tak lagi dihiraukan, bahkan peringatan keselamatan kadang dianggap sebagai suara sumbang yang mengganggu. Kebutaan mata batin akan kecintaan, menenggelamkan kita dalam jalan gelap meniti kegetiran makna Indonesia.

Indonesia adalah rangkaian keindahan, Kekayaan Tuhan yang diberkahkan kepada kita sebagai bangsa. Tentu indahnya Indonesia hanya akan terasa indah kalau dihias dengan perilaku elok para penumpang dan nakhoda.

Nah ditengah Indonesia menyemai peradaban berdemokrasi dan melahirkan pemimpin yang baik dan menyelamatkan, maka sudah saatnya nalar dibuka lebar, hati dicuci bersih dan akal ditaburi bekal.

Pesta demokrasi yang kelak akan melahirkan kepemimpinan nasional harusnya kita sambut dengan suka cita, kita gunakan akal sehat, kita pendam kebutaan cinta, kita terangi mata batin agar kita diberi anugrah pemimpin yang baik dan amanah, peduli kesejahteraan rakyat serta berlaku adil. Hanya akal sehat yang akan mampu membimbing takdir agar Indonesia menjadi sejahtera.

Selamat Tahun Baru 1440 H, Semoga Allah menjadikan Indonesia sebagai negara yang bisa memberi kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya.

Surabaya, 11 September 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top