Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Ketika Senyum dan Cinta Menjadi Energi Pendidikan

Ketika Senyum dan Cinta Menjadi Energi Pendidikan

Hari ini saya banyak mendapatkan pelajaran dari peristiwa kemarin bagaimana melayani dan mendidik masyarakat dalam memahami persekolahan dan pendidikan. Betapa tidak masih banyak masyarakat beranggapan pendidikan yang baik adalah pendidikan disekolah negeri, padahal tidak selalu begitu. Dari sisi biaya, ada anggapan pendidikan di sekolah negeri lebih murah, ah nyatanya juga tidak, karena semua sekolah dan pelaksanaan pendidikannya selalu butuh biaya. Saya sejatinya kurang pas menyebutkan uang yang dikeluarkan untuk pendidikan sebagai biaya, saya lebih senang menyebutnya sebagai investasi, karena memang akan balik dirasakan oleh pemiliknya.

Kadang dalam pendidikan apa yang diinginkan anak anak tidak selalu sama dengan keinginan orang tua, seringkali anak anak kita menjalani pendidikannya merasa terpaksa harus memenuhi keinginan orang tua. Nah kalau sudah begini, anak anak akan menjadi korban lanjutan. Pendidikan itu bukan persoalan keinginan, pendidikan itu persoalan kebutuhan. Karena persoalan kebutuhan, maka pertimbangan rasional harus dikedepankan.

Saya jadi teringat teori kebutuhan yang digagas oleh Maslow, setiap manusia tidak terkecuali anak anak mempunyai kebutuhan. Salah satu kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikan anak adalah kebutuhan rasa aman dan kebutuhan aktualisasi.

Apa kaitan rasa aman dan aktualisasi dengan pendidikan anak?

Rasa aman berkaitan dengan suasana yang dirasakan oleh anak ketika menjalani proses belajarnya. Rasa aman tidak menimbulkan ketakutan, kecemasan serta ancaman kekerasan. Anak merasa menikmati belajarnya. Ketika anak menikmati masa belajarnya maka akan terdorong keberaniannya untuk melakukan sesuatu sebagai sebuah proses belajar. Hubungan antara guru dan murid diwarnai dengan rasa saling menjaga dan memiliki, itulah yang disebut dengan mendidik dengan perasaan cinta. Nah ketika pendekatan pembelajaran diwarani dengan perasaan cinta tentu taburan senyum akan menjadi hiasan keseharian suasana.

Begitu juga dengan kebutuhan aktualisasi. Kebutuhan ini berkaitan dengan penyediaan ” ruang ” beraktualisasi kemampuan mereka. Ruang jangan dipahami sebagai sebuah bangunan, tetapi ruang adalah adanya apresiasi pada setiap ketrampilan dan kecerdasan yang dimiliki oleh mereka. Kebutuhan aktualisasi hanya akan bisa disediakan oleh mereka yang mendaya gunakan kreatifitasnya serta mempunyai kemampuan mengapresiasi prestasi orang lain. Apresiasi akan menghasilkan kebanggan pada diri anak yang pada akhirnya mengajari anak anak untuk berani tersenyum dan bermimpi.

Konvensi pendidikan indonesia ke 6 yang saya hadiri di mojoroto kediri, merupakan ruang informasi pendidikan yang mencerahkan. Semua mereka yang hadir merupakan para pendekar yang tingkat kepeduliannya terhadap pendidikan yang mencerahkan tak perlu diragukan lagi. Konvensi pendidikan ini merupakan ” oase ” ditengah kegersangan pendidikan yang mengapresiasi.

Terima kasih kepada sahabat semua yang masih memiliki senyum dan keberanian bermimpi pendidikan yang memanusiakan, terima kasih kepada sahabat saya di Ojo Leren Dadi Wong Apik ( Old WA ), Semoga goresan goresan kecil sahabat semua di kanvas pribadi anak anak, bisa menjadikan anak anak kita anak anak yang hebat dan berani bermimpi dan mewujudkan mimpinya.

Assallammualaikum wr wb, semoga bermanfaat dan selamat berkarya

Surabaya, 3 Juli 2018

M. Isa Ansori

Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staf Pengajar STT Malang dan Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top