Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Ketika Omar Bakri Menagih Janji

Ketika Omar Bakri Menagih Janji

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku, tanda prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu, engkau sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa.

Ketika Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh tentara sekutu dalam perang dunia ke 2, Kaisar Jepang ditengah tengah menyaksikan reruntuhan dan puing puing kehancuran, yang ditanyakan bukan berapa banyak pasukan perang yang tersisa, tapi ditanyakan berapa jumlah guru yang masih hidup. Peofesi guru sebagai pendidik menempati profesi yang sangat mulia sejak jaman dahulu, karena profesi ini adalah profesi penerang peradaban.

Disetiap zaman dan disetiap masa, guru akan selalu menjadi penyuluh bagi lahirnya generasi baru yang akan mewarisi tradisi peradaban sebuah negeri. Konon dalam sebuah kisah diceritakan ketika Nabi Muhammad SAW memenangkan sebuah peperangan, sebagai sebuah tebusan agar tawanan perang tentara Quraysi yang ditawan bisa bebas, maka Nabi meminta tebusan agar mereka menjadi guru bagi kaum muslimin saat itu untuk mengajarkan tentang ilmu ilmu muamalah keduniaan.

Dalam sebuah hadist Nabi disebutkan bahwa para orang berilmu itu ( ulama) adalah pewaris dan penerus perjuangan para Nabi, mereka menjadi lentera peradaban yang akan membimbing perjalanan melampaui kegelapan jiwa menuju terangnya akal dan nurani. Tentu saja guru yang bisa menjalankan tugas ini adalah mereka yang memiliki kemulyaan diri. Mereka yang menjadikan jiwanya bebas merdeka menjalankan suluh penerangan nurani.

Memulyakan mereka merupakan sebuah keniscayaan, karena dari merekalah kita bisa menjadi siapa siapa, dan dari merekalah kita pernah berhutang budi. Tak ada satu profesi apapun didunia ini yang tak tersentuh oleh tangan guru, sehingga memulyakan guru adalah tugas kehidupan yang suci.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan bangsa yang menjunjung kesantunan. Pendidikan kita mengajarkan bagaimana kita bisa berterima kasih kepada siapapun yang sudah berbuat baik untuk kita. Nah kesantunan dan keadaban yang kita miliki, nampaknya kita melihat sebuah ironi. Posisi guru tidak selalu bisa mendapatkan apresiasi.

Guru Honorer K2 adalah bukti bahwa mereka tak mampu mendapatkan apresiasi. Meski mereka sudah mengabdi dan menjadi suluh negeri, namun mereka harus berjibaku diri untuk berjuang memperbaiki nasib agar bisa menjadi pegawai negeri. Keinginan untuk menjadi pegawai negeri tentu harus dihormati sebagai sebuah pilihan, meski sayapun juga kurang sependapat kalau kemudian berpikir bahwa menjadi pegawai negeri adalah segala galanya.

Adalah sebuah Ironi, ketika mereka hanya ingin menemui Pak Presiden untuk mengadukan nasibnya, mereka harus berdemonstrasi dan dilakukan berhari hari, meninggalkan anak, istri dan suami, bahkan juga anak anak yang sedang meminta hak pendidikannya. Anak anak menjadi ” korban ” dari gemuruhnya perjuangan Omar Bakri. Pak Presiden rupanya tidak memandang terlalu penting menemui mereka, pak presiden lebih merasa penting mengunjungi pasar tradisonal dan bercengkrama dengan para pedagang. Dimata pak Presiden guru tak lebih mulya dari para pedagang di pasar.

Bagi saya yang juga guru seperti sahabat sahabat guru honorer K2 yang sedang berjuang saat ini, mari kita sudahi menuntut harus menjadi pegawai negeri, cukup kita jadikan profesi kita sebagai profesi pengabdian yang merdeka menjadi suluh bagi negeri. Yakinlah bahwa Tuhan tak akan diam dan pasti peduli. Tuhan pasti akan menjaga kita dan keluarga kita dengan memberikan rezeki Nya tanpa kita tahu dari tangan siapa.

Kepada sahabat sahabat saya guru yang sedang berjuang, mari kita menatap esok dengan harapan yang besar, bahwa kita adalah harapan bagi anak anak menyongsong masa depan. Bagaimana kita bisa membangun harapan bagi anak anak, kalau kita sendiri tak punya harapan?

Mari kita mulyakan profesi kita dengan menempatkan kita ditempat yang mulya dengan ahlak yang mulya, ahlak yang memberi bukan ahlak yang meminta minta. Saya sangat memahami perasaan kalian ketika Pak Presiden tak punya waktu menemui kalian, tapi mari kita sudahi sumpah serapah, kita ganti dengan doa agar kelak kita bisa mendapatkan pemimpin yang arif bijaksana dan mengayomi serta mampu memulyakan guru dan orang orang berilmu.

Kita doakan agar para pemimpin negeri ini menjadi pemimpin yang adil dan peka , yakinilah bahwa Indonesia ada di tangan kalian semua yang merdeka. Jadilah guru yang merdeka.

Assalammualaikum wr wb, Semoga Allah selalu melapangkan rezeki kita dan memerdekakan jiwa kita, aamien.

Surabaya, 1 November 2018

M. Isa Ansori

Essays dan juga berprofesi sebagai guru

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top