Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Ketika Masih Ada ” Anak Muda Melacurkan Kemerdekaan”

Ketika Masih Ada ” Anak Muda Melacurkan Kemerdekaan”

Berkaitan dengan kasus pembacokan yang dilakukan AMP ( Angkatan Muda Papua ) di Surabaya terhadap aktivis Sekber Benteng NKRI yang menyerukan pengibaran bendera merah putih ( Rabu, 15 Agustus 2018 ), peristiwa ini menunjukkan bahwa masih ada angkatan muda yang tak mampu memahami pengorbanan para pejuang kemerdekaan RI, seolah kemudian atas nama hak asasi dan keadilan mereka bebas menghina dan mencaci Ke Indonesiaan kita.

Yang menarik justru seolah terjadi pembiaran atas tindakan premanisme AMP di Surabaya, bahkan ada upaya pembelaan atas nama HAM oleh sekelompok kecil anak anak muda yang saya juga sangat amat tahu masa lalunya. Jangankan bangsa, kehormatan diri saja tidak bisa dijaga, apalagi kehormatan bangsanya.

Jalan Kalasan Surabaya merupakan jalan yang saya lalui setiap hari setelah melakukan aktivitas seharian diluar. Rabu siang, saya mendapatkan banyak broadcast dari beberapa WA berkaitan dengan foto peristiwa di asrama pemuda dan mahasiswa Papua di jalan Kalasan Surabaya, bahkan saya juga mendapatkan broadcast dari sejumlah sahabat saya dari Papua yang menyayangkan tindakan mereka dan mempermalukan keramahan budi masyarakat Papua. Saya hanya menjawab singkat kepada sahabat sahabat saya, mereka anak anak muda yang baik, tapi sayangnya mereka lebih banyak mendapatkan provokasi dari anak anak muda lain yang tak mampu menjaga harga diri dan kehormatannya, apalagi menjaga bangsanya. Nah tugas para orang tua dan para senior untuk membinanya. Ketika saya melintasi jalan Kalasan sekitar pukul 20.30 sepulang menjalankan aktivitas mengajar, saya melihat beberapa kawan kawan media yang sedang berkelompok bersama masyarakat didepan asrama mahasiswa Papua. Saya coba berhenti dan bertanya ada apa? Saya mendapatkan informasi kalau akan ada penangkapan pelaku pembacokan dan penyitaan barang bukti oleh kepolisian.

Naluri saya sebagai orang yang pernah beraktivitas sebagai aktivis dan jurnalis, merasakan akan ada sesuatu yang terjadi. Saya berhenti dan kemudian bergabung dengan kawan kawan jurnalis. Sambil menunggu saya mencoba mencari ketua RW dan Ketua RT setempat, juga saya ketemu dengan Pak Camat serta Ibu Lurah. Dari diskusi saya dengan Pak RW dan Pak RT bahwa sudah seringkali terjadi ” keributan ” seperti ini. Sangat disayangkan mereka anak anak muda yang diharapkan oleh bangsanya tapi bertindak diluar nilai nilai kebangsaan yang ada. Mereka menjadikan asrama seolah ” konsulat ” negara asing yang tak boleh dijamah, mereka lupa sekarang ini mereka berada dimana? Seharusnya mereka sadar mereka berada di Surabaya dan bertetangga, Surabaya adalah bagian dari NKRI.

Negoisasi aparat untuk melaksanakan tugasnya berdasar laporan korban pembacokan mendapatkan hambatan dari kelompok yang mengatas namakan HAM dan Keadilan? Sebagai aktivis tahun pertengahan tahun 1980 dan tahun 1990 an keatas, tentu saya pernah sangat dekat dengan para senior mereka karena bersama merekalah, kami dulu melakukan advokasi pembelaan rakyat. Saya merasakan ada sesuatu yang tak pas dalam pemahaman yang ada. Setahu saya konflik konflik yang sering kami advokasi berkaitan dengan hak warga yang dilanggar oleh negara, bukan membantu menuntutkan kemerdekaan bagi sebuah entitas untuk berpisah dengan Indonesia.

Setelah melalui negoisasi dan saling berargumen, dalam catatan jam saya, pukul 22.13, polisi mulai melakukan penyisiran mencari barang bukti dan pelaku. Nampaknya mereka kemudian saling merasa tidak tahu siapa yang melakukan pembacokan. Karena mereka salinh merasa tidak tahu, pada pukul 22.30, Aparat kepolisian meminta kepada mereka semua agar ikut ke Polrestabes. Ketika mereka berada didalam kendaraan kepolisian, mereka memcaci kami yang bangsa Indonesia sebagai manusia munafik dan meneriakkan hal hal yang berbau rasial.

Bagi saya, ibarat keluarga, Indonesia ini sebuah keluarga besar, sehingga siapapun yang berada dalam satu keluarga itu bisa saling menjaga dan menghormati. Kalau Indonesia ibarat orang tua, maka kalau perlakuan orang tua salah, maka sudah menjadi kewajiban untuk diingatkan. Melawan atau bahkan meninggalkan orang tua dan tak mengakui jasa baiknya merupakan tindakan melacurkan kehormatan.

sebagai penutup catatan ini saya mencoba mengutip tulisan om Josua Renoo, Reporter TV,

Aku duduk di sampingmu Merah – Putih
Bersama, kita menatap masa depan yang akan kita songsong bersama
Karena apa yang terjadi padamu, terjadi padaku juga
Dirgahayu Indonesia ke-73!!

Dirgahayu Indonesiaku, Tetaplah Berusaha Menjadi Besar, Masih ada kami kaum muda bersamamu dan menjaga kehormatanmu

Assalammualaikum wr wb, Selamat pagi, Selamat beraktifitas

Surabaya, 17 Agustus 2018

M. Isa Ansori

Warga Surabaya dan Essayis

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top