Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Ketika Demokrasi Harus Menyesuaikan Isi Kantong

Ketika Demokrasi Harus Menyesuaikan Isi Kantong

Saya tercenung sesaat ketika membaca postingan seorang kawan yang mencalonkan diri jadi anggota legislatif. Mengapa kok mencalonkan diri menjadi caleg kabupaten kota, kok gak propinsi atau pusat? Padahal sejatinya secara kemampuan mengorganisir orang untuk memilihnya dia mampu. Ketika ditanya seperti iti jawabanya sederhana sekali, menyesuaikan isi kantong.

Hal lain yang juga saya baca dalam sebuah postingan group WA, mengatakan agar segera diorganisir warga agar calon anggota legislatif yang berkunjung bisa bertemu. Saran itu tak berhenti pada agar warga bisa bertemu, tapi juga disarankan menyusun kebutuhannya untuk disampaikan kepada calon anggota legislatif yang akan berkunjung, sehingga warga bisa mendapatkan sesuatu dari caleg dan suaranya bisa diberikan kepada caleg bersangkutan.

Membaca dua postingan tersebut saya hanya membatin bahwa saya seolah berada disebuah pasar tradisional, dimana disana ada transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Kalau harga disepakati, maka barang bisa dibawah pergi. Sehingga siapapun yang punya uang banyak bisa membeli dagangan yang diperjual belikan.

Transaksi jual beli suara dalam pemilu ternyata sudah menjadi hal jamak dimasyarakat, sehingga setiap dituntut untuk lebih realistis menapaki jalan menuju parlemen. Jalan realistis itu adalah menyesuaikan dengan isi kantong. Nah itu artinya meski anda hebat dalam mengurai masalah dan memecahkannya, kalau anda tak punya kemampuan finasial, anda akan terpental . Bagi pemula ini tentu merupakan persoalan yang harus dicari jalan keluarnya, bagi incumbent, tentu ini hal mudah, mereka bisa mengeksplorasi anggaran resesnya yang dibiayai APBD untuk melanggengkan kekuasaannya.

Demokrasi Transaksi dan Seolah – Olah

Demokrasi seringkali dipahami sebagai dari rakyat dan untuk rakyat. Dalam demokrasi sejatinya rakyatlah yang berkuasa. Kuasa rakyat seharusnya menentukan segala galanya. Kenyataannya rakyat tak berdaya ketika terjadi transaksi kedaulatan. Rakyat tak lebih menjadi penjual kuasa kepada penguasa. Rakyat hanya berpikir dapat berapa dari sebuah transaksi pemilihan umum, dan jangan salahkan bila penguasapun merasa selesai bertransaksi dan kekuasaan digerakkan menurut maunya. Meminjam istilah guru saya mas Prof Suparto Wijoyo, Demokrasi telah terkhianati.

Suara rakyat suara Tuhan tak ubahnya seperti tagline sebuah produk parfum isi ulang, wanginya sesaat dan tak bertahan lama. Rakyat memang sedang bersayik mansyuk dengan orgasme sesaatnya, dibius oleh wangi parfum isi ulang, rakyat terbuai, libidonya mengejang dan tak ubahnya seperti ketika Ken Arok melihat betis Ken Dedes yang tersingkap.

Demokrasipun ternyata juga seolah olah, seolah olah rakyat memilih saya, tapi tak tahunya saya beli suara mereka. Para calegpun sekarang belajar lagi matematika tentang perkalian, penambahan, pengurangan dan bagi bagian. Kelak ketika harus mencari suara, yang harus diingat adalah pembelajaran tentang bagi bagian dan kali kalian. Demokrasi yang menyesuaikan dengan isi kantong inipun, mulai berhitung, berapa suara yang dibutuhkan untuk lolos kegedung parlemen, lalu membaginya kepada berapa wilayah suara itu bisa didapat. Setelah itu mulailah dia harus mengkalkulasi biaya yang dibutuhkan, maka perkalian sangat dibutuhkan dalam menghitungnya. Berapa jumlah suara yang dibutuhkan, dan berapa yang harus dibagikan dan jumlah yang dibagikan dikalikan dengan jumlah suara yang dibutuhkan, maka ketemulah hasilnya. Sehingga seorang calon anggota legislatif ataupaun siapa yang mau jadi pemimpin harus menguasai perkalian, pembagian dan pengurangan.

Meski sayup sayup saya juga mendengar seruan kembali ke UUD 1945, saya mencoba merenungkan apakah sistem itu juga akan mampu menghapus transaksi suara ? Apakah mungkin sistem kepartaian kita menyetujui pada kembalinya UUD 1945 ? Kan mereka menikmatinya saat ini?

Lalu dengan cara apa? Saya masih meyakini ada jalan untuk membuat perubahan, setidaknya meski jalan yang dilewati harus melalui jalan yang salah dan terjal. Sistem demokrasi yang transaksional mesti harus dilewati, nah supaya berkeadilan, maka sejatinya bagi calon legislatif dan kepala daerah yang modal finasialnya pas pasan, modal sosialnya harus dikuatkan dan mampu dikapitalisasi menjadi suara perubahan.

Untuk itulah saya mengajak sahabat sahabat saya yang kantongnya pas pasan, belilah demokrasi dengan modal sosial yang anda miliki. Kapitalisasi suara rakyat untuk jalan mengabdi yang sesungguhnya, tentu anda tak seharusnya sendirian, bangunlah kesadaran bersama untuk mensinergikan kekuatan anda dengan siapapun yang membantu anda bersama. Sehingga isi kantong anda tak harus habis dikuras untuk bertransaksi dengan rakyat.

Rakyat mesti diedukasi menjadi lebih bermartabat, rakyat harus diedukasi untuk malu meminta dan menjual suara sebagai sarat memilih calon. Rakyat harus diajak belajar memahami masa depan dan mewujudkan harapan. Kesadaran rakyat akan masa depan dan mencapainya sejatinya bisa menjadi rem cakram untuk menghentikan demokrasi seolah olah dan transaksional.

Ketika saya terus menerus merenungkan dua postingan yang saya kutip diatas, demokrasi menyesuaikan isi kantong dan rakyat yang menjual suaranya agar kebutuhannya dipenuhi calon, saya membayangkan jalan terjal menuju demokrasi Pancasila. Demokrasi yang berkeadilan dan bergotong royong diwarnahi dengan nafas keTuhanan dan musyawarah mufakat.

Sayapun kemudian juga memaksa nalar saya memaklumi demokrasi kita yang terkhianati, karena rakyat memang merestui, sehingga wajarlah proses demokrasi ini diawali dengan menyesuaikan isi kantong dan ketika berkuasa, merekapun berupaya bagaimana bisa mengisi kantong sebanyak banyaknya.

Saya medoakan sahabat sahabat saya, semoga kalian bisa menembus jalan terjal demkorasi itu, dan dari sanalah anda semua diharapkan memulai perbaikan.

Semoga Allah memudahkan jalan kalian semua menguasai parlemen.

Assalammualaikum wr wb…. Selamat pagi, selamat berkarya dan semoga kita bisa menjemput Indonesia yang lebih baik dan beradab.

Surabaya, 28 Juli 2018

M. Isa Ansori

Staf pengajar ilmu komunikasi Fisip Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top