Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Ketika Berbudaya Tanpa Etika

Ketika Berbudaya Tanpa Etika

Kebudayaan merupakan sebuah peristiwa yang terjadi yang lahir dari sebuah proses kerja cipta, karsa dan rasa manusia. Dalam kebudayaan terkandung nilai nilai keluhuran yang kita pegang dan menjadi acuan kita menjalankannya. Pelaksanaan nilai nilai keluhuran dalam menjalankan aktifitas, saya menyebutnya sebagai etika.

Sebagai contoh bahwa budaya kita adalah bergotong royong, saling membantu dan tolong menolong, sehingga kita merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga. Dalam menjalankan budaya tersebut, maka kita dituntut untuk berlaku baik dan tidak menyakiti. Misalkan kita melihat tetangga kita kesulitan, lalu kita membantunya, maka kegiatan membantu tetangga tersebut merupakan kegiatan berbudaya. Ketika kita memberi bantuan kitapun lakukan dengan cara yang baik agar tidak tersinggung. Tapi kalau kita membantu sambil mengucapkan kata kata yang kurang elok, dan menyebabkan orang yang dibantu merasakan ketersinggungan, maka saat itu kebaikan kita nir etika.

Beberapa hari ini sangat dirasakan sering terjadi aktifitas yang sejatinya ditujukan untuk membangun peradaban yang lebih baik, namun sayangnya dalam pelaksanaannya seringkali melanggar nilai nilai keadilan. Sebut saja hajatan peringatan kemerdekaan yang baru saja terjadi, masyarakat dengan alasan kegiatan peringatan kemerdekaan dengan seenaknya menutup jalan yang seharusnya menjadi jalan utama untuk melakukan aktifitas mengais rezekinya. Padahal sejatinya kemerdekaan diperingati agar kita bisa membebaskan diri dari penindasan dan keangkuhan, tapi sayangnya warga penghuni jalan merasa memiliki jalan itu dan berhak memperlakukan apa saja meski itu merugikan orang lain.

Ada lagi contoh yang juga menjadi berita nasional ketika terjadi pengroyokan terhadap orang lain yang berbeda pilihan dukungan terhadap presiden, bahkan tanpa ada perasaan malu, perlakuan kasar dilakukan di masjid bahkan terhadap perempuan. Padahal sejatinya yang dilakukan adalah ingin memunculkan presiden pilihannya, kita semua tahu bahwa seorang pemimpin akan layak menjadi pemimpin kalau memegang nilai nilai yang beretika. Bisa dibayangkan kalau seorang pemimpin lahir dari lingkungan yang mengabaikan etika, apa yang akan terjadi?

Konflik akan terjadi apabila salah satu pihak, atau kedua belah pihak tak mampu memegang nilai nilai yang beretika. Nah bisa jadi konflik konflik yang terjadi dalam memberi dukungan karena ketakmampuan pendukung memaknai etika dukungan dan etika kepemimpinan. Sehingga seperti yang sekarang ini yang kita lihat, sama sama semakin mengeras. Bagi saya kalau kita akan memilih pemimpin yang beretika, maka marilah kita mulai dari diri kita masing masing memegang etika. Tampilan dukungan kita sejatinya menggambarkan kelak pimpinan kita seperti apa. Jadilah pendukung yang santun dan mampu memegang etika, agar masyarakat bersimpati dan bersama anda untuk melahirkan pemimpin yang beretika dan berbudaya.

Bagaimana Berkebudayaan Yang Beretika?

Kebudayaan yang beretika adalah perilaku yang kalau dijalankan tidak sampai merugikan orang lain. Berkebudayaan yang beretika itu selalu dilakukan dengan mempertimbangkan hak orang lain. Tidak semua orang bisa dengan mudah memahami apa yang menjadi hak orang lain, sehingga kemampuan beretika hanya akan bisa dilakukan oleh mereka yang peka dan bijak dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Berkebudayaan adalah wujud sebuah perilaku, ia merupakan sebuah kebisaan seseorang atau kelompok. Kita bisa melihat karakter seseorang atau latar belakang sosial dan lingkungannya dari cara berbicara dan cara memperlakukan orang lain. Perilaku yang tampak itu dilahirkan dari sebuah proses pendidikan yang dijalani.

Nah anda bisa melihat denga mata batin dan kecerdasan akal pikiran anda, kalau orang selalu melemahkan orang lain dengan kata katanya atau perilakunya, padahal anda sudah memperlakukan dengan baik, bisa dipastikan manusia seperti itu tak mendapatkan pendidikan etika yang baik, yang seperti itu akan cenderung menjadi ” penyakit ” masyarakat dimanapun. Mereka yang seperti ini sebaiknya dihindari karena jelas menjadikan kebaikan yang kita lakukan akan ternoda dan tak berbudaya apalagi beretika.

Hidup itu merupakan amanah dalam menjalankan nilai nilai kebaikan, sehingga mencipta lingkungan yang baik merupakan tugas kemanusiaan yang berkebudayaan. Mari kita belajar dari gabah dan beras, meski diaduk bersama, maka beras akan berkumpul dengan beras dan gabah akan bertemu dengan gabah. Sudah menjadi sunnatullah tukang fitnah akan berkumpul dengan yang suka memfitnah, tukang tipu akan bertemu tukang tipu, pecundang akan bertemu pecundang, begitu juga sebaliknya orang baik pasti akan dipertemukan dengan yang baik, mereka yang amanah akan dipertemukan dengan yang amanah.

” Jangan sekali sekali kalian campur adukkan antara yang benar dengan yang bathil, Padahal sudah jelas kalian mengetahui mana yang disebut dengan kebenaran ” ( Al Qur’an Surat Al Baqoroh : 47 )

Assalamualaikum wr wb, Selamat beraktifitas dan berbagi kebaikan

Surabaya, 8 September 2018

M. Isa Ansori

Warga Surabaya dan Pegiat pendidikan yang memanusiakan

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top