Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Kesaksian Seorang Anak

Kesaksian Seorang Anak

Oleh :YusronAminulloh

IBU itu mulia, di mata kakinya ada surga. Itu semua orang sudah tahu, Tapi betulkah “hadiah” itu ada di semua ibu di dunia ? Di sinilah masalahnya. Karena realitas menunjukkan, hanya ibu yang terpiih yang berhak menyandang gelar mulia dan kemudian punya hak “ditempati surga” di kakinya.

Simbolisme surge ditelapak kaki ibu adalah sebuah ajaran yang memberikan kesempatan para wanita di dunia untuk mendapatkan berkah itu. Kesempatan itu olehNya diberikan pertama kepada wanita untuk menyempurnakan dirinya menjadi seorang ibu yang akan menjadi mulia, kalau lakunya adalah beraliran energy surga. Setiap langkah kaki, hati, dan pikirannya adalah surga, sehingga menuntut dirinya berperilaku manusia sempurna.

Peran besar ibu yang harus ambil posisi sebagai pihak yang harus hamil, dan “membawa” anaknya selama 9 bulan didalam “dirinya” adalah by design. Bukan sesuatu yang seolah kewajaran, tetapi sebenarnya mengandung makna dalam. Bahwa sejak dini, ibu sudah dikasih tugas dan peran besar mendidik anaknya sejak janin.

Peran besar itu ada yang disadari sebagai tugas mulia, dengan keharusan menjaga sang janin dengan keseimbangan spiritual, rasional dan social. Namun ada juga yang menganggap mengandung adalah tugas alami seorang wanita, yang sudah turun temurun. Sehingga hamil hanyalah sebuah proses kehidupan dalam episode yang harus dilalui seorang manusia yang disebut perempuan.

Ada banyak ibu, saat hamil selama 9 bulan, tiap hari dijalaninya biasa-biasa saja. Tetap bekerja, baik di rumah membereskan urusan rumah ,atau bekerja di kantor, pabrik, menjalani tugas kehidupan. Janin dalam dirinya seolah “belum” menjadianaknya. Sehingga masih sering marah, teriak – teriak sama suaminya, mendengarkan music keras-keras dan perilaku umum lainnya.

Yusron Aminullah Direktur MEP Training Center
Yusron Aminullah, Direktur MEP Training Center

Tetapi ada juga ibu yang sejak hamil, ia jaga perilakunya, tutur katanya, bahkan ia niati kerjanya sebagai ibadah, ia selalu “izin” pada anaknya saat mau bekerja keras. Dan disetiap kesempatan senggang, ia selalu mengaji, membaca quran yang “ditujukan” pada anaknya yang masih berupa janin. Ia elus – elus anaknya, ia doakan, dan ia dialog keimanan yang sudah ditanamkan sejak dini.

Ibu, diberi hak penuh oleh Allah SWT untuk menentukan dirinya. Apakah mau mengambil peran mulia, atau biasa-biasa saja. Kemuliaan itulah yang harus dipedomani oleh semua wanita ketika memasuki jenjang pernikahan. Ia harus berani menjadi ma’mum oleh seorang Imam yang bernama suami.

Maka, sebelum menikah, para wanita : Carilah imam yang baik. Carilah pasangan yang siap ditemani sang istri dalam kemuliaan beribadah kepadaNya. Dan sang istri menyediakan dirinya menjadi ibu bagi anak hasil keindahan dan kebersamaan dengan suami.

“Suami istri adalah ikatan kuat untuk saling mendukung dalam berjuang memaksimalkan manfaat bagi banyak orang. Persuami –istrian adalah periode menyatukan dua kekuatan besar untuk memaksimalkan diri.  “

Kemuliaan ibu akan mengaliri darah sang anak, kalau anaknya adalah seorang yang memahami inti dan makna bakti kepada ibu.

Saya menjadi saksi, ada saudaraku baktinya sama ibunya tak terbatas, maka kemudahan hidupnya kini dari segala arah yang tak terbatas

Saya menjadi saksi, ada sahabatku tinggalkan profesi dan kerjaaanya selama 2 tahun mengabdi sama ibunya, kini ia tak pernah mencari pekerjaan tapi dia didatangi banyak pekerjaan yang tiada henti

Saya juga menjadi saksi, banyak orang hebat, kuat, berpengaruh, tapi ia hanya mampu bersimpuh tanpa kata dan kalimat saat didepan ibunya, karena kehebatannya luluh dan tak berarti dibanding baktinya sama ibu

Jadi saudaraku, masih adakah yang berani melawan arus keikhlasan seorang ibu ? Cobalah, maka kesengsaraan yang akan kau dapat.

Hari ibu bukan hanya 22 Deseember, hari ibu adalah tiap hari, bahkan tiap jam dan tiap detik. Selagi hati dan rasa menyatu dalam pengabdian kepada ibu, disitulah kita memperingatinya. ***

 

“ Selamat Hari Ibu ”

Penulis adalah Master Trainer “MEP Training Center”

 

 

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

One thought on “Kesaksian Seorang Anak

  1. masa hamil itu masa puasa bathin : tidak su’ udhon dan tidak membatin hal buruk agar anak yg dikandung jadi anak yg baik, baik rupanya juga pribadinya.
    Hamil itu perjuangan lebih besar ketimbang saat melahirkan. Krn puasa sembilan bulan u menjaga hati dsn prilaku demi anak yg dikandung.
    Terimakasih, Pak Yus.
    Tulisan ini lengkap sekali ttg IBU

Tinggalkan Balasan

Top