Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Jangan Takut Gagal

Jangan Takut Gagal

Butuh motivasi? Inspirasi? Nih, ada tiga kutipan bagus untuk menginspirasi kesuksesan Anda.

-“Keberhasilan itu tidak final; Kegagalan itu tidak fatal: Keberanian untuk melanjutkan lah yang lebih menentukan,” kata Winston S. Churchill, perdana menteri Inggris era Perang Dunia II.

-“Lebih baik gagal dalam orisinalitas daripada berhasil tapi meniru,” kata Herman Melville, sasterawan Amerika era Abad Pencerahan.

-“Jalan menuju sukses dan jalan menuju kegagalan hampir sama persis,” kata Colin R. Davis konduktor top London Symphony Orchestra.

 

Coba perhatikan, apa kesamaannya? Ya, ketiganya melibatkan ‘kesuksesan’ dan ‘kegagalan’. Bukan tanpa sengaja kutipan tentang keberhasilan dan kegagalan itu dijejer di atas. Memang ada alasan di balik semua ini. Bahkan, itu adalah alasan kunci di balik psikologi kesuksesan dan kegagalan.

 

Sebenarnya, kegagalan itu salah satu kekuatan terbesar manusia. Maka, kegagalan bukan kebalikan dari kesuksesan, tetapi justru faktor kunci dalam pencapaian tujuan sukses. Ini telah dibuktikan para ilmuwan evolusioner antara lain Charles Darwin yang mengatakan, “Bukan yang terkuat dari spesies yang bisa bertahan hidup. Tapi, yang paling mudah beradaptasi untuk berubah lah yang bisa bertahan.”

 

Berubah dan beradaptasi adalah hal yang dilakukan manusia selama berabad-abad evolusi. Sebagai contoh, dulu manusia menyadari terlalu lemah untuk berburu secara individu. Tubuh manusia terlalu rapuh dibanding hewan-hewan liar di sekitarnya. Maka zaman dulu manusia beradaptasi dengan cara berburu secara berkelompok. Selanjutnya, kelompok manusia berevolusi menjadi komunitas yang lebih rumit dan kompleks. Manusia menggunakan kemampuan kolektif yang tidak hanya mengarah pada kemampuan untuk bertahan hidup, tetapi juga berkembang.

 

Bayi belajar melalui mekanisme yang sama. Seluruh manusia dilahirkan tanpa daya. Tapi, secara bertahap, masing-masing bayi belajar menunjukkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan sehingga pengasuh bisa memahami. Misalnya, dengan cara menangis atau tersenyum. Bayi, melalui berbagai upaya –dengan cara sering membuat kesalahan dan kegagalan– juga belajar berjalan, berbicara, sehingga tumbuh menjadi manusia dewasa yang sepenuhnya sadar.

 

Singkatnya, meski tampaknya berlawanan dengan intuisi, manusia dirancang untuk mengubah kelemahan menjadi sumber kekuatan terbesar. Melalui kegagalan, manusia belajar bagaimana beradaptasi dan tumbuh untuk menjadi sukses. Kesuksesan itu bisa sekadar mendapatkan makanan berikutnya hingga meluncurkan bisnis yang amat rumit.

 

“Kegagalan harus dipandang sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh,” kata psikolog Crystal I. Lee di Los Angeles. “Kegagalan adalah kesempatan yang harus dirangkul, dianalisis, dan dipilih, daripada sesuatu untuk dihindari.”

 

Kabar baiknya adalah sifat-sifat kunci yang dibutuhkan untuk sukses, yakni mindset pertumbuhan, nyali, dan keluwesan psikologis– sebenarnya dapat dipelajari dan dikembangkan.

 

  1. Mindset pertumbuhan

 

Cara kita melihat dan mengelola kegagalan akan membantu menumbuhkan kesuksesan dalam hidup. Dan, itu dimulai dengan memiliki mindset pertumbuhan. Pola pikir ini berarti kita percaya bahwa melalui kerja keras dan usaha keras maka kita dapat tumbuh dan belajar, bahkan saat menghadapi kegagalan. Itu berarti kita percaya bahwa penguasaannya adalah mungkin jika kita mau terus berusaha, tetap mengambil peluang, dan bekerja keras menuju pertumbuhan. Kegagalan bukanlah kondisi permanen.

 

Ketika kita percaya bahwa kemampuan adalah hal yang tetap (mindset  tetap), maka kita bakal menafsirkan kegagalan sebagai bukti kurangnya kemampuan. Ini membuat kita berhenti mencoba. Tapi, ketika kita percaya bahwa kemampuan dapat ditumbuhkan dengan pembelajaran (mindset pertumbuhan), maka kita bakal merasakan kegagalan sebagai peluang untuk belajar dan kita bakal merefleksikan kegagalan sebagai kesempatan untuk menumbuhkan kemampuan.

 

  1. Nyali

 

Untuk bisa membesarkan kemampuan, kita butuh nyali berani. Nyali berani ini adalah kombinasi antara gairah dan ketekunan. Memiliki nyali berarti berani mengejar target tanpa henti dan tidak membiarkan kemunduran untuk menghalangi kemajuan. Ini lebih dari sekadar bakat, lebih dari sekadar cerdas, tapi pembuktian untuk terus belajar dan berupaya.

 

Dengan punya nyali berarti  kita memiliki stamina. Nyali ini menempel pada Anda di masa depan, hari demi hari. Bukan hanya untuk minggu ini, tidak hanya untuk bulan ini, tetapi selama bertahun-tahun, dan bekerja sangat keras untuk mewujudkan masa depan. Nyali adalah kehidupan yang hidup seperti lari maraton; bukan lari cepat jarak pendek.

 

  1. Keluwesan psikologis

 

Untuk bergerak maju dengan mindset dan nyali pertumbuhan, bumbu terakhirnya adalah fleksibilitas psikologis. Ini adalah kemampuan untuk menyesuaikan perilaku terhadap dunia yang terus berubah dan kebutuhan yang juga selalu berubah.

 

Memiliki fleksibilitas psikologis memungkinkan kita berpikir out-of-the-box  dan menjadi kreatif ketika dihadapkan dengan hambatan. Ini juga memungkinkan seseorang mengubah arah seperlunya jika apa yang mereka telah lakukan ternyata belum berfungsi.

 

 

Dengan ciri-ciri utama di atas, kita dapat belajar memanfaatkan kegagalan sebagai alat untuk maju dan bertahan hidup untuk menjadi sukses. Tapi, kita mungkin tidak bisa berhasil jika mencoba melakukannya sendirian.

 

Sama seperti kemampuan adaptif manusia untuk bekerja bersama sebagai komunitas saat berburu sambil menghindari bahaya, maka penting bagi kita untuk mencari bantuan pihak lain saat membutuhkan. Manusia tidak dibangun untuk menjadi makhluk tunggal sendirian. Kita membutuhkan koneksi dan dukungan dari orang lain pada saat-saat terburuk dan bahkan saat berjuang untuk yang terbaik.

 

Orang yang sukses itu juga harus belajar menerima bantuan orang lain; orang-orang sukses tidak mencoba melakukan semuanya sendirian. Mereka menyadari tentang keterbatasan mereka sendiri, dan nyaman saja mendatangi orang lain dengan kekuatan di area pertumbuhan mereka.

 

Pada akhirnya, tidak ada alasan untuk takut gagal. Sebenarnya, ini adalah bagian penting untuk kesuksesan itu sendiri. Kegagalan adalah alasan utama kita terus bertumbuh, belajar, berkembang, dan akhirnya, sukses.

 

Fainnama’al ‘usri yusro. Innama’al ‘usri yusro.

 

Ditulis Oleh: Teguh W. Utomo

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top