Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > ” Jabal Nur ” Untuk Nusantara Makmur

” Jabal Nur ” Untuk Nusantara Makmur

Diskusi saya siang sampai sore ini, Sabtu ( 31/3/2018 ) di Dewan Kesenian Surabaya berkaitan dengan fonomena konstraksi sosial yang terjadi belakangan ini. Beberapa catatan yang menjadi fokus perhatian adalah suasana psikologis terbelahnya bangsa ini, seolah bangsa ini terpecah antara kelompok nasionalis dan agama. Suasana inu diperparah oleh kelompok ” aktivis pedagang ” yang suka menjual isu keterbelahan sebagai instrumen mendapatkan kapital. Padahal sejatinya dalam sejarah membangun Indonesia, antara kelompok nasionalis dan agama bisa saling mengisi dan melengkapi merenda nusantara. Jatuh bangun membangun Indonesia selalu bisa diselamatkan oleh bersatunya kelompok nasionalis dan agama. Lihatlah bagaimana BPUPKI menyiapkan kemerdekaan Indonesia, perdebatan antara kelompok nasionalis dan agama dapat diselesaikan dengan lahirnya Pancasila dengan menghapus kalimat ” dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi ummatnya “.

Kontraksi itu terus bergulir, saat terjadi pemilihan Gubernur DKI dan eksesnya sampai sekarang belum berhenti. Isu mempertentangkan kelompok nasionalis dan relegius terus mendapatkan porsi diruang ruang publik yang dicipta. Stigma antar mereka menjungkir balikkan fakta, benar bisa salah dan salah bisa benar, tidak bergantung pada substansinya, tapi melihat siapa yang bicara. Para pecundang menabuh genderang, mereka berpesta karena bisa mengeruk uang negara. Nalar menjadi liar, hati menjadi mati, yang ada adalah saya paling Indonesia demi memanipulasi citra.

Berhentikah kontraksi itu? Ibarat sebuah persalinan, kontraksi itu semakin meninggi, darah semakin membuncah, tak kuasa menahan amarah, kebencian dirawat kepalsuan dibuat, sejarah bangsa dinista. Harmoni negara dan agama dijarah, demi memuaskan ambisi durjana. Akankah negeri katulistiwa menjadi merdeka ditengah suasana kekayaan alamnya yang semakin meronta? Akankah kedaulatan itu tetap ada ditengah tanah tanah yang yang sudah terjarah?

Rakyat tak kuasa menahan nista, dinegerinya sendiri mereka menjadi kuli, tak punya tanah, tak punya harta, karena memang hak mereka atas negara sudah sirna. Lihatlah 74 % tanah dan kekayaan alam kita telah berpindah, pribumi merintih asing dan aseng meraup untung atas tanah dan wilayah yang terjarah. Reklamasi merajalela, penjarahan hutan terus berjalan, sumber energi digali sampai merintih. Tak ada yang tersiksa kecuali penderitaan anak bangsa dan rintihan ibu pertiwi.

Mengembalikan Harga Diri Pertiwi

Meminjam istilah yang dijelaskan oleh Cak Nun tentang fonomena bangsa, bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar di tahun 2030, Indonesia akan menjadi negara adi kuasa, negara super power, pusat perekonomian dunia, iangan dipahami hancurnya Indonesai terus indonesia ” iku nggak ono,” ” kintir nang kali “, ” Indonesia ambruk “, Indonesai tetep ono, Masalahnya kalian semua tak punya kuasa, kalian semua hanyalah jongos. Indonesia sudah bikin milikmu lagi, kalian tak punya kuasa untuk mengatur, Kalian bukan lagi tuan rumah, kalian bukan bos, kalian tak ikut punya itu yang namanya mall, hidupmu sangat tergantung, kalian hanya tukang sapu dan satpam, kalian tak punya kuasa mengatur negara mau jadi apa, Ayo kita belajar jadi penguasa. Ayo kita belajar jadi penguasa atas diri kita sendiri Yang hilang dari bangsa ini adalah martabat, jangan meminta minta saja, tidak punya konsep tentang harga diri. Maka menjadi tugas kita semua bagaimana menjadikan Indonesia punya martabat dan harga diri. Mengembalikan kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar dan bermartabat akan mempercepat proses penguasaan terhadap ibu pertiwi.

” Jabal Nur ” Sebagai Jalan Sutra

Jabal Nur mengandung arti bukit yang bercahaya, sebuah tempat suci bagi ummat Islam untuk mempersembahkan harga dirinya menyatu pada keilahian. Proses penyerahan diri kepada Tuhan agar mendapatkan martabat yang mulia disisi Tuhan.

” Jabal Nur ” dalam tulisan ini, meminjam akronim yang dibuat oleh Mas Wawan, Merupakan kepanjangan dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Jawa itu terdiri dari Jakarta, Jawa Barat, Jogja dan Jawa Timur. Sejarah kebangkitan bangsa telah dimulai dari Jawa Barat, bagaiman Aher Sang Gubernur tak mau mengeluarkan ijin kawasan penjajahan ” Meikarta “, Begitu juga Jakarta, dengan Sang Gubernur Anis Baswedan, telah membuktikan perlawanannya terhadap penjarahan laut untuk direklamasi menjadi kawasan, Anis telah membuktikan mampu merebut kembali kawasan yang terjarah. Begitu Juga dengan Jogja, dengan keberanian serta tanggung jawab perlindungan terhadap rakyatnya, Sultan melarang asing memiliki tanah di Jogja. Lalu dengan Jawa Timur, apa yang sudah dilakukan? Bersama Aher dan Sultan Hamengku Buwono, Pak Dhe Soekarwo, menggagas rujuknya kebudayaan Sunda Jawa sebagai perwujudan bersatunya kembali persaudaraan Indonesia sebagai bangsa. Gagasannya luar biasa, meski dalam penerapannya masih menemui cela. Selanjutnya Bali sebagai pulau surga, Pemerintahnya mampu merawat keorisinilan budayanya meski ditengah serbuan pengaruh budaya asing yang merajalela. Nusa Tenggara Barat, Kita melihat sosok Gubernur muda nan cerdas yang sangat relegious, begitu Juga dengan Nusa Tenggara Timur, yang sudah mulai berani bertanya tentang arti nasionalisme dan perlindungan rakyat.

Nah sejatinya merangkai Jawa dengan Jakarta, Jawa Barat, Jogja dan Jawa Timur, Merupakan sebuah simbol kembalinya martabat dan harga diri bangsa. Karena disanalah terlihat pola Indonesia yang elok, Nasionalis dan Agama. Membangun Indonesia kedepan, Indonesia yang berdaulat, Indonesia yang bermartabat, tidak bisa tidak, harus mempertemukan kembali pemimpin yang berhalauan Nasionalis dan Agama, Tanpa itu Indonesia akan ternista.

Saya masih meyakini bahwa fajar akan selalu terbit dari timur. Semoga saja siapapun yang akan menjadi pemimpin Indonesia, maka Jakarta, Jawa Barat, Jogja dan Jawa Timur adalah sebuah keniscayaan munculnya fajar baru untuk Indonesia.

” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik “. ( Q. S. Ali Imraan : 110 )

Semoga saja kita bisa menjadi bangsa yang bermartabat dengan menemukan pemimpin yang nasionalis dan berjiwa agamis. Perpaduan keduanya adalah Nakhoda yang akan membawa kapal besar bangsa yang bernama Indonesia menjadi bangsa yang punya harga diri dan martabat.

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat beraktifitas dengan memperteguh kebaikan dan kemulyaan.. Aamiien.

 

Penulis : M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Pembelajar kebudayaan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top