Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Harapan Itu Ada Lagi

Harapan Itu Ada Lagi

Rabu ( 4/7/2018 ) saya diminta mendampingi Kepala Dinas Pendidikan Jatim Cabang Surabaya,  Karyanto. Hari itu akan ada warga yang sampai saat ini masih belum merasa puas dengan layanan PPDB  yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jatim.

 

Sekitar 50 an warga yang mengadukan persoalan putra putrinya yang belum lolos dalam seleksi penerimaan siswa baru. Mereka ada yang dari jalur prestasi,  mitra warga dan ada yang inklusi. Rata rata yang disampaikan oleh warga adalah mengapa anaknya tidak lolos,  padahal anaknya berprestasi, ada juga yang mengatakan anak saya nilainya baik mengapa kok tidak bisa diterima di Sekolah negeri dan banyak lagi hal yang diungkap beekaitan dengan kinerja sistem dan zonasi.

 

Karyanto dengan seksama mendengarkan apa yang disampaikan oleh walimurid. Setelah selesai semua,  maka dilakukan tanggapan atas masukan yang diberikan oleh walimurid. Karyanto memulai dengan ucapan terima kasih atas berkenannya warga hadir di Dinas Pendidikan Jatim,  dan terima kasih atas segala  masukannya.  Namun apa yang disampaikan  oleh  bapak ibu sekalian harus diurai satu persatu,  agar ketemu akar masalahnya. Misalnya kalau kesalahan di sistem,  maka sistem akan dilakukan perbaikan agar tidak merugikan masyarakat. Kalau persoalannya  biaya bila sekolah di swasta,  maka akan dicarikan jalan keluarnya. Hal yang  paling  penting  adalah janganlah semua memaksakan harus sekolah di negeri,  masih banyak sekolah swasta yang tidak kalah baiknya dengan negeri. Sehingga semua bisa berlapang dada,  maka persoalan pendidikan bisa diurai.

 

Meski sempat  memanas dengan pernyataan  pernyataan keras peserta aksi,  saya dan Pak Karyanto  mencoba memahami apa yang menjadi keinginan para orang tua walimurid tersebut. Untungnya juga pada pertemuan yang di dampingi  oleh Komunitas Bambu Runcing Surabaya  ( KBRS ) tersebut, Wawan dan Nashir serta dibantu oleh yang lainnya,  terlihat Candra,  Krewol,  Cak San , Frente dan yang lainnya,  yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu,  suasana bisa diredam dengan baik,  karena Wawan menegaskan akan dibantu mengkomunikasikannya kalau memang data yang disebutkan  itu ada, setelah itu akan dikomunikasikan dan beri kesempatan  Dinas pendidikan Jatim untuk mempelajari dan memberi jawabannya. Rupanya warga setuju dengan tawaran tersebut,  dan pertemuan ditutup dengan berjabat tangan.

 

Tidak Selalu Swasta Kalah Dengan Negeri

 

Bagi saya pendidikan itu bukan hanya persoalan negeri atau swasta,  apalagi ditingkat pendidikan dasar dan menengah. Selama  selalu ada anggapan bahwa negeri lebih baik dibanding swasta,  swasta lebih mahal dan sebagainya.

 

Pendidikan itu berkaitan dengan proses dan kenyamanan anak belajar,  pendidikan itu bukan sekedar keinginan, apalagi  hanya keinginan  orang tua. Pendidikan harus dipahami sebagai sebagai persiapan menghadapi  masa depan. Sehingga cara berpikir feodal yang  selalu beranggapan negeri lebih baik dari swasta harus sudah mulai ditinggalkan. Bisa dibayangkan kalau semua berharap pada sekolah negeri,  lalu dengan segala  cara berupaya memaksakan kehendaknya untuk masuk sekolah negeri,  apa jadinya pendidikan negeri?

 

Sudah saatnya kita semua berani melihat keluar,  bahwa masih banyak pendidikan yang baik meski  bukan sekolah negeri . Pendidikan baik itu harus diukur dari sejauh  mana pelayanan yang diberikan mengedepankan  kepentingan terbaik anak. Mengedepankan kurikulum berdasarkan kebutuhan perkembangan  anak, serta seperti  apa kepedulian  guru terhadap  pengembangan kompetensi anak.

 

Hal yang terpenting  juga layanan pendidikan kepada inklusi,  adik adik kita dari kelompok  disabilitas,  berharap pada pendidikan formal inkkusi barangkali akan menyulitkan  mereka berkembang,  ada baiknya pemerintah membantu membangun  sekolah sekolah vokasi bagi mereka,  meski harus non formal,  bagi mereka yang terpenting  adalah mereka bisa belajat dan tidak menyulitkan mereka menuju tempat  belajar tersebut.

 

Masyarakat sudah berbuat dengan caranya,  tinggal sekarang bagaimana  orang tua mau merubah mindsetnya bahwa sekolah baik ada dimana saja,  ketika semua dianggap baik,  maka janganlah memaksakan kehendak harus sekolah di negeri.  Anggapan bahwa sekolah swasta lebih mahal dari negeri,  ternyata tidak semuanya benar. Tengoklah sahabat sahabat saya yang sudah berbuat dengan sekolah model mereka,  baik formal maupun non formal,  mereka adalah orang orang yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan,  dan hasilnya sudah terbukti tak kalah dengan  sekolah negeri. Sekali sekali tengoklah  mereka didalam karyanya.  Selamat berkarya kawan kawan terbaik saya di Ojo Leren Dadi Wong Apik ( OLD WA)

 

Assalamualaikum  wr wb,  selamat berkarya  untuk pendidikan anak anak indonesia,  semoga kita semua diberkahi Allah,  aamien.

 

Surabaya,  4 Juli 2018

 

  1. Isa Ansori

 

Sekeretaris LPA Jatim,  Anggota  Dewan Pendidikan Jatim,  Staf Pengajar Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malan

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top