Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Fenomena Cyberbullying

Fenomena Cyberbullying

Ilustrasi children who cyberbully

Oleh : Nadiyah Aulia Nur Rachmah
Mahasiswa Universitas Islam Malang,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Cyberbullying atau biasa dikenal dengan tindakan penindasan dalam dunia maya kini marak terjadi di Indonesia. Cukup banyak yang menjadi korban dari tindakan penindasan ini. Korbannya bisa jadi anak remaja bahkan orang dewasa juga bisa jadi korban, motif dan tujuan pelaku tidak lain karena kesal, marah dan ingin balas dendam pada korban. Tidak jarang juga hanya karena ingin main-main saja.

Tindakan dari pelaku dilakukan dengan cara mempermalukan korban, menjelek-jelekkan korban, menyebar aib korban, menyebar fitnah. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini para pelaku mudah untuk melakukan tindakannya dengan cara menyebarkan berita-berita yang tidak terbukti kebenarannya yang pada dasarnya masyarakat kita pun gampang termakan oleh berita-berita tersebut.

Jika tindakan penindasan tersebut dilakukan setiap hari, maka bisa mengganggu kondisi mental psikologis korban, karena korban merasa bahwa ia dikucilkan semua orang, dihina semua orang, dan disebar aibnya sampai akhirnya korban merasa depresi dan tidak kuat lagi menahan beban hidup yang ia jalani karena menjadi korban penindasan. Para pelaku tidak mengerti bahwa penindasan dalam dunia maya ini lebih kejam daripada penindasan langsung dalam dunia nyata.

Menurut pandangan saya tindakan penindasan ini termasuk dalam suatu kejahatan tidak langsung yang dapat berakibat sangat fatal yakni dapat membuat korban kehilangan nyawanya. Para korban bisa melaporkan kasus tersebut dengan undang-undang yang berlaku. Tindakan penindasan merupakan suatu tindakan yang melawan norma-norma yang berlaku dimana para pelaku penindasan bisa dipidanakan dengan alasan pencemaran nama baik, di Indonesia sendiri sudah ada undang undang tentang pencemaran nama baik yakni tercantum dalam pasal 27 ayat 3 tentang UU ITE.

Para pelaku penindasan tersebut hanya menginginkan agar dirinya diperhatikan lebih, pelaku penindasan biasanya merasa bahwa identitasnya tidak akan terbongkar dan orang-orang pun tidak akan mengetahui siapa dirinya, jika para korban semakin menanggapi maka pelaku merasa senang dan semakin menindas karena keinginannya untuk ditanggapi telah terwujud.

Dikutip dalam salah satu media terdapat survey yang menyatakan bahwa 49% netizen Indonesia pernah mengalami penindasan dan beberapa persen diantaranya tidak memperdulikannya. Sampai saat ini kira-belum ada korban di Indonesia yang sampai bunuh diri. Di luar negeri ada beberapa korban yang sampai memakan nyawa contohnya adalah Katie Webb, gadis berusia 12 tahun ini tewas karena gantung diri dirumahnya di Evensham, Worcestershire, Inggris. Menurut petugas, tak ada tanda-tanda yang mencurigakan dengan kematian gadis ini. Namun dalam penyelidikan terungkap dari teman-temannya, diketahui Katie menjadi bulan-bulanan di media sosial karena gaya rambut dan pakaiannya yang tidak bermerk. Dalam contoh tersebut jelas dibuktikan bahwa dengan hal yang menurut kita sepele bisa berakibat sangat fatal bagi korban.

Maka, dengan adanya kasus di atas bisa menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa kejahatan tulisan bisa lebih kejam daripada lisan. Jadi, kita harus bijak dalam menentukan sebuah komentar dan sebelum berkomentar sebaiknya kita berfikir dahulu apakah komentar yang kita buat sudah tepat atau belum, supaya tidak berdampak buruk dan merugikan siapapun.

Sekian opini dari saya mengenai fenomena cyberbullying yang marak terjadi saat ini. Apabila ada kekeliruan penulisan dalam opini yang saya tulis, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Jika para pembaca ingin menambahkan atau memberi masukan serta kritikan saya akan menerimanya dengan ikhlas dan dengan kritikan tersebut saya berharap untuk kedepannya saya bisa jadi seseorang yang lebih baik lagi. (Red)

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top