Anda berada di :
Rumah > Artikel Dan Opini > Bersekolah Tapi Tak Terdidik

Bersekolah Tapi Tak Terdidik

Apa yang ada dibenak orang tua kita dahulu ketika mengirimkan anak anaknya di lembaga pendidikan yang bernama sekolah atau yang sejenisnya.  Saya yakin bahwa orang tua kita berharap agar anak anaknya kelak bisa menjadi manusia yang sukses dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri serta keluarga dan lingkungannya. Seringkali juga terdengar oleh kita,  ungkapan –  ungkapan di masyarakat ” oh nggak pernah makan sekolahan ” yang  ditujukan kepada siapapun yang dianggap melanggar tatanan dan norma yang berlaku.

 

Ada harapan yang begitu besar dari masyarakat kepada lembaga pendidikan yang bernama sekolah dan sejenisnya,  bahwa siapapun yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga persekolahan maupun sejenisnya diharapkan mampu membawa perilaku yang baik dan sesuai dengan norma yang berlaku.

 

Seiring dengan perkembangan zaman, makna sekolah dan pendidikanpun kemudian memgalami pergeseran. Sekolah tidak begitu lagi fokus pada konsep menyeluruh perubahan sikap, perilaku dan perubahan pikir, sebagaimana Bloom uraikan, namun sekolah hanya fokus pada perubahan fikir. Sekolah kita menjadi kehilangan ” Ruh ” nya,  karena esensi dari sekolah diharapkan bahwa anak didik tidak hanya  cakap berpikir saja,  tetapi juga cakap dalam berperilaku dan bersikap. Sekolah kita seolah menjadi industri yang mencetak ” robot “.

 

Protes terhadap lembaga persekolahanpun menyeruak,  sebagaimana Ivan Illich sampaikan dengan gagasannya ” De Schooling “. Protes terhadap ketidakmampuan lembaga persekolahan menghasilkan  lulusan yang kompeten dalam berperilaku dan bersikap. Lahirlah kemudian gagasan sekolah  jangan hanya diartikan  sebagai gedung dan ruang,  sekolah harus dimaknai sebagai  ” space ” , dimanapun kita bisa belajar melangsungkan proses proses pendidikan.

 

Gagasan Ivan Illich sejatinya menginkan pendidikan itu mengembalikan manusia kepada kodratnya sebagai mahluk sosial , mahluk yang bisa menyemai kebaikan didalam lingkungan dimana dia berada. Ada harapan melalui gagasan ini,  manusia yang mengalami proses belajar di lembaga persekolahan atau sejenisnya mengalami sebuah proses kesadaran berubah ke arah yang lebih baik,  yang saya sebut sebagai proses pendidikan.

 

Pendidikan kita era tahun 80 an sampai sekarang mengalami pergeseran orientasi, apalagi kemudian nilai kelulusan ditentukan oleh hasil  yang didapatkan melalui  ujian nasional,  sehingga proses proses yang dilalui selama  kurun waktu berjalan menjadi tidak bermakna ketika nilai ujian tidak memenuhi standar kelulusan. Disorientasi inilah yang kemudian seringkali terjadi penyimpanan  perilaku yang dilakukan oleh mereka mereka yang sedang menjalani proses pendidikan baik disekolah maupun diluar lembaga persekolahan. Tragedi sampang,  terbunuhnya guru budi oleh muridnya,  pemukulan kepala sekolah SMPN di Selok Sulawesi Utara,  serta tawuran pelajar ditambah lagi banyaknya deretan pejabat yang tertangkap KPK, semakin menambah buram catatan pendidikan kita. Belum lagi cara berperilaku sebagian  kita dijalanan,  saling kebut kebutan,  membahayakan pengguna jalan yang lain,  budaya yang tak tertib,  saling serobot,  saling serapah dijalan,  ketika terjadi ketersinggungan,   ini juga merupakan deret buram pendidikan kita,  betapa menunjukkan  bahwa tidak selalu mereka yang pernah mengalami sekolah, otomatis mereka kemudian menjadi terdidik.

 

Apa Yang Mesti Dilakukan?

 

Ditengah pergulatan zaman yang semakin  cepat dan semakin terbuka,  perubahan orientasi pendidikan mesti segera dilakukan,  mengembalikan kebutuhan pendidikan pada kebutuhan manusia  sebagai mahluk sosial,  mahluk yang bisa bermanfaat bagi  yang lainnya. Pengembalian orientasi kemanfaatan akan memberi rasa tanggung jawab kepada siapapun yang merasa mendapatkan manfaat dalam menjalani proses proses pendidikan yang pernah dijalani. Nah ukuranya tidak lagi pada gelar apa yang saya dapatkan,  tetapi  apa yang bisa saya sumbangkan untuk negara dan masyarakat serta agama demi kebaikan dari gelar dan proses pendidikan yang saya alami. Pengembalian orientasi itu juga akan bermakna sebagai  perwujudan dari kebutuhan aktualisasi kemanusiaan,  sehingga aktualisasi itu akan menjadi sebuah penghormatan dan penghargaan terhadap kemanusiaan.

 

Darimana memulainya?

 

Sebagaimana yang diperbincangkan saat ini dengan ” The Heutagogy in Action ” dimana kebutuhan pendidikan lebih diarahkan pada kemampuan menyerap nilai nilai yang melalui dengan apa yang disebut sebagai ” Self Determined Learning “, dimana kesadaran nilai akan mampu diserap oleh mereka yang melakukan pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi pusat dalam belajar,  yang ada adalah  murid menjadi subyek dari sebuah proses belajar dengan menggunakan tehnologi yang mampu  mengirim sinyal pengetahuan dan peradaban yang ada. Sehingga dalam rangka membangun tanggung jawabnya selama berproses menjadi subyek belajar,  guru  wajib membuat ” agrrement ” bersama murid dan orang tuanya kalau perlu,  dalam menentukan apa yang boleh dan tidak serta apa yang menjadi sebuah kesepakatan keberhasilan dalam belajar. Dengan kesepakatan itu diharapkan semua mempunyai tanggung jawab dan tidak saling menyalahkan.

 

” Respect and Responsibility ” begitulah  Lyckona menyebut. Ditengah arus peradaban  yang saling bertabrakan seperti  ini,  maka membangun kesadaran menghormati dan mengapresiasi  serta  bertanggung jawab adalah sebuah keharusan. Oleh karenanya mendidik anak anak yang diindikasikan sebagai generasi Z, generasi 4.0, maka menggunakan pendekatan memanusiakan mereka, dengan membiasakan mengajak mereka menyusun  kebutuhan kebutuhan yang ingin didapatkan dalam sebuah proses belajar di persekolahan akan mengajarkan kepada mereka sebuah sikap bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri  dan akan menghormati apa yang menjadi pilihan orang lain. Pembiasaan kegiatan positif disekolah bisa jadi merupakan langkah praktis memulai membangun sikap yang bertanggung jawab anak anak kita. Semoga  saja!

 

” Didiklah anak – anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka  tidak akan pernah  hidup di zamanmu ” ( Ali Bin Abi Thalib )

 

 

 

Penulis : Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan,  Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA  ) Jatim,  Anghota Dewan Pendidikan Jat

Bagikan Ini, Supaya Mereka Juga Tau !

Tinggalkan Komentar

Top